Bab 4 : Bertemu lagi
"Nona Ara, perkenalkan. Ini Bimasakti Purnama." Surya memperkenalkan keduanya. "Bima, ini adalah Nona Ara Andromeda."
Deg..
Jantung Ara tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Kelopak matanya memanas, membuat Ara buru-buru mengerjap agar cairan bening dari sudut matanya tidak jatuh. Terharu dan bahagia tidak terkira dirasakan Ara, ketika akhirnya bertemu untuk kedua kalinya dengan... DIA.
Ara melepas kacamatanya, lalu mengusap pelan kedua matanya, menyakinkan dirinya tidak berhalusinasi. Dengan rakus, Ara menatap Bimasakti, mengamati setiap detail sosok di depannya yang kini menjadi sosok yang dewasa dan matang.
Dengan berjalannya waktu, wajah remaja yang dulu tampan, kini semakin terpahat sempurna. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi, memberikan kesan tangguh serta jantan. Tenggorokan Ara tercekat saat melihat kemeja yang dikenakan Bimasakti, membentuk siluet bidang dada yang liat dan indah. Sepertinya Bimasakti rajin berolahraga.
Ara terpesona pada sosok Bimasakti. Tidak akan pernah bosan memandang pria itu, karena sepanjang umurnya, Ara sangat menantikan pria ini, menginginkannya hingga hampir gila.
Dua belas tahun yang lalu...
"Aduuh.."
Tiba-tiba saja, sesuatu yang keras menghantam wajahnya. Ara yang sedang bersepeda, sontak memegangi hidungnya yang terkena pukulan telak. Alhasil, keseimbangannya pun hilang dan..
Gubrak.
Ara jatuh dari sepeda.
Sesaat pandangannya menjadi gelap serta bintang-bintang bertaburan di matanya, dengan kepalanya nyut-nyutan karena terbentur trotoar. Diantara batas tipis, sadar dan tidak, sebuah suara lembut terdengar mengkhawatirkannya, membuat Ara perlahan membuka matanya.
"Kamu baik-baik saja? Maafkan aku. Bola basketku mengenai wajahmu. Aku benar-benar tidak sengaja. Apa kamu perlu kubawa ke rumah sakit? Darah yang mengucur dari hidungmu cukup banyak."
Tubuh Ara yang masih syok, merespon lambat sehingga tidak mampu menjawab apapun pertanyaan yang dilontarkan pemuda yang berjongkok di depannya.
"A-aku ba-baik-baik sa-ja." Ara gugup melihat segurat wajah ganteng berada tepat di depan matanya.
Deg-deg-deg..
Hei-hei, apakah dadanya tadi juga terbentur sesuatu? Kenapa saat ini, dirinya merasakan debaran jantung yang tidak karuan? Bahkan kedua telinga Ara bisa mendengar irama keras detak jantungnya. Ara meremas kaos tepat di dadanya. Dan ternyata hal itu tidak luput dari perhatian pemuda itu.
"Apa dadamu juga sakit?" tanya pemuda itu semakin cemas. "Astaga, aku benar-benar minta maaf. Tidak biasanya aku seceroboh ini saat bermain basket."
"Ti-dak apa. A-ku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku." Ara menjawab kikuk sembari terus mengusap hidungnya yang tidak mau berhenti mengeluarkan darah.
Tiba-tiba..
"Hei-hei.. turunkan aku."
Tubuh mungil Ara tiba-tiba terangkat. Pemuda itu membopong Ara dan membawanya ke kursi taman. Kemudian sesuatu yang dingin menyentuh wajah Ara hingga membuatnya tersentak kaget. Sebuah handuk dingin tiba-tiba menutupi hidung Ara.
"Jangan banyak bergerak. Aku sedang mengompres hidungmu untuk memperlambat perdarahan. Semuanya akan baik-baik saja," ucap pemuda itu menenangkan.
Ara yang terhipnotis dengan perlakuan lembut itu, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seketika hilang, digantikan dengan getaran lembut bak kupu-kupu yang menari-nari, menguasai perut lalu menjalar ke seluruh tubuhnya.
Semua kejadian itu begitu cepat, secepat cinta pertama Ara yang tumbuh pesat saat itu juga. Ara jatuh hati pada pandangan pertama pada pemuda yang tak dikenalnya itu.
"Te-terima kasih," ucap Ara tersipu malu.
Semenjak hari itu, Ara yang berusia lima belas tahun selalu pergi ke taman untuk mencari keberadaan pemuda itu. Ara yang pemalu, tidak berani terang-terangan memperhatikan pemuda yang selalu bersemangat bermain basket itu.
Ara ikut tersenyum ketika pemuda itu tertawa bersama teman-temannya. Ara merasa dirinya sangat konyol karena iri pada seekor anak anjing yang bermanja-manja pemuda itu. Juga perasaan cemburu saat melihat seorang gadis cantik mendekati pemuda itu lalu memberikan sebotol air mineral.
"Dasar ganjen!" umpat Ara yang hanya berani mengomel dari kejauhan.
Kemudian ketika pemuda itu tiba-tiba menghilang, Ara seolah kehilangan tujuan hidupnya. Ara terus mencari pemuda itu ke setiap sudut taman kota, tetapi sosok yang menjadi penghias mimpinya setiap malam, tidak lagi dijumpainya dimanapun.
Alhasil, alam bawah sadarnya selalu membandingkan semua pria yang mendekatinya selama dua belas tahun terakhir, dengan pemuda yang dirindukannya itu. Bahkan papanya sendiri bilang kalau Ara sangat pemilih. Bukan, bukan pemilih, hanya saja Ara sudah terobsesi dengan pemuda itu.
Hingga suatu hari, Ara terkejut mengetahui dirinya dijodohkan dengan anak pemilik panti asuhan, dimana papanya menjadi donatur tetap disana.
"Aku tidak mau, Pa." Ara memprotes keras waktu itu. "Aku bisa mencari pasanganku sendiri. Aku tidak mau menikah tanpa cinta."
"Cinta?! Tahu apa kamu tentang cinta? Merasa tertarik dengan fisik, lalu jatuh cinta? Atau merasa nyaman dengan seseorang, lalu mulai berkencan? Semua itu tidak menjamin sebuah hubungan akan langgeng, sayang," nasehat Papa Ara bijak.
"Pa, aku.."
Melihat Ara hendak membantah, papanya mengangkat tangan, mencegah putrinya berkomentar.
"Oke, papa akui semua itu memang proses jatuh cinta. Tetapi ada proses cinta yang memang disengaja, yang kemudian cinta itu tumbuh karena berjuang bersama, punya satu visi masa depan, saling melengkapi tanpa saling menjatuhkan. Cinta seperti itu lebih bertahan lama dibandingkan bucin sesaat."
"Tapi pa.."
"Tidak ada protes lagi. Ini foto calon pengantinmu. Dia yang terbaik dari semua calon yang sudah papa seleksi." Papa Ara menyodorkan selembar foto seorang pria.
Ara melirik malas foto itu. Namun hanya perlu dua detik untuk mengembangkan senyum di wajah cantiknya. Benar kata papa, pria itu adalah terbaik.
"Nona Ara.. Nona Ara.."
Ara tersentak dari lamunannya, ketika suara seseorang masuk ke ruang pendengarannya.
"Anda baik-baik saja?"
"Ah ya, maafkan aku. Ada sedikit hal yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. A-aku sudah memesan makanan untuk kita. Hanya minuman yang belum kupesan," ucap Ara sedikit gugup.
"Oke. Aku akan pilih dulu," sahut Surya ceria. "Hei bro, kamu mau pesan apa? Panas-panas begini, kita harus pesan yang dingin-dingin."
Ara memperhatikan Bimasakti yang hanya mengedikkan dagunya dan berucap tanpa suara pada Surya, 'terserah kamu'.
Kemudian hening..
Ara meremas-remas tisu di pangkuannya. Ara berusaha menata hatinya, menenangkan dentuman jantungnya ketika manik matanya bertemu pandang dengan pujaan hatinya. Sekali lagi, Ara terpesona seperti dua belas tahun yang lalu.
Tatapan mata Ara terus berpindah-pindah, tidak berani menatap sosok Bimasakti terlalu lama. Ara takut tidak bisa mengendalikan diri dan langsung mengakui perasaannya saat ini juga.
"Nona Ara, eng.. sebaiknya aku duduk di sana saja, biar kalian berdua lebih leluasa berbicara," kata Surya sambil menunjuk ke arah kursi di belakang pendopo yang sedang mereka tempati ini.
"Baiklah." Ara mengangguk mengiyakan.
Ara menggigit bibir bawahnya, melihat Surya menjauh. Dalam hati, Ara merutuki Surya yang tiba-tiba melenggang pergi, membuat suasana semakin canggung. Ditambah, gemuruh dadanya tak bisa dikendalikan, membuat tarikan napasnya menjadi berat. Orang mungkin akan menyangka kalau Ara terkena asma, padahal dirinya hanya panik karena duduk berduaan dengan sosok yang selalu dirindukannya.
Ck, Ara merasa konyol bak abege labil.
Sosok maskulin di depan Ara, yang tidak lain adalah calon suaminya, duduk sangat tenang, dengan raut wajah kurang bersahabat. Aura pria matang di depannya sekarang, jelas-jelas sangat berlawanan dengan pemuda yang menjadi cinta pertama Ara. Bimasakti yang sekarang terlihat dingin, berbeda dengan pemuda tanggung yang manis dan penuh perhatian.
"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya kedua orang tuamu," ucap Ara kalem, memberanikan diri membalas tatapan datar Bimasakti.
"Terima kasih."
Kembali hening..
"Ehem, begini Ara.. apa boleh aku memanggilmu Ara?" Bimasakti memulai pembicaraan serius.
Ara menarik garis bibir dan mengangguk. "Tentu."
"Perihal perjodohan kita berdua, apakah kamu menyetujuinya?"
Bersambung..
