Bab 6 : Kepo
Di mobil.
"Bagaimana? Apa pertemuan kalian berjalan mulus?" tanya Surya kepo. Surya sedikit melirik Bimasakti yang duduk di sampingnya.
"Mulus. Semulus pantat bayi berisik di rumah." Bimasakti menjawab acuh tak acuh. "Ngomong-ngomong.. siapa yang membayar makanan tadi?"
"Ya tentu saja Nona Ara yang cantik dan baik hati lah yang bayar. Memangnya kita punya uang lebih, buat makan siang mewah seperti tadi? Ck, pura-pura lupa kalau kantong kita lebih kering dari gurun sahara," decak Surya menyindir sinis.
"Tapi menurutku.. sepertinya kurang etis, kalau pertemuan pertama, pihak wanita yang mengeluarkan biaya." Bimasakti berkomentar tak suka. "Kalau hanya makan seperti tadi, aku masih sanggup membayarnya."
"Ck, tidak usah sok-sokan kaya," gerutu Surya menyenggol lengan Bimasakti dengan sikunya. "Apa kamu lupa, kertas-kertas tagihan yang menggunung di rumah, menjerit-jerit minta segera dibayar? Ditambah lagi rekening kita terus-menerus meminta maaf karena saldo minus melulu. "
Bimasakti menghela napas panjang, mendengar Surya yang terus merecoki bak emak-emak komplek yang tanpa henti komat-kamit lagaknya dukun beranak.
"Bulan ini, aku lupa belum belanja bulanan karena repot mengurus pemakaman. Padahal kebutuhan dapur, habis bersih. Stok toiletris termasuk diapers hanya tinggal sebungkus. Laporan lemari ransum camilan yang kosong, juga sudah masuk ke telingaku. Situasi kita sangat genting, Bima. Kita harus segera bertindak," racau Surya semakin absurd.
"Hentikan, brengsek!" bentak Bimasakti ketus. "Tidak usah ingatkan aku dengan biaya-biaya yang mirip black hole, tidak ada ujungnya. Belum juga menikah, tapi sudah dibebani banyaknya makhluk halus yang menjerat leherku."
Surya tergelak keras dengan omelan Bimasakti.
"Bro, kuperhatikan tadi kamu hanya makan sedikit, kenapa? Apa.. terlalu tegang karena bertemu Nona Ara yang cantik, baik, dan kaya raya? Tak usah canggung lah. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan, seperti aku. Tadi pagi, aku sengaja tidak sarapan. Supaya apa? Supaya bisa makan banyak saat ditraktir Nona Ara. Kan jarang-jarang makan siang dengan menu melimpah bak jamuan pesta seperti tadi. Jadi aku langsung tancap gas, makan sebanyak-banyaknya sampai kekenyangan," ucapnya melantur dengan mengelus perutnya yang membulat.
Bimasakti memukul pelan kepala Surya. "Dasar rakus. Tidak tahu malu."
"Sudahlah, jangan bicarakan aku lagi," ucap Surya dengan mengibaskan tangannya. "Bro, aku penasaran apa yang kalian berdua bicarakan? Sewaktu pulang tadi, aku memperhatikan raut wajah Nona Ara terlihat muram, lebih tepatnya sangat sedih seperti menahan tangis."
Bimasakti mengernyitkan dahi. "Masa sih? Aku tidak memperhatikan. Bagiku, wajah Ara terlihat datar, dingin, dan tanpa ekspresi."
Surya memutar bola matanya, sebal mendengar jawaban Bimasakti yang tidak peka.
Kemudian..
Drrrtt-drrrtt-drrrtt..
Bimasakti merogoh saku celana jinsnya untuk mengambil ponsel. Senyum sumringah langsung tercetak di wajah tampan Bimasakti. Surya pun kembali kepo.
"Siapa yang nelpon? Ceria amat itu wajah, seperti dapat undian 5 milyar saja."
"Pacarku," jawab Bimasakti sambil menggeser tombol hijau. "Ha-lo.."
Ckrriitt.
Duak.
"Brengsek! Kenapa sih kamu hobby ngerem mendadak?! Mau buat aku mati duluan sebelum malam pertama, hah?!" sembur Bimasakti murka karena kepalanya kembali benjol terbentur kaca depan mobil.
Tiba-tiba Surya mencengkram kemeja serta dasi yang dikenakan Bima. "Sejak kapan kamu punya pacar, hah?! Kenapa aku tidak tahu?" geramnya.
"Ck, lepas," tukas Bimasakti kesal. "Memangnya kamu siapaku? Dasar kepo!"
"Halo Bima sayang, apa kamu sedang marah padaku?"
Bimasakti terkejut mendengar suara Selina yang terdengar dari ponselnya. Bimasakti lupa jika ponselnya sudah tersambung.
"Tidak. Aku tidak marah padamu, Selina," ucap Bimasakti lembut, fokus pada layar ponselnya. Betapa rindunya dirinya pada kekasihnya itu. "Aku cuma mengomeli orang tidak waras yang kebetulan lewat."
Surya melirik layar ponsel Bimasakti. Terlihat seraut wajah cantik sedang cemberut pada Bimasakti.
"Jadi itu pacar Bimasakti. Ayu dan lembut. Hmm, tipeku sekali. Dia lagi cemberut pun masih terlihat sangat cantik, apalagi tertawa. Pasti akan mencerahkan duniaku," gumam Surya menghalu parah.
Terdengar suara merengek dari panggilan video itu.
"Bima, kenapa kamu tidak menghubungiku sama sekali? Aku khawatir sekali, dua minggu penuh tidak ada kabar darimu," tuduh Selena jengkel.
"Maaf sayang," ucap Bimasakti menyesal. "Disini, aku benar-benar sibuk dengan urusan rumah dan pemakaman."
"Lalu kapan kamu kembali ke Vancouver?" tuntut Selina penuh harap.
Sejenak Bimasakti merasa ragu. "Masih belum tahu."
"Kok gitu jawabannya?" Selina kembali merengek.
"Maafkan aku, sayang. Mungkin aku tidak akan kembali ke Vancouver lagi. Sebenarnya aku juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaanku," jawab Bimasakti muram.
"Mengundurkan diri?! Apa-apaan ini, Bima?!" Selina mengamuk dengan berkacak pinggang di panggilan video itu. "Pekerjaan itu adalah impianmu, kenapa kamu begitu mudah melepaskannya?"
"Terpaksa." Bimasakti menghela napas lelah. "Mereka membutuhkanku, Selina. Aku tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja."
"Mereka?! Mereka siapa?! Kamu bilang kamu anak tunggal dan orang tuamu baru saja meninggal, jadi siapa 'mereka' yang kamu maksud ini?!" Suara Selina semakin mendesak.
"Ceritanya panjang, Selina sayang. Aku akan menceritakannya nanti padamu. Aku sedang diluar, nanti kamu akan kutelpon lagi."
"Jangan berani-berani memutuskan telponku, Bima." Selina berteriak putus asa di layar ponsel, mencegah Bimasakti mengakhiri panggilan video itu.
"Selina, tolong dong.. jangan egois."
"Egois?!" Selina terlihat melotot di layar ponsel. "Siapa yang sebenarnya egois disini? Posisi kita sedang berjauhan, beda benua, tapi kamu sama sekali tidak memikirkanku. Apa aku sudah tidak ada artinya bagimu, hah? Kamu membuatku kecewa, Bima."
Bimasakti menggeleng lemah. "Aku sayang padamu, Selina. Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Aku.. "
Tuut.
Tiba-tiba layar kembali ke tampilan awal.
Melihat itu, Bimasakti berteriak kesal pada Surya. "Brengsek! Kenapa kamu mematikan ponselku?"
"Berisik," bentak Surya sebal. "Aku sudah menolongmu, jadi jangan protes melulu."
Bimasakti berniat menelpon balik,tetapi... "Brengsek! Kuota habis."
Surya tergelak dengan memukul-mukul setor mobil. "Kasihan deh."
Rasanya Bimasakti ingin mencekik Surya, siap memotong-motong si jelek Surya menjadi tujuh bagian. Dagingnya bisa dikonsumsi, lumayan bisa menambah gizi anak-anak panti atau dijual di pasar untuk menambah pundi-pundi kas panti asuhan. Lalu dengan sukarela, Bimasakti akan memberikan tulang belulang Surya pada si guguk milik tetangga depan rumah.
"Heh Bima."
"Hmm."
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Surya ingin tahu.
"Tidak ada." Bimasakti mengedikkan sebelah bahunya. "Aku hanya ingin pulang lalu tidur nyenyak."
"Dasar dodol! Kamu tahu aku bicara apa." Surya meraung geram.
Hening.
"Aku.. menawarkan pernikahan kontrak pada Ara."
Surya terkesiap. "Apa?!"
"Tiga tahun," kata Bimasakti lirih. "Aku akan menikah dengan Ara selama tiga tahun. Setelah itu, kami akan berpisah."
"Bodoh," desis Surya merutuk. "Nasib yang begitu baik, kamu menolaknya. Aku benar-benar berharap kamu tidak menyakiti Nona Ara. Sebenarnya aku tidak rela Nona Ara yang begitu baik, dijodohkan denganmu."
"Kalau begitu, gantikan saja aku menikah dengan Ara. Ikhlas kok." Bimasakti menggeram jengkel pada Surya yang ngoceh tak dipikir dulu.
Surya menghela napas panjang. "Perjodohan itu kewajibanmu, Bima. Lagipula aku hanya memandang Nona Ara sebagai sahabat, tidak lebih. Tidak ada getaran-getaran saat memandang wajah ayu nya itu."
"Apalagi aku," sambar Bimasakti mengerang putus asa. "Ara, dia bukan tipeku. Aku lebih suka yang seksi, bukan kuper dan kutu buku, berkacamata lagi."
"Seperti Selina, kekasihmu itu? Apa dia seksi?" tanya Surya penasaran.
Bimasakti melotot sebal. "Kepo!"
Bersambung...
