Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 : Kecewa

"Perihal perjodohan kita berdua, apakah kamu menyetujuinya?"

Ara sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mencerna maksud dibalik pertanyaan itu. "Jika kubalik pertanyaan itu padamu, apa jawabanmu?" tanyanya sebelum dirinya memberikan jawaban hatinya.

"Jujur, aku terpaksa menyetujui perjodohan ini," ucap Bimasakti berterus terang. "Orang tua kita mengatur perjodohan ini. Aku tidak bisa menolak karena aku tidak mungkin berdebat dengan mereka yang sudah berbeda alam. Jadi.. jujur padamu adalah solusinya."

Deg.

Terpaksa?! Napas Ara tercekat mendengarnya.

"Begini Ara, sebenarnya aku sudah punya kekasih," lanjut Bimasakti dengan tatapan menerawang, seolah sedang membayangkan wajah wanita yang dicintainya.

Ke-kekasih?!

Sekali lagi, jantung Ara serasa berhenti berdetak. Jadi Bimasakti sudah memiliki kekasih? Apakah Ara sudah terlambat untuk mendapatkan cinta pria yang sangat dirindukannya? Mata Ara semakin memanas mendengar kelanjutan pengakuan Bimasakti, calon suaminya.

"Aku akan berkata jujur padamu, Ara," ucap Bimasakti serius. "Aku sangat mencintai Selina, kekasihku, dan berniat menikahinya. Belum sempat melamarnya, aku mendapat berita kematian orang tuaku. Terpaksa aku meninggalkan kekasihku di Vancouver, bergegas mencari penerbangan ke Indonesia karena polisi menungguku untuk proses identifikasi."

Jeda.

Ara tetap menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak berkomentar, saat Bimasakti menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. Sekuat tenaga ditahannya air matanya yang sudah berebutan untuk mengalir, menghancurkan harapannya.

"Lalu setelah itu, aku mendapati diriku sudah dijodohkan denganmu. Entah kamu tahu atau tidak, alasan perjodohan kita ini. Tapi alasan yang kupahami adalah bahwa aku harus menikah denganmu agar donasi dari papamu ke panti asuhan Beloved tetap mengalir. Kuharap kamu tidak tersinggung karena perkataanku yang terus terang," ungkap Bimasakti blak-blakan panjang lebar.

Ara berusaha menerima kejujuran Bimasakti yang terdengar menyakitkan. Ketika hendak menjawab, Ara tak sanggup mengeluarkan suara, seolah ada batu besar yang mengganjal di tenggorokannya.

"A-aku mengerti," jawab Ara serak, meski dirinya tidak mengerti. Ternyata papanya menggunakan alasan 'DONASI' sebagai alat untuk mengikat Bimasakti agar mau dijodohkan dengannya.

"Syukurlah. Aku senang kamu mengerti posisiku saat ini." Bimasakti menghembuskan napas panjang, raut wajahnya terlihat lega.

Ara memaksakan diri tersenyum. "Se-benarnya aku juga sudah memiliki kekasih. Dan alasanku menyetujui perjodohan ini hanya untuk berbakti pada orang tuaku. Tidak lebih," ucapnya tegar untuk menjaga hatinya yang rapuh. 

"Baguslah. Karena kita sudah saling memahami, aku tidak perlu cemas lagi."

"Lalu.. apa rencanamu tentang perjodohan kita?" Ara bertanya dengan suara parau, menahan isak tangis dalam dadanya. Bimasakti, laki-laki yang ditunggunya seumur hidup, sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya. A-apa yang harus dilakukannya sekarang? Meneruskan perjodohan dan terluka, atau ikhlas melepas Bimasakti untuk melihatnya bahagia dengan wanitanya?

Tidak.

Kepala Ara menggeleng samar. Bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang telah dewasa, membuat Ara bahagia sekaligus patah hati. Hatinya langsung menyadari, bahwa ternyata bukan Bimasakti dewasa yang diinginkannya, melainkan pemuda tanggung yang lembut dan penuh perhatian di masa lalunya. Tapi meskipun begitu, hati Ara tidak bisa dibohongi. Sekali lagi, Ara jatuh cinta pada sosok Bimasakti.

"Aku menawarkan kontrak pernikahan," kata Bimasakti hati-hati. "Asalkan donasi ke panti asuhan Beloved tetap mengalir selama tiga tahun, maka aku akan menjadi suamimu selama itu juga. Dalam kurun waktu tiga tahun, aku akan bekerja keras memenuhi kebutuhan panti, serta melobi beberapa orang kaya untuk mau menjadi donatur."

