
Ringkasan
Warning! 18+ "Pak, hentikan!" Monika menahan dada bidang Rio, menyadari situasi yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka berdua. "Kenapa? Kamu sudah tidak sabar, heh?" Monika menggeleng cepat. Bukan itu maksudnya. "Dua miliar! Aku akan berhenti jika kamu bisa mengembalikan uang dua miliar yang ayahmu hilangkan. Bagaimana?" Pernikahan seharusnya menjadi hal paling membahagiakan bagi seorang wanita. Bersanding dengan pria yang akan dilihat seumur hidup dan menjalani hari-hari penuh cinta. Namun, tidak berlaku bagi Monika. Gadis 26 tahun itu terpaksa menikah dengan seorang pria kasar dan arogan bernama Rio Dirgantara. Dia harus menanggung kesalahan ayahnya yang membawa kabur uang perusahaan. Bagaimana gadis lemah itu akan bertahan? Bisakah dia melepaskan diri dari jerat CEO tampan yang menyimpan dendam kesumat pada ayahnya?
1. Prolog
"Hentikan!" Monika menahan dada bidang Rio, menyadari situasi yang tidak seharusnya terjadi diantara mereka berdua. Meskipun dia tahu kalau pria di hadapannya tidak bisa ditolak, tapi setidaknya dia harus mempertahankan harga dirinya. Pernikahan yang mereka jalani sama sekali bukan keinginannya. Termasuk kedatangannya ke tempat ini, lagi-lagi karena terpaksa.
"Kenapa? Kamu sudah tidak sabar, heh?"
Monika menggeleng cepat. Bukan itu maksudnya. Mereka ada di kantor, takut kalau ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan memergoki keduanya. Jarak mereka terlalu dekat, tidak layak dilihat orang lain. Tentu saja sikap yang akan Monika tunjukkan berbeda jika mereka ada di rumah atau kamar pribadi.
Melihat penolakan Monika, harga diri Rio merasa terluka, mulai membatinkan hal-hal yang menunjukkan kalau emosinya mulai tidak terkendali.
“Bagaimana bisa seorang kasir minimarket menolakku? Sebegitu sombongnyakah wanita ini? Akan kubuktikan kalau aku pasti bisa mendapatkannya.” Rio mendengus kesal.
"Dua miliar! Aku akan berhenti memaksa jika kamu bisa mengembalikan uang dua miliar yang ayahmu hilangkan. Bagaimana? Sanggup?"
Seringai menjengkelkan tampak amat jelas di wajah Rio. Pria itu merasa berada di atas awan. Untuk kaum ekonomi menengah ke bawah seperti Monika, tidak mungkin bisa melawan jika sudah berhadapan dengan uang. Kalau masih hitungan puluhan juta, mungkin mereka bisa mengusahakannya. Tapi dua miliar? Mustahil!
Monika menelan ludahnya dengan paksa, tidak bisa berkata-kata. Mana mungkin dia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Jangankan memilikinya, melihatnya saja belum pernah. Dia tahu Rio pasti sengaja mendesaknya dengan materi yang tidak dimilikinya.
"Kenapa diam? Tidak punya uang?"
Monika sudah membuka mulutnya, siap membantah. Namun, kenyataannya memang demikian. Hanya ada sedikit tabungan di rekeningnya. Sama sekali tidak bisa menandingi harga diri seorang Rio Dirgantara yang amat tinggi.
Di saat Monika masih bergelut dengan perasaannya, Rio merasa sudah menang telak. Dia mengangkat satu sudut bibirnya, meremehkan wanita yang kini diam tak berdaya dalam penguasaannya. Matanya menatap tajam, tidak mengizinkan wanita itu pergi dari hadapannya. Apa pun alasannya.
Monika bungkam. Lagi pula, percuma menjawab. Sudah jelas siapa yang akan memenangkan situasi kali ini.
