Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 : Lanjutan berita buruk

Bimasakti menatap nanar pada dua tubuh yang terbujur kaku di ruang pendingin. Kelopak matanya sudah terasa perih dan bengkak, karena menangis tanpa henti selama dua puluh jam penerbangan dari Vancouver ke Indonesia.

"Ma..."

Tangan Bimasakti gemetar ketika menyentuh wajah dingin wanita yang melahirkannya, air matanya menetes mengenai pipi mamanya. Sesegukan Bimasakti semakin parah hingga membuatnya sesak napas, ketika melihat wajah damai papa tercintanya yang seolah sedang tertidur.

"Ke-kenapa kalian ha-harus per-pergi seka-rang?! Kenapa?! Kenapa harus me-ninggal ber-bersama? A-apa.. papa dan mama membenciku karena tidak pernah mau pulang ke Indonesia? A-apa karena itu kalian berdua balas dendam padaku? Ta-tapi balas dendam ini terlalu kejam. AAARRGGHH..."

Tubuh Bimasakti merosot lemas ke lantai dan menangis keras. Memukuli lantai ubin tanpa henti untuk melampiaskan rasa kehilangan. Sama sekali tidak dirasakannya sakit di buku-buku jemarinya. Bimasakti hanya memandang kosong kepalan tangannya yang berdarah.

Kepergian mendadak orang tuanya untuk selamanya telah membuat dunia Bimasakti runtuh.

*****

Dua hari kemudian..

"Ikut berduka cita."

"Yang kuat ya."

"Papa mamamu pasti tidak ingin melihatmu bersedih."

"Tetap semangat ya, Bima."

Sejumlah ucapan belasungkawa dan simpati dari semua orang, hanya dianggapnya angin lalu. Di benak Bimasakti, seolah semua rangkaian peristiwa duka ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Bimasakti terus berharap dirinya akan segera terbangun, lalu melihat papa mamanya berdiri di depannya dan memeluk dirinya.

Acara penghiburan dan pemakaman sudah berakhir satu jam yang lalu. Satu per satu pelayat pun pergi.

Panas terik matahari tidak dihiraukan Bimasakti. Peluh dan keringat sudah membasahi kemeja putihnya, namun Bimasakti masih enggan beranjak dari tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya. 

"Kak Bima."

Bimasakti menoleh ke arah datangnya suara lirih itu. Seorang gadis kecil dengan dua kepangnya yang sudah mencuat kesana kemari, berdiri takut-takut di sebelahnya. 

"Ayo kita pulang," ucap lesu Bimasakti seraya berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celana panjangnya untuk membersihkan tanah yang menempel.

Kemudian...

Bimasakti berdiri di depan rumah masa kecilnya. Helaan napasnya kasar ketika dilihatnya sebuah papan nama yang tertancap kokoh di area halaman rumah itu. 

Panti Asuhan 'Beloved'.

Ya, sudah sejak lama rumah keluarganya dialihfungsikan menjadi tempat bernaung beberapa anak yatim piatu. Memandang rumah itu, berbagai kenangan melintas di benak Bimasakti, termasuk ingatan saat mama papa mengatakan padanya, akan membuka rumah untuk yatim piatu.

"Aku tidak setuju," protes Bimasakti pada waktu itu. "Ini rumahku. Aku tidak suka ada anak lain yang tinggal disini."

Mendengar penolakan tegas Bimasakti, mamanya berjongkok hingga matanya sejajar dengan putranya yang berusia sepuluh tahun.

"Apa Bima tidak ingin punya kakak dan adik?" tanya mamanya lembut.

"Tidak." Bimasakti kecil menggeleng cepat. "Punya saudara itu menjengkelkan. Kata temanku, setiap hari mereka selalu bertengkar dengan adik kakak seperti arena tinju, meributkan ini dan itu. Rumah jadi berisik. Tidak. Aku tidak suka, ma."

"Kalau hanya satu anak yatim piatu, boleh kan?" tanya mamanya memohon lembut.

Namun, pada kenyataannya bukan hanya satu, melainkan delapan anak yatim piatu yang diizinkan mamanya untuk tinggal di rumah keluarga Bimasakti.

"Hei Bima, sedang apa kamu disini? Semua orang sedang menunggumu."

Suara familiar memanggilnya, membawa Bimasakti kembali ke saat ini.

Orang itu adalah Surya, salah satu anak yatim piatu yang tinggal di rumah Bimasakti. Surya seumuran dengan Bimasakti, bahkan selalu satu kelas, dari SD hingga SMU. Tidak jarang, papanya sering membanding-bandingkan dirinya yang pemalas dengan anak pungut yang sok rajin itu. Menyebalkan.

Bimasakti membenci Surya. Setiap kali ada keluarga yang ingin mengadopsi anak, Bimasakti selalu berdoa khusyuk semalaman bahkan berpuasa tidak main game kesukaannya, agar si Surya ini segera minggat dari rumahnya. Namun sayangnya, doanya tidak pernah terkabul. Si jelek Surya selalu berada di rumahnya bahkan sampai sekarang, bersikap seolah dirinya adalah tuan muda di rumah ini. 

"Ck, moodku langsung anjlok melihatmu. Dasar menyebalkan," gerutu Bimasakti sambil melirik singkat ke arah Surya, sebelum mulai berjalan cepat menuju teras rumah.

"Ck, sudah tua, masih saja suka cemberut. Nanti kalau jadi keriput, lalu jadi perjaka tua, baru tahu rasa," balas Surya dengan menyeringai.

Mendengar olok-olok itu, kepala Bimasakti berputar sangat cepat ke belakang hingga berbunyi 'kretek-kretek'. Sontak, Surya tertawa keras mendengar suara derak tulang leher Bimasakti.

"Sudah lama batang hidungmu tidak muncul di rumah. Aku jadi merindukanmu, bro," ujar Surya berlari kecil, menjajari langkah Bimasakti dan merangkul bahunya.

"Tapi aku tidak kangen," sergah Bimasakti sembari mengedikkan bahunya. "Minggir! Jangan sok akrab denganku. Aku tidak pernah suka denganmu."

Surya tetap tenang, meskipun Bimasakti selalu sewot padanya. "Well, aku juga tidak pernah suka denganmu, bro. Karena aku ini lebih suka chery daripada jeruk," imbuhnya tergelak.

"Sialan." Bimasakti mengumpat dengan kedua tangannya siap mencekik leher Surya, tapi terhenti karena tiba-tiba pendengarannya menangkap suara-suara dari arah rumahnya. "Astaga, kenapa rumahku berisik sekali?"

Surya menarik napas panjang. Kemudian dibukanya pintu utama dan langsung terlihat tiga anak laki-laki sedang berlari-larian di ruang televisi, sedangkan dua anak perempuan sedang menonton acara 'Upin Ipin' dengan volume keras.

"Ya maklumlah. Namanya juga panti asuhan anak-anak. Berisik itu hal yang wajar."

"Makanya aku tidak suka anak-anak!"

Surya mengabaikan gerutuan Bimasakti. Surya mengambil remote televisi, lalu mengecilkan volumenya. "Suaranya jangan terlalu keras ya, nanti telinganya sakit." Lalu mengarahkan pandangannya pada bocil-bocil yang masih asyik berkejar-kejaran, tegurnya, "Kalian bertiga, jangan berlarian di dalam rumah!"

"Berisik.. bisa stres aku di rumah," desis Bimasakti geram melihat kondisi rumahnya yang kacau balau terkena serangan bom mainan anak-anak.

Surya menepuk bahu tegang Bimasakti. "Bro, kompromi sedikit akan membuat hidupmu enjoy."

"Enjoy kepalamu!" Suara keras bentakan Bimasakti membuat anak-anak itu sontak membeku di tempat. "Suruh mereka diam semua! Aku mau tidur, kepalaku sakit."

"Ayo, kalian semua pergi mandi ya. Ini sudah sore," ucap Surya seraya bertepuk tangan.

"Baik Kak Surya," jawab anak-anak itu.

Tidak seperti biasanya yang selalu mager, kelima anak itu langsung berlarian cepat ke arah dalam rumah, tanpa protes. Dengan geli, Surya menggeleng-gelengkan kepala melihat anak-anak ketakutan pada aura Bimasakti yang mengintimidasi.

"Heh Bima, mau kemana kamu?" panggil Surya ketika melihat Bimasakti berjalan menjauh dengan bahu terkulai.

Bimasakti menjawab sambil mengetuk pintu kamarnya sendiri. "Aku mau mengurung diri, mengasihani diri, menangis berember-ember selama tiga hari penuh. Jadi.. jangan menggangguku, orang jelek."

Surya memutar bola matanya mendengar jawaban absurd Bimasakti. Namun cengirannya langsung berubah menjadi simpati ketika Bimasakti melanjutkan ucapannya...

"Aku perlu waktu sendiri, Surya. Aku belum punya waktu berduka sendirian. Kemarin kita sibuk urus ini dan itu untuk pemakaman. Jadi aku.." Bimasakti tidak sanggup meneruskan ucapannya karena tenggorokannya tercekat.

"Baiklah, aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu mau." Surya mengangguk mengerti. Memang tidak mudah menerima kenyataan orang yang dikasihi tiba-tiba meninggal dunia.

"Bagus."

"Dan setelah itu, kita akan bicara serius tentang panti asuhan Beloved," kata Surya lagi.

Bimasakti membentur-benturkan dahinya ke daun pintu. "Aku tidak mau mendengar apapun tentang panti asuhan ini. Kamu saja yang mengurusnya. Selama ini, kan kamu yang selalu jadi tangan kanan kiri papa dan mama. Jadi.. jangan merecoki aku dengan semua urusan konyol bocil-bocil itu."

Surya memberikan senyum terbaiknya. "Andai saja bisa, dengan senang hati aku akan menggantikan posisimu. Tetapi sayangnya, aku tidak punya wewenang itu. Kamu adalah pewaris rumah Beloved, jadi ini adalah tanggung jawabmu, bro."

"Menyebalkan." Bimasakti menggerutu. "Bicara sekarang saja. Memangnya panti ada masalah apa?"

"Bulan depan kamu akan menjadi pengantin," ucap Surya nyengir. Bukannya mengatakan permasalahan panti, Surya malah memberikan kejutan bak lanjutan mimpi buruk.

"A-APA?! PENGANTIN?!"

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel