Bab 1 : Berita buruk
"Selamat datang di Restoran Peranakan. Silakan masuk."
Seorang pria tampan mengangguk ramah pada penjaga pintu yang menyambutnya. Pria itu menepuk lembut punggung tangan pasangannya yang diletakkan di lekukan siku, seraya berkata...
"Aku sudah memesan meja untuk dua orang, atas nama Bimasakti Purnama."
"Baik. Mari, saya antarkan ke meja anda."
Bimasakti mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran. Cukup ramai. Restoran khas Indonesia ini cukup terkenal di Vancouver, Canada. Namanya Restoran Peranakan. Didirikan orang Indonesia dan memiliki citarasa Nusantara yang sangat kental, seperti soto ayam, rawon, dan rendang, bahkan aneka sate ayam kelinci dan kambing pun tersedia.
Sebenarnya bukan restoran ini bukan pilihan pertama Bimasakti, namun sebuah restoran Perancis yang ternyata sudah penuh reservasi hingga dua hari ke depan. Bimasakti tidak bisa menunda makan malam ini. Bimasakti punya rencana besar dan penting untuk masa depannya. Jadi, Restoran Peranakan ini terpaksa menjadi alternatif kedua.
"Terima kasih." Bimasakti mengangguk ramah. "Selina, kamu mau memesan apa?"
Wanita cantik berambut panjang bernama Selina itu membuka buku menu, mengerutkan dahinya.
"Pesananku samakan saja denganmu," ucap Selina menutup buku menu dan memaksakan senyumnya.
Bimasakti mengangguk setuju. "Kalau begitu aku pesan 1 porsi gulai ayam dan 2 nasi putih. Minumnya jus jeruk saja 2."
"Baik. Mohon ditunggu."
"Bima, kenapa kamu mengajakku ke restoran Indonesia?" Selina menggerutu setelah pelayan itu meninggalkan meja mereka. "Kan kamu tahu kalau aku tidak terlalu suka dengan masakan yang terlalu banyak bumbu rempah. Aku lebih suka masakan Italia atau Perancis atau..."
Bimasakti menyentuh punggung tangan kekasihnya, lalu membaliknya dan menggenggamnya. Tindakan Bimasakti langsung membuat bibir mungil itu berhenti mengomel. Selina sudah tinggal di Vancouver, sejak berusia lima tahun. Berbeda dengan Bimasakti yang baru lima tahun menapakkan kakinya di negeri dingin ini. Jadi lidah Bimasakti masih sangat merindukan masakan Nusantara.
"Maafkan aku, sayang," bisik Bimasakti muram. "Hari Valentine membuat restoran favorit mu penuh, aku kesulitan mendapatkan reservasi. Jadi please.. kuharap kamu mengerti," imbuhnya menenangkan Selina. Karena selain hari ini adalah hari kasih sayang, malam ini juga sangat spesial bagi keduanya yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun.
Selina menghela nafas panjang. Kemudian diraihnya tangan maskulin itu dan ditangkupkan ke pipinya. Perasaan hangat langsung menyelimuti hatinya. "Tidak apa. Kamu selalu mengkompromikan banyak hal denganku. Sekarang giliranku. Masalah makan malam di tempat yang kamu suka, aku bisa menerimanya."
Bimasakti berdiri, lalu menarik pundak Selina ke arahnya. Dikecupnya dahi kekasihnya dengan sayang. "Terima kasih."
Ketika Bimasakti kembali duduk, pesanan sedang disajikan di atas meja oleh pelayan.
"Silakan dinikmati."
Bimasakti mengucapkan terima kasih dengan mengangguk samar pada pelayan yang menyajikan. Lalu Bimasakti mengalihkan tatapannya pada Selina yang sedikit cemberut melihat hidangan yang mengepul harum di atas meja.
"Jangan cemberut gitu dong. Gulai ayam, salah satu menu favoritku," ucap lembut Bimasakti sembari menuangkan sedikit lauk ke piring Selina. "Nah, cobalah."
Selina menghela napas panjang sembari mengaduk-aduk isi piringnya tanpa semangat. "Baiklah demi kamu, aku akan mencobanya."
"Enak?" tanya Bimasakti penuh semangat.
Selina menggelengkan kepala. "Rasanya terlalu kental dan tajam. Maaf Bima, lidahku sudah terbiasa dengan masakan barat. Jadi jujur.. aku tidak suka."
Bimasakti merasa bersalah. "Mau kupesankan yang lain?"
"Tidak usah. Aku akan mencoba menghabiskannya."
Bimasakti mengulurkan tangan dan mengelus puncak kepala Selina. "Terima kasih sayang. Maaf, aku merusak acara spesial kita."
Selina memberikan senyum terbaiknya untuk menenangkan Bimasakti. "Aku baik-baik saja."
Kemudian Bimasakti teringat hal terpenting. Buru-buru dikeluarkannya sebuah kotak beludru berwarna biru tua dari dalam saku celana panjangnya.
Bimasakti mengulum senyum lembut, saat mengamati raut wajah Selina yang perlahan berubah bercahaya ketika dirinya membuka kotak beludru itu. Melihat sebuah cincin dengan permata biru safir di dalam kotak itu, manik cantik Selina berkilau sangat indah.
"Ehem-ehem.." Bimasakti berdehem melegakan tenggorokan yang tiba-tiba tercekat. Melamar gadis kesayangannya, membuatnya sedikit gugup.
"Ya?" Selina memiringkan kepalanya, memandang geli pada Bimasakti yang tegang.
"Selina, apa kamu bersedia menja-di..."
Drrrtt-drrrtt-drrrtt..
Bimasakti sontak terdiam.
"Sial!" Bimasakti merutuki dirinya karena tidak menonaktifkan ponselnya di saat penting ini. Akibatnya, suasana romantis lagi-lagi berubah menjadi menyebalkan.
Dengan menggerutu, Bimasakti meraih ponselnya di saku kemejanya. Alisnya terangkat heran melihat sebuah nomer asing dengan kode area Indonesia, tertera di layar ponselnya.
Apa.. sesuatu terjadi di tanah air?!
"Siapa ya?" gumam lirih Bimasakti dengan mengerutkan keningnya. "Halo?"
Wajah Bimasakti memucat saat mendengarkan lawan bicaranya mengabarkan sebuah berita buruk. Rasa syok membuatnya tidak mampu berkata-kata. Genggaman di ponselnya mengetat, sementara tangannya yang lain terkepal gemetar di atas meja. Kelopak mata Bimasakti memanas ketika tangannya digenggam erat oleh Selina sebagai bentuk dukungan untuknya.
"Siapa?" tanya Selina setelah Bimasakti menjatuhkan tangan yang memegang ponsel ke pangkuannya. Tatapan nanar kekasihnya membuat Selina sangat khawatir. Bahkan air mata Bimasakti juga menetes beberapa kali, membuat wajah maskulin itu terlihat sembab. Apakah berita yang didengarnya sangat buruk?
"Selina.." Suara Bimasakti tidak lebih dari bisikan.
"Apa yang terjadi? Apa semuanya baik-baik saja?" cecar Selina panik. "Cepat katakan. Jangan membuat aku takut, Bima."
"Orang tuaku.. mereka mengalami kecelakaan dan meninggal." Suara Bimasakti tercekat karena air mata.
"Oh tidak.." Selina terkesiap syok dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Polisi Indonesia menelponku."
"Polisi?!"
Bimasakti mengangguk lemah. "Mereka sedang menungguku di tanah air untuk mengidentifikasi je-je-jenazah kedua orang tuaku," rintihnya dengan mengusap frustasi wajahnya. "Astaga.. dalam mimpi terburukku, aku tidak pernah menyangka akan melihat orang tuaku yang terakhir kalinya dalam kondisi terbujur kaku."
Kenyataan pahit di depan mata membuat Bimasakti seolah disadarkan. Penyesalan tak terkira langsung menyergap hatinya. Sudah hampir 3 tahun, dirinya selalu beralasan tidak bisa pulang ke tanah air. Kini semuanya sudah terlambat. Bimasakti tidak bisa lagi bertemu orang tuanya selama-lamanya.
"Selina, Aku akan pulang ke Indonesia."
Mata Selina terbelalak kaget. "Pu-lang ke Indonesia?! Sekarang?! Ta-tapi.."
Sembari memasukkan kotak beludru biru itu kembali ke saku, Bimasakti berdiri dari kursinya. Ditatapnya Selina dengan nanar.
"Apa kamu bisa pulang sendiri, Selina?" tanya Bimasakti lirih. "Aku harus segera ke bandara. Aku akan mengejar pesawat malam ini juga."
Selina memaksakan diri untuk tersenyum. "Ja-jangan khawatirkan aku."
"Baiklah, aku pergi dulu ya." Bimasakti mengecup kening Selina. "Aku akan menelponmu nanti. Bye sayang."
Belum sempat Selina menjawab, Bimasakti sudah berlari keluar dari restoran menyebalkan ini.
Kemudian kepala Selina berputar menghadap menu makanan yang tidak disukainya. Cairan bening merebak di kedua sudut matanya. Tarikan napas berat, seberat hatinya yang sesak. Selina menggigit bibir bawahnya, menahan diri tidak berteriak frustasi ditinggal sendirian disini.
Padahal hari ini, hari spesial mereka. Selina tahu jika hari ini Bimasakti akan melamarnya di anniversary mereka.
Dari informasi temannya yang tidak sengaja melihat kekasihnya di mall, Bimasakti masuk ke sebuah galeri berlian. Selina yakin, sebuah perhiasan cantik akan diberikan untuk dirinya. Karena itulah Selina sangat menantikan malam romantis ini.
Tetapi.. apa yang terjadi sekarang? Dengan tega, Bimasakti meninggalkannya sendiri disini. Belum sempat dirinya dilamar, pria itu sudah pulang ke tanah air untuk mengurus kedua orang tuanya.
Hati Selina hancur. Selina mempunyai firasat kuat, jika kepergian Bimasakti ini akan membuatnya kehilangan pria itu selamanya.
"Oh Bima.."
Bersambung...