"Dan.. setelah itu?" Ara memandang Bimasakti tanpa daya. Ya Tuhan, pernikahan kontrak?! Apakah saat ini dirinya sedang terjebak dalam sebuah sinetron dan novel picisan yang penuh intrik?!

"Setelah itu, kita akan bercerai," ucap Bimasakti mantap tanpa keraguan. "Masalah dana ke panti asuhan Beloved terserah padamu. Kamu boleh meneruskannya atau memutuskannya. Aku tidak akan mempersulitmu."

Ce-cerai?!

Ara tertegun syok, mendengar Bimasakti begitu mudahnya mengatakan 'cerai'. Bagi Ara, pernikahan adalah sakral, sebuah perjanjian suci di hadapan Tuhan, sementara Bimasakti terkesan menyepelekan sebuah janji pernikahan. Ya memang bagi Bimasakti, Ara bukan wanita pilihannya, tetapi..

"Jika.. aku menginginkan seorang anak, bagaimana?" Ara ingin tahu, bagaimana sikap Bimasakti, memenuhi harapannya atau..

Bimasakti hendak menjawab spontan, namun langsung menutup mulutnya kembali. Manik mata Bimasakti memandang Ara, mencoba memahami apa yang sebenarnya diinginkan calon pengantin kontraknya.

"Ara, kamu bilang sudah punya kekasih kan?" 

Ara termangu, memandang nanar pria yang duduk di depannya, sebelum akhirnya mengangguk ragu.

"Pernikahan kita hanya formalitas, hanya status diatas kertas, Ara." Bimasakti tersenyum sabar memberikan pengertian pada calon pengantinnya. "Jika kita memiliki anak bersama, berarti akan terjadi kontak fisik. Apa.. kamu serius ingin memberikan milikmu yang paling berharga itu padaku? Bagaimana dengan kekasihmu kelak setelah kita bercerai? Tidakkah kamu ingin melakukan pengalaman pertama itu bersama orang yang kamu cintai?"

Ara memalingkan wajahnya, tidak sanggup memandang Bimasakti. Hati Ara menjerit ingin mengaku bahwa Bimasakti adalah kekasihnya, tetapi tidak sanggup mengatakannya. Semua pengakuan hanya bergemuruh bak badai dalam dirinya.

Ara mengerjakan mata, menghalau air mata yang mendadak berkumpul. Sekali lagi, Ara terpaksa mengangguk pasrah dengan keputusan Bimasakti, calon suaminya. Pria itu ingin menjaga jarak dengannya, tidak mau menyentuhnya secara fisik. Ara tidak bisa menebak maksud Bimasakti menjaga pernikahan kontrak ini tetap dalam hubungan platonis. Entah, karena Bimasakti yang tidak suka padanya atau pria itu ingin menjaga perasaan kekasihnya.

"A-ku mengerti," jawab Ara lirih. Kepalanya menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. "Kuharap aku bisa memberikan alasan pada papaku jika beliau menginginkan seorang cucu dari pernikahan kita."

Deg.

Mendengar ucapan Ara, Bimasakti mengusap tengkuknya dengan gelisah. Benar kata Ara, mana ada orang tua yang tidak menginginkan cucu? Bagi Bimasakti mungkin tidak jadi masalah karena orang tuanya sudah meninggal dunia, namun lain halnya dengan keluarga Ara yang sudah pasti akan menuntut dan merecoki perihal cucu.

Bimasakti sama sekali tidak tahu harus menjawab apa. Tatapannya berpendar liar, takut membalas tatapan Ara yang penuh harap padanya.

AAARRGGHH...

Bimasakti menjerit frustasi dalam hati. "Sudahlah, jangan dipikirkan sekarang, kepala gantengku bisa botak mendadak."

"Bima, boleh aku bertanya satu hal?" 

"Tentang?" Bimasakti memperhatikan raut wajah Ara yang sedikit gugup.

"Apakah.. selama kita menikah, kamu akan menemui kekasihmu?" Ara kembali bertanya detail, seolah semuanya harus diperjelas di awal hubungan.

Bimasakti menggigit bibir bawahnya, memikirkan jawaban yang tepat. Ditatapnya Ara yang sedang menantikan jawabannya. Bagaimanapun perasaannya, Bimasakti bukan seorang bajingan. Ada banyak hati yang perlu dijaganya. Hati Ara, calon istrinya dan Selina, kekasih jiwanya.

Dengan hati-hati, Bimasakti menjawab, "Aku akan menemui Selina, dengan seizinmu. Sebaliknya, aku juga akan memberi izin jika kamu ingin bertemu dengan kekasihmu."

Tidak tahu harus berkata apa lagi, Ara menjawab dengan berat hati, "Oke, aku setuju menikah kontrak denganmu."

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel