Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 : Sewot

"Apa aku perlu bertanya.. kita akan makan siang dimana?"

Pertanyaan sinis nan ketus yang dilontarkan Bimasakti, tidak mengurangi keceriaan Surya. Gumaman nada false dari siulan Surya terus berkumandang di mobil yang dikemudikannya.

"Di tempat yang asri dan romantis."

"Memangnya dimana itu? Mau makan saja, kenapa harus jauh-jauh pergi ke ujung dunia sih? Ck, kita sudah melalang buana hampir satu jam, tanpa adanya tanda-tanda keberadaan restoran, rumah makan, bahkan warung kaki lima. Aku sudah lapar, Surya jelek." Bimasakti memprotes sambil melonggarkan dasi yang dipaksakan Surya padanya. "Lagian buat apa aku makan siang harus memakai pakaian formal? Bikin bete saja."

"Heh, perbaiki dasimu! Lihat, penampilanmu jadi kusut tuh," tegur Surya sembari menarik-narik dasi Bimasakti. "Ingat bro, kesan pertama harus sempurna, selanjutnya terserah anda."

"Baiklah-baiklah," gerutu Bimasakti sewot. "Mimpi apa aku ini sebenarnya? Bisa-bisanya aku terlibat hal konyol seperti ini."

"Ini bukan hal konyol, bro. Masih ingat obrolan kita semalam?"

"Ck. Tentu saja aku masih ingat," sembur Bimasakti dengan mata melotot. "Bagaimana aku bisa melupakan obrolan absurd dirimu yang mempertaruhkan masa depanku?! Tanpa sepengetahuanku, ternyata aku sudah digadaikan demi aliran dana donasi ke panti asuhan agar tetap mengalir deras."

"Well-well, selalu menyenangkan mendengarkanmu bersungut-sungut. Rasanya aku puas kalau bisa membuatmu kesal. Karena apa? Karena wajah cemberutmu bisa mengurangi kadar ketampananmu yang membuatku jadi minder," jawab Surya konyol. Gelak tawanya semakin keras melihat aura Bimasakti yang bertambah keruh.

"Brengsek!" Bimasakti mengamuk dan menggebrak dashboard mobil. "Dengar Surya, ini bukan zaman si Siti yang tidak bisa menolak dijodohkan dengan pak tua. Ini zaman modern, tau!"

"Hei-hei, tidak perlu nge-gas gitu bro," sambar Surya cengengesan. "Toh bukan aku juga yang menentukan perjodohan itu. Papa mamamu sendiri yang mengatur pernikahanmu dengan putri donatur itu."

"Papa mamaku sudah tidak ada," sergah Bimasakti geram karena diingatkan kepedihan akibat kematian orang tuanya. "Kamu jangan berbicara seenak perutmu sendiri, Surya. Ck, lagian apa omonganmu itu bisa dipercaya? Bisa saja kan kamu hanya mengada-ada tentang perjodohan itu. Aku yakin kamu mendendam padaku dan ingin segera menendangku keluar dari rumahku sendiri. Lalu kamu mengarang cerita dongeng konyol dengan menyodorkan aku pada dukun gila untuk jadi pengantin hantu. Benar kan?!"

Ckrriitt..

"Aduh brengsek! Jangan mengerem mendadak dong!" Bimasakti meraung kesal karena kepalanya terbentur kaca depan mobil.

Sambil merangkul kemudi dengan tangan kanannya, Surya memutar posisi duduknya, memandang gemas pada Bima yang mengelus benjol di kepalanya. 

"Apa selama di Vancouver, kamu pernah memeriksakan otakmu yang tidak beres itu? Aku yakin kalau bobot otakmu itu sudah berkurang sekilo dua kilo deh. Heran aku, dari tadi ngomong kok melantur terus. Kamu kan lulusan S2 luar negeri dengan nilai cumlaude. Harusnya otakmu itu levelnya sebelas dua belas dengan tetangganya Einstein," nyinyir Surya super jengkel dengan sikap Bimasakti yang kekanak-kanakan. "Semuanya sudah jelas di depan mata, bukti-bukti juga sudah kamu pelototi semalaman, tapi masih saja ngotot seperti bayi kekurangan asi."

Bimasakti menghela napas panjang. Dirinya tahu kalau pria jelek di depannya ini bukanlah seorang pembual apalagi pembohong. Hanya saja, Bimasakti perlu mengeluarkan uneg-uneg hatinya dan Surya adalah sasaran yang empuk.

Rencana untuk berduka sendirian akibat kehilangan dua orang yang dikasihinya, langsung gagal total, hanya karena satu kalimat yang keluar dari mulut si jelek Surya, bahwa dirinya akan menjadi pengantin dadakan dari putri donatur panti asuhan.

Seperti kata Surya tadi, semalam Bimasakti sudah melihat bukti-bukti percakapan di aplikasi hijau, antara orang tuanya dengan seseorang, yang membahas detail perjodohannya. Bimasakti mencoba mencari celah untuk menghindar dari perjodohan konyol ini.

Semalaman, Bimasakti mengobrak-abrik semua dokumen di kantor papanya. Dua tiga kali dibacanya semua dokumen itu dengan teliti. Namun hasilnya tetap sama. Keuangan panti asuhan Beloved diambang kritis. Dalam setahun terakhir, hanya ada satu donatur tetap. Beliau adalah calon mertuanya.

Bimasakti tidak ingin mempedulikan kondisi panti asuhan Beloved yang nyaris bangkrut. Pindahkan saja anak-anak yatim piatu itu ke tempat yang baru, lalu rumah ini bisa dijual atau disewakan. Gampang kan, tidak perlu pusing tujuh keliling untuk mengurus bocil-bocil berisik itu. Namun, rumah ini terlalu penuh dengan kenangan indah, juga bukti cinta serta impian orang tuanya.

Jadi.. hanya ada satu jalan keluar bagi Bimasakti untuk mempertahankan rumah beserta isinya, yaitu menikah agar donasi tetap mengalir.

Dengan lesu, Bimasakti membanting punggungnya ke sandaran kursi jok. "Punya foto wanita itu?"

"Punya." Surya menjawab sambil menyalakan lampu sein kanan, untuk masuk ke sebuah kompleks rumah makan yang mengusung tema pendopo-pendopo.

"Kita sudah sampai tujuan?" tanya Bimasakti penasaran sembari mengikuti gerakan Surya yang melepas tali sabuk pengaman. Benar kata Surya jelek, pemandangan asri penuh pepohonan rindang membuat mata dan hati menjadi adem.

"Hm-hm."

"Hei tunggu dulu, Surya." Bimasakti menarik lengan Surya yang sudah membuka pintu mobil. "Sebelum turun, tunjukkan dulu foto wanita yang dijodohkan denganku, supaya aku tidak merasa seperti membeli kucing dalam karung."

Surya tersenyum menyebalkan sambil menepuk-nepuk bahu Bimasakti. "Jangan khawatir, bro. Kamu tidak akan rugi kok. Soalnya anak kucing dalam karung ini cantik dan menggemaskan."

"Anak kucing?" Alis Bimasakti mencuat tinggi. "Apa dia masih kecil, maksudku apa gadis itu masih dibawah umur?" tanyanya heran dengan komentar ambigu Surya.

"Hm, dia memang mungil sih, tapi umurnya sudah matang dan siap diajak ena-ena. Jadi tenang saja," jawab Surya yang kembali tergelak melihat wajah Bimasakti merah kuning hijau seperti pelangi. Entah Bimasakti marah atau malu, Surya tidak ambil pusing. "Ayo cepat turun, siapa tahu si anak kucing ini sudah datang dan menunggu kedatangan kita."

"Baiklah. Kali ini aku percaya padamu." Bimasakti mengusap wajahnya. "Asal kamu tahu, aku sama sekali tidak bisa menemukan informasi tentang calonku. Jangan sampai aku jadi pedopil atau sugar daddy."

Brak. Surya membanting kasar pintu mobil.

 

"Ck, sugar daddy.. sugar daddy. Kamu itu bukan sugar daddy, tapi sour daddy, kecut dan tidak sedap pandang," komentar Surya memutar bola matanya.

"Sialan!"

Kemudian keduanya berjalan melewati gapura kecil, masuk lebih dalam ke area rumah makan ala pendopo itu.

"Heh Surya.."

"Apa?"

"Apa kamu mengenal wanita ini?" tanya Bimasakti gelisah.

Surya mengangguk. "Kenal. Terkadang dia datang berkunjung ke Beloved untuk melihat anak-anak."

"Jadi dia menyukai anak-anak?" Entah mengapa hal itu membuat Bimasakti tertarik.

"Tentu saja suka. Dia kan berkarir sebagai psikolog anak," jelas Surya dengan kepala mengangguk-angguk. 

"Oooo.."

Kemudian Surya menunjuk ke salah satu pendopo. "Tuh lihat, anak kucingmu sudah datang."

Bimasakti mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan Surya. Di sana, seorang wanita berambut sebahu, sedang duduk membelakanginya.

"Hai Nona Ara, anda sudah datang lebih dulu rupanya," sapa Surya basa-basi, ketika tiba di pendopo itu. "Maaf, kami datang terlambat."

"Halo Surya. Tidak masalah, aku juga baru datang kok." Senyum manis mengembang di bibir wanita mungil berkacamata itu. Namun, ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi datar ketika berhadapan dengan Bimasakti.

"Nona Ara, perkenalkan. Ini Bimasakti Purnama." Surya memperkenalkan keduanya. "Bima, ini adalah Nona Ara Andromeda."

"Halo."

Keduanya bersalaman kaku dengan senyum tipis di bibir masing-masing.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel