Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4.

“Aku serius.”

Alya berdiri di depan jendela kamar Kenzo dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi wajahnya jauh lebih tegas dibanding beberapa jam lalu.

Kenzo duduk di kursi kerjanya, memutar pulpen di antara jari-jari panjangnya.

“Kamu kan memang selalu serius,” jawabnya tenang.

Alya mendengus. “Jangan bercanda. Kita harus atur ulang tentang hal ini.”

“Hal ini apa?” Kenzo mengangkat alisnya yang lebat.

“Kamu tahu maksudku," tegas Alya.

Ya. Tentu saja dia tahu.

Hubungan tanpa status. Tanpa komitmen. Tanpa masa depan yang dibahas.

FWB.

Alya menarik napas panjang, lalu mencoba terdengar rasional. “Kita sudah sepakat sejak awal. Tidak ada cemburu. Tidak ada posesif. Tidak ada drama.”

Kenzo bersandar santai. “Aku kan memang nggak drama.”

Alya menatapnya tajam. “Oh ya? Lalu semalam waktu Zyco memegang bahuku, siapa yang hampir mematahkan tangannya?”

Semalam itu Kenzo, Kaia dan Alya menghabiskan waktu mereka di club, dan kebetulan sekali Alya bertemu dengan crush-nya waktu sekolah yang bernama Zyco.

“Refleks," sahut Kenzo ringan.

“Itu bukan refleks, tapi intimidasi!”

Kenzo tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tenang, bahkan terlalu tenang.

“Dia ngeliatin kamu kayak mau nelen,” ucapnya akhirnya.

“Dan itu bukan urusanmu, Ken."

“Semua yang menyangkut kamu itu juga jadi urusanku.” Kalimat itu keluar begitu saja, menghadirkan keheningan selama beberapa detik.

Lalu Alya pun tersadar, dan berkedip pelan. “Nah. Itu yang nggak boleh.”

Kenzo menghela napas pendek. “Alya—”

“Kenzo, dengar.” Gadis itu pun mendekat satu langkah. “Kita ini cuma… teman. Bukan pacaran. Kamu nggak punya hak buat marah kalau aku dekat sama orang lain.”

“Dan kamu juga nggak punya hak buat kesal kalau aku dekat sama siapa pun," balas Kenzo telak.

Alya pun membeku sepersekian detik.

Ia teringat mantan Kenzo yang mulai sering muncul lagi akhir-akhir ini. Cara perempuan itu menyentuh lengan Kenzo seolah masih memiliki haknya.

“Aku nggak kesal,” jawab Alya cepat.

Kenzo menatapnya lama. “Oh ya?”

Alya mengangkat dagunya. “Iya.”

“Semalam kamu pulang duluan tanpa pamit. Kenapa?"

“Aku capek.”

“Kamu nggak pernah capek kalau lagi nongkrong.”

Alya memutar matanya. “Kamu ini petugas interogasi, ya?”

Kenzo pun sekarang berdiri, hingga jarak mereka otomatis semakin dekat.

“Intinya,” Alya buru-buru melanjutkan, “kita harus tetap sesuai aturan. Nggak ada yang berubah cuma karena… ya, ini.”

“Karena kita tidur bareng?” Kenzo menyelesaikan kalimatnya tanpa ekspresi.

Alya mendesis pelan. “Pelan dikit ngomongnya.”

“Kenapa? Takut mendengarnya dengan telinga sendiri?”

Alya menepuk pelan dada pria itu. “Aku cuma nggak mau kita jadi aneh. Dari kecil kita selalu bareng. Aku nggak mau kehilangan kamu sebagai teman, cuma karena hal bodoh seperti itu.”

Kenzo tidak langsung menjawab, namun tatapannya sedikit berubah sedikit. Lebih dalam dan serius.

“Aku juga nggak mau kehilangan kamu,” ucapnya rendah.

Nada suaranya membuat jantung Alya berdetak lebih cepat, dan itu membuatnya kesal pada diri sendiri.

“Nah. Jadi kita sepakat lagi. Nggak ada posesif. Nggak ada larangan. Kita bebas.”

Kenzo menyeringai tipis. “Bebas?”

“Iya. Bebas.”

“Berarti kalau Zyco ngajak kamu makan malam, kamu mau?”

Alya mengangkat dagu. “Kalau aku mau, ya artinya mau.”

Mendengarnya, rahang Kenzo tampak sedikit mengeras. Hanya sedikit, tapi cukup terlihat bagi seseorang yang sudah mengenalnya hampir seumur hidup.

“Baiklah. Silakan saja," katanya akhirnya dalam nada yang datar. Terlalu datar.

Alya menyipitkan mata. “Jangan tatap aku kayak gitu.”

“Kayak gimana?”

“Kayak mau ngebunuh orang.”

“Aku cuma lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Kenzo mendekat setengah langkah lagi, dan sekarang hampir tiada jarak di antara mereka.

“Mikir kalau dia bikin kamu nggak nyaman, aku tetap akan turun tangan.”

Alya mendesah frustrasi. “Itu namanya posesif!”

“Bukan. Itu namanya protektif.”

“Kita bukan pasangan, Ken!”

“Dan kamu juga bukan orang asing buatku, Alya.”

Kalimat itu menggantung di udara, membuat Alya menelan ludahnya.

Kenzo memang selalu seperti ini. Dingin pada semua orang, tapi pada Alya—ia seperti punya sistem keamanan pribadi yang tidak akan pernah bisa dinonaktifkan.

24 jam standby. Kiamat baru libur.

“Kamu tahu apa yang paling berbahaya?” tanya Alya pelan.

“Apa?”

“Kita merasa ini cuma hal fisik. Cuma karena nyaman. Padahal kamu yang mau selalu ngatur hidup aku.”

Kenzo menatapnya tanpa berkedip. “Kalau aku benar-benar mau ngatur hidup kamu, kamu nggak akan bisa bebas kayak sekarang.”

Alya terdiam saat merasakan ada sesuatu di dalam nada itu. Bukan ancaman atau pun marah, lebih seperti pengakuan yang tidak diucapkan secara penuh.

Ia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran yang terlalu jauh.

“Pokoknya,” ucap Alya tegas, “ingat aturannya.”

Kenzo mengangguk santai. “Ingat kok.Tiga poin. Nggak cemburu, nggak posesif, nggak baper.”

Alya menghela napas lega. “Bagus.”

Ia berbalik menuju pintu. Namun tepat sebelum keluar, Kenzo tiba-tiba bersuara lagi.

“Alya.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku beneran serius sama orang lain… kamu juga nggak akan baper, kan?”

Pertanyaan itu terasa seperti jebakan, membuat Alya tersenyum tipis. “Tentu saja nggak.”

Kenzo mengangguk pelan.

Tapi saat pintu tertutup dan Alya tak lagi melihatnya—

Ekspresi santai itu pun seketika menghilang.

Dan untuk pertama kalinya, Kenzo mulai bertanya dalam hati:

Sejak kapan aturan itu terasa seperti hukuman?

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel