Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5.

Alya tahu ada sesuatu yang tidak beres ketika Marvella menyuruhnya ikut ke acara gala keluarga malam itu.

“Temani Tante, ya? Kaia ada acara alumni kampusnya, Kenzo pasti sibuk ngobrol bisnis sama Om Dastan,” ujar Marvella lembut.

Biasanya Alya memang tidak pernah menolak.

Ia sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Tante Marvella dan Om Dastan, maka datang ke acara keluarga Kenzo pun bukanlah hal yang aneh.

Tapi entah kenapa, malam itu perasaannya tidak enak.

Ballroom hotel bintang lima itu dipenuhi lampu kristal dan busana mahal. Kenzo berdiri tak jauh dari ayahnya, mengenakan setelan hitam yang membuatnya terlihat terlalu dewasa dan terlalu… tampan.

Seketika Alya pun mendengus pelan.

“Kenapa?” tanya Marvella.

“Kenapa dia kelihatan kayak CEO di drama Korea?”

Marvella tertawa kecil. “Memang mirip.”

Kenzo menoleh ke arahnya sekilas, dan tatapan mereka pun bertemu sepersekian detik. Sebelum pria itu lalu kembali fokus pada pembicaraan.

Lalu tiba-tiba, seseorang masuk.

Dan bahkan dari jarak beberapa meter, Alya tahu.

Cara wanita itu berjalan. Cara rambutnya jatuh rapi di bahu. Cara ia tersenyum penuh percaya diri pada semua orang.

Lalu Kenzo ikut melihatnya, dan seketika ia pun berhenti bicara.

Saat wanita itu juga melihat Kenzo, senyum di wajah cantiknya pun berubah menjadi lebih personal.

“Kenzo.” Suara itu lembut. Familiar.

Dan membuat Alya merasakan sesuatu yang tak nyaman di dadanya.

Wanita itu mendekat, lalu menjabat tangan Dastan lebih dulu.

“Om Dastan, sudah lama sekali. Papa titip salam.”

Dastan tersenyum profesional. “Shanaya. Selamat datang kembali ke Indonesia.”

Shanaya. Nama itu tidak asing.

Dia... Cinta pertama Kenzo.

Hubungan paling serius yang pernah pria itu miliki. Putus tiga tahun lalu karena Shanaya melanjutkan studi dan karier ke luar negeri.

Alya ingat malam saat Kenzo bilang dia sudah putus. Ia tidak menangis. Tidak marah. Hanya lebih pendiam dari biasanya.

Dan sekarang... Shanaya telah kembali.

“Kerja di Jakarta sekarang?” tanya Dastan.

“Untuk sementara, Om. Perusahaan Papa buka proyek baru di sini. Saya diminta pegang langsung," jawab Shanaya.

Bisnis. Tentu saja.

Shanaya lalu menoleh pada Kenzo. “Kamu kelihatan makin dewasa.”

Kenzo tersenyum sopan. “Kamu juga.”

Dan sekarang, perut Alya terasa mual.

Cih. Mereka memang terlihat cocok.

Sama-sama tenang dan elegan.

Berbeda dengan dirinya yang lima menit lalu masih mengeluh soal sepatu hak tinggi.

Shanaya tertawa kecil. “Aku dengar kamu yang pegang beberapa proyek sekarang?”

“Sebagian,” jawab Kenzo singkat.

“Aku harap kita bisa kerja bareng.”

Kalimat itu terdengar biasa, meskipun tatapan Shanaya terlihat tidak biasa.

Alya pun menggigit bagian dalam pipinya karena kesal.

Sementara Marvella meliriknya sekilas, seolah menyadari adanya perubahan atmosfer.

“Kenzo,” panggil Shanaya lagi, “kita belum pernah benar-benar ngobrol sejak aku pulang.”

Kenzo terdiam sepersekian detik.

“Aku sibuk,” jawabnya akhirnya.

Shanaya tersenyum sendu. “Kamu selalu sibuk.”

Kalimat yang terdengar terlalu personal itu membuat Alya tidak sadar entah sejak kapan tangannya mulai mengepal.

Dan akhirnya, Kenzo akhirnya melihat ke arah Alya.

Hanya sebentar, tapi cukup untuk menangkap ekspresi wajahnya.

“Alya,” panggil Marvella lembut, “kamu kenal dengan Shanaya?”

Alya tersenyum paling manis yang bisa ia buat. “Nggak terlalu kenal sih, Tante. Tapi tahu.”

Karena Kenzo yang masih memandangi Alya, tak pelak Shanaya pun ikut menoleh.

Tatapannya menilai Alyadari atas sampai bawah, tanpa terlihat terang-terangan.

“Oh. Kamu Alya, ya? Sahabatnya Kenzo, kan?"

“Iya,” jawab Alya santai. “Sejak kecil.”

Shanaya tersenyum lagi. “Kenzo dulu sering cerita tentang kamu.”

Alya mengangkat alis. “Oh ya? Cerita apa?”

“Katanya kamu… unik.”

Alya tersenyum lebar. “Itu sih masih versi sopannya.”

Shanaya terkekeh pelan.

Percakapan kemudian berlanjut formal tentang bisnis, proyek, atau rencana kolaborasi.

Tapi diam-diam, ada sesuatu di sana yang terjadi dan tak terlihat oleh orang lain.

Saat Shanaya menyentuh lengan Kenzo dengan santai, Kenzo tidak menyingkir.

Saat Shanaya berdiri sedikit lebih dekat dari jarak profesional, Kenzo pun tidak mundur.

Dan Alya?

Alya tersenyum, tertawa, terlihat santai.

Tapi rasanya...setiap detik terasa seperti ujian.

Beberapa saat kemudian, musik pun berganti menjadi lebih lembut.

Shanaya menoleh pada Kenzo. “Dance?”

Hening.

Alya berhenti bernapas.

Kenzo menatap perempuan di depannya.

Lalu, tanpa melihat ke arah Alya, ia pun menjawab, "Iya.”

Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat sesuatu seolah runtuh dengan perlahan di dalam dada Alya.

Dan Kenzo pun berjalan ke lantai dansa bersama masa lalunya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menetapkan aturan FWB...

Alya benar-benar ingin melanggarnya.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel