3. Surat Kontrak
Mobil mewah berwarna hitam itu terhenti di pelataran parkir sebuah gedung pencakar langit. Monika segera digiring menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai paling atas.
"Untuk apa kalian mengawalku? Aku tidak akan lari!" ketus Monika karena kelima pria berdiri mengelilinginya, seolah dia bisa lari kapan saja. Padahal tidak mungkin. Dia bahkan buta arah sekarang, tidak tahu di mana dia berada.
Hening.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Tubuh tegapnya bagaikan manekin, tak bergerak sejak mereka sampai di ruangan tak berpenghuni ini.
"Selamat datang, Nona Monika Alexandra." Sebuah suara terdengar menggema, bersamaan dengan pengawalan kelima orang yang otomatis memudar. Mereka undur diri, menjauh dari Monika yang masih diam dalam keterkejutannya.
Mata sipitnya membola saat melihat pemandangan luar biasa di depan sana. Sebuah pintu terbuka lebar, menampilkan sesuatu yang membuatnya tak percaya.
Tubuhnya bergetar hebat saat itu juga, mengabaikan pria yang asik mengamatinya dari belakang. Hatinya mencelos, melihat sesosok pria yang sangat dibencinya kini tergeletak di lantai dengan luka mengenaskan di tubuhnya. Darah yang mulai mengering terlihat di keningnya, mengalir melalui pelipis sampai ke samping wajahnya.
"PAPA!" teriak Monika, berlari menghampiri Jonathan Wu yang tengah sekarat. Bulir-bulir air mata tak terbendung lagi dari mata indahnya. Sebesar apapun kebenciannya pada pria ini, tak bisa memusnahkan cinta kasih yang terhubung karena pertalian darah. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih menyayangi ayahnya.
"Monika," bisik Jonathan dengan kesadaran yang tersisa. Keinginan terakhirnya benar dikabulkan oleh Rio, yakni bertemu dengan putrinya. Suaranya lemahnya hampir tak terdengar. Tapi, seulas senyum terukir di bibirnya. "Maafkan Papa, Nak."
Monika menggelengkan kepala sekuat tenaga. Dia tidak akan memaafkan kesalahan ayahnya jika yang diucapkan adalah kata terakhir dalam hidupnya. Namun, tak ada yang bisa membantah jika takdir Tuhan berbicara. Semua sudah tertulis.
Detik berikutnya, mata itu terpejam. Nyawa Jonathan Wu telah meninggalkan raganya yang babak belur penuh luka. Episode hidupnya telah berakhir hari ini, menyisakan lara di dalam hati putrinya.
"Papa!" Monika berteriak histeris. Dia tidak bisa menerima fakta bahwa pria ini telah meninggalkannya, menyusul ibunya ke alam baka.
Dengan setulus hatinya, dia memeluk tubuh Jonathan yang mulai terasa dingin. Apa yang terjadi tidak pernah terduga. Monika berharap semua hanya mimpi. Tidak benar-benar nyata.
Hingga menit-menit berlalu, tangis Monika saja yang menggema di ruangan ini. Tak ada yang peduli.
"Hapus air matamu! Aku tidak ingin cairan itu mengotori lantai."
Suara dingin kembali Monika dengar, membuatnya menoleh ke belakang. Tatap mata tajam penuh kebencian tertuju pada pria berpakaian rapi yang berdiri angkuh, beberapa langkah dari tempatnya berada.
"Siapa pria ini? Apakah masih layak disebut manusia jika tidak iba saat melihat seseorang meregang nyawa di depannya?" batin Monika bergumam.
"Leo, siapkan kontraknya!"
Belum sempat Monika menghapus air mata, pria berpakaian hitam yang tadi mengemudikan mobil yang membawanya kemari, muncul di balik pintu. Di tangannya terdapat satu stopmap warna merah menyala.
"Bangun!" Suara dingin itu kembali menggema, menyuruh Monika untuk berdiri dari tempatnya memeluk mayat yang semakin memucat.
"Nona Monika, silakan," ucap Leo dengan nada bicara yang lebih bersahabat dibandingkan atasannya. Dengan isyarat tangannya, dia meminta Monika duduk di salah satu kursi yang ada seperti perintah tuannya.
Monika masih terpaku di lantai, enggan meninggalkan ayahnya di sana. Tidak. Dia tidak ingin pergi barang sejengkal pun.
"Nona ...." Leo tampak gusar. Entah kenapa wajahnya tampak khawatir, seolah berada dalam pilihan antara hidup dan mati. Dia mendekat dan berjongkok di depan Monika.
"Nona Monika Alexandra, silakan menghadap Tuan Muda. Jangan sampai membuatnya murka atau nyawa Anda taruhannya!"
Monika menelan ludahnya dengan paksa. Nada bicara Leo sama seperti saat di mobil tadi, penuh penekanan, membuatnya ketakutan.
"Tapi ...." Monika menatap wajah keturunan Chinese yang ada di pangkuannya. Mana tega dia meletakkan jasad ayahnya di lantai begitu saja. Sudah cukup putus hubungan mereka selagi Jonathan masih hidup. Sekarang, Monika masih ingin memeluk tubuh ayahnya untuk yang terakhir sebelum dikebumikan.