“Dia diam? Sudah merasa kalah rupanya ....” Rio membatin, terus mengamati ekspresi wajah yang kini enggan menatapnya.
Hening menyelimuti ruangan. Baik Rio maupun Monika tak bersuara, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Rio memaku pandangannya pada hidup mancung dan mata indah istrinya. Ah, pahatan Tuhan yang begitu sempurna.
Tanpa diduga, bulir air tanpa warna luruh begitu saja di pipi Monika. Gadis itu putus asa. Dia tidak tahu bagaimana lagi menghadapi situasi ini. Tak ada solusi sama sekali. Dia cukup tahu diri untuk tidak memperburuk keadaan.
Rio terhenyak di tempatnya. Air mata yang luruh dalam senyap, seolah bisa meluluhkan keras hatinya. Hati kecilnya meronta, meminta sang pemilik untuk berhenti mempermainkan wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Terimalah pernikahan kita. Akui aku sebagai suamimu, ya?" bisik Rio sambil membenahi helai rambut Monika yang sedikit berantakan. Dia bisa lembut, berbanding terbalik dengan sikap kasar dan arogan yang dia perlihatkan sebelumnya.
Monika tak menjawab. Rasanya sulit menerima pernikahan yang tak pernah diinginkannya. Menggadaikan kebebasan kepada pria asing yang tidak dikenalnya sama sekali, rasanya tidak mungkin. Namun, dia juga cukup tahu diri Pada akhirnya Monika pasrah pada keadaan yang ada. Pikirannya kembali menghubungkan kejadian demi kejadian yang menimpanya. Ingatan itu berputar di kepala tanpa diminta.
Kemarin, beberapa pria berpakaian serba hitam datang ke minimarket dan membawanya dengan paksa. Dia harus setuju menikahi pria yang tidak dikenalnya untuk menyelamatkan jasad sang ayah. Hari ini orang-orang itu datang lagi, menjemputnya untuk dibawa ke perusahaan suaminya, tempatnya berada sekarang. Sebuah ruangan CEO yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.
"Kamu diam artinya setuju." Rio merasa menang. Arogansinya kembali datang, merasa hebat dan bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya.
Lagi-lagi matanya mengamati wajah Monika, tidak bisa menolak paras ayu perpaduan Asia dan Eropa.
"Cantik." Rio memuji, sejenak mengamati penampilan istrinya yang tetap bungkam seribu bahasa. Ini pertama kalinya dia tertarik pada wanita. Sebelumnya, menatap mereka saja membuatnya mual. Kelakuan wanita zaman sekarang membuatnya tidak suka, bergaya seperti ratu paling cantik di dunia dengan modal seadanya. Belum lagi sikapnya yang sama sekali tidak bisa dikatakan elegan. Sedangkan Monika, jelas dia begitu apa adanya. Rio suka.
Monika memejamkan mata, tak peduli pada apa yang akan Rio lakukan selanjutnya. Anggap saja sedang melunasi hutang ayahnya, itu yang tengah dipikirkannya dalam hati. Berurusan dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan bagai Dewa, membuatnya pasrah dan tak banyak menyela. Toh, akhirnya dia akan kalah juga.
Monika tertegun di tempatnya saat Rio pergi. Pernikahan mereka, menghancurkan semua rencana indahnya dengan sang kekasih, Devan Mahendra.
Pernikahan seharusnya menjadi hal paling membahagiakan bagi seorang wanita. Bersanding dengan pria yang akan dilihat seumur hidupnya, menjalani hari-hari penuh cinta. Namun, agaknya takdir indah tidak berlaku untuknya.
Monika Alexandra, wanita berusia 26 tahun yang harus menikah paksa dengan seorang CEO kasar dan arogan bernama Rio Dirgantara. Tidak ada pilihan lain. Dia harus menanggung kesalahan ayahnya yang kini telah tiada. Cerita hidupnya yang naik turun seperti menaiki wahana roller coaster dimulai di sini ....