"Mari," bujuk Leo dengan nada merendah.
Dengan berat hati, Monika ikut bersama pria ini setelah mencium kening ayahnya. Dia mendekat ke arah makhluk lain yang sedari tadi mengamatinya. Sekali lagi, Monika menatap ke belakang. Tidak sampai hati meninggalkan sang ayah.
"Anak yang sangat berbakti," cibir pria yang duduk terhalang meja dari Monika dan Leo. Dia berdiam di singgasana miliknya dengan sikap jemawa.
Monika tak menggubris ucapan pria ini. Dia tidak peduli dengan omongan orang lain. Entah apa komentar mereka, Monika berhak untuk menutup mata dan telinga. Dia memang menyayangi ayahnya.
"Berikan kontraknya!" titah Rio sambil memperhatikan penampilan Monika dari ujung kaki ke ujung kepala. "Tidak buruk," selorohnya tanpa diminta.
"Silakan duduk, Nona." Lagi-lagi Leo yang menjadi penghubung pria arogan ini dengan Monika.
Monika menurut, tak pernah berpikir untuk memberontak. Dia duduk di salah satu kursi kosong di hadapan pria angkuh tadi. Papan nama di atas meja bertuliskan Rio Dirgantara.
"Nona Monika, silakan baca kontrak ini. Setelahnya silakan bubuhkan tanda tangan atau cap jempol Anda di sana." Leo mulai menjelaskan. "Tuan Rio menjabat sebagai CEO di sini. Dia menginginkan kasus ini diselesaikan dengan damai. Setelah Anda menandatanganinya, ayah Anda akan dibebaskan dari semua kesalahan yang telah dilakukannya."
Monika menatap dua pria di depannya secara bergantian sebelum membaca rentetan huruf di atas kertas. Di kontrak itu disebutkan bahwa Monika harus menikah dengan Rio atau mengganti uang dua miliar rupiah yang dihilangkan Jonathan. Jika tidak, masalah ini akan dilimpahkan pada pihak berwajib.
"Kenapa saya harus menandatangani dokumen ini? Semua urusan keuangan ayah saya dipegang oleh ibu tiri saya, istri sahnya yang sekarang." Monika mengumpulkan keberaniannya. Otak cerdasnya segera bekerja, mencari solusi terbaik. "Jika Anda ingin meminta ganti rugi atau semacamnya, temui saja dia. Saya tidak akan menandatanganinya."
Rio tersenyum pongah menatap wanita cantik yang membuatnya tertarik. Dia salut akan keberanian yang Monika tunjukkan di depannya. Jujur saja, hatinya bergetar saat melihat wajah ayu perpaduan Indonesia-Inggris ini. Ada sedikit sentuhan Chinese di sana. Sebagai laki-laki normal, hasrat liarnya bahkan mulai aktif, membayangkan bisa mencicipi bibir berwarna peach milik Monika.
"Tuan," panggil Leo, mengerutkan kening saat melihat tuannya diam saja sambil tersenyum tanpa sebab.
Rio mengumpat dalam hatinya. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin memiliki wanita ini lebih dari apapun. Kecantikannya yang tiada tara, tidak pantas bersanding dengan pakaian kasir minimarket yang menempel di tubuhnya.
"Siapkan gaun untuknya!" titah Rio tanpa sadar. Dia sungguh tidak mendengar penolakan Monika barusan. Imajinasinya mengambil alih, menyingkirkan logika yang seharusnya bicara.
Dalam bayangan Rio, tubuh Monika lebih pantas memakai gaun seperti bayangannya. Pakaian itu akan membuat seluruh bahunya terekspose.
"Maaf?" Leo tidak yakin dengan apa yang tuannya katakan. Mereka tengah membujuk Monika untuk menandatangani kontrak sebagai bentuk pertanggungjawaban uang yang Jonathan hilangkan, bukan membahas fashion atau semacamnya.
Pikiran liar Rio semakin menggila. Dia menelan ludahnya dengan paksa melihat kecantikan calon istrinya.
"Kemarilah, Sayang." Lagi-lagi Rio bermonolog, belum tersadar dari imajinasinya sendiri.
"Dasar gila!" ketus Monika. Dia berdiri detik ketika Rio masih berbicara. "Liar!" ketus Monika berapi-api. Kemarahan menyapanya, merasa dilecehkan oleh pandangan Rio barusan.
"Tuan?!" Leo menggoyangkan lengan tuannya, membuat lamunan pria itu terhenti seketika.
"Apa?" tanya Rio dengan wajah tanpa dosa. Dia tidak menyadari keberadaan Monika yang tak ada lagi di hadapannya. Gadis itu beranjak, kembali mendekat ke arah jasad ayahnya.
Leo menunjuk surat perjanjian yang masih utuh di atas meja, belum ada tanda persetujuan dari Monika sama sekali. Bahkan wanita itu berjongkok di depan mayat ayahnya, berusaha memangku pria itu seperti semula.
Tentu saja Rio marah setelah menyadari penolakan Monika. Matanya berkilat tajam penuh dendam.
