6.
Alya tidak pernah tahu bahwa suara heels bisa terdengar sekeras itu.
Atau mungkin bukan heels-nya, melainkan detak jantungnya sendiri.
Di lantai dansa, Kenzo dan Shanaya terlihat… pas.
Tidak terlalu dekat. Tidak berlebihan. Gerakan mereka pun rapi dan terkontrol.
Senyum yang profesional, tapi tatapan yang saling mengenal.
Mereka berdua terlihat terlalu nyaman.
Alya masih memandangi kedua orang itu, lalu meneguk minumannya sekaligus sampai habis.
“Kalau kamu minum lagi, kamu bisa mabuk.” Suara seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari sampingnya.
Alya menoleh, dan melihat Callum, sepupu Kenzo.
Anak dari Tante Miranda (adiknya Tante Marvella) dan suaminya Jevan.
Seingat Alya, Callum baru pulang dari Melbourne setahun lalu, dan kadang juga datang ke acara keluarga.
Dan entah kenapa, sekarang Callum berdiri tepat di sisi Alya.
“Aku nggak bakalan mabuk. Ini kan bukan alkohol,” jawab Alya datar.
Callum menyeringai. “Tapi wajah kamu seperti bilang sebaliknya.”
“Apa wajahku bisa bicara?”
“Kalau lagi cemburu, iya.”
Alya hampir tersedak. “Siapa yang cemburu?”
Callum mengangguk ke arah lantai dansa. “Biasanya Kenzo nggak pernah mau berdansa, kecuali terpaksa.”
Tanpa sadar, Alya kembali menoleh lagi ke arah Kenzo dan Shanaya.
Tampak di sana Shanaya sedang tertawa kecil, dengan tangan Kenzo yang memegang pinggangnya sopan, tapi tetap saja menyentuh.
“Itu cuma sopan santun,” guman Alya.
Callum melipat tangan si dada. “Kalau kamu bilang begitu supaya kamu merasa lebih baik, silakan saja.”
Alya pun sertakan melotot. “Kamu ini datang-datang buat mengibur atau menyindir?”
“Dua-duanya.”
Callum mengambil satu gelas minuman untuknya, lalu berdiri sedikit lebih dekat.
Tapi terlalu dekat untuk Alya.
Dan dari lantai dansa, Kenzo pun melihatnya.
Meskipun awalnya hanya melirik sekilas, tapi kemudian ia menatap lebih lama.
Pandangannya berhenti pada jarak Callum dan Alya yang semakin menyempit.
Shanaya masih berbicara, tapi fokus Kenzo jelas sudah tidak lagi padanya.
“Kamu masih gampang kebaca,” ucap Shanaya pelan.
“Maksudnya?”
“Kamu lagi nggak fokus.”
Kenzo pun mengalihkan pandangan kembali pada Shanaya. “Aku fokus.”
Shanaya mendesah tajam, lalu mengikuti arah tatapan Kenzo tadi.
“Oh.” Senyumnya kini berubah tipis. “Masih dekat dengan sahabat kecilmu itu?”
Kenzo memilih diam tidak menjawab, dan terus berdansa.
Sementara itu, Callum sengaja memiringkan badanku hinggamembuat Alya harus sedikit mendongak untuk bicara.
“Kamu kelihatan cantik malam ini,” ucapnya santai.
Alya mendengus kecil. “Baru sadar?”
“Hm. Aku terbiasa melihat kamu dengan gaya seperti mau bikin eksperimen kimia.”
Sontak Alya menyemburkan tawa. Tawa yang terdengar tulis untuk pertama kalinya malam itu.
Dan Kenzo melihat tawa itu. Tawa yang jernih dan membuat rahangnya mengeras.
Shanaya memperhatikan perubahan ekspresinya dengan cermat.
“Kenzo,” ucapnya pelan, “kamu tahu kan… kamu nggak pernah benar-benar pandai menyembunyikan sesuatu.”
“Aku nggak menyembunyikan apa pun.”
“Kalau begitu kenapa sekarang kamu kelihatannya ingin menghajar sepupumu sendiri?”
Kenzo kembali terdiam.
Di sisi lain ruangan, Callum sedikit menundukkan wajahnya ke arah Alya.
“Kalau kamu bosan, kita bisa kabur sebentar untuk menghirup udara,” bisiknya ringan.
Alya mengangkat alis. “Kabur dari acara keluarga?”
“Seru, kan?”
Sebelum Alya sempat menjawab, sebuah tangan yang kokoh dan hangat tiba-tiba mendekap bahunya dengan tegas.
Kenzo.
“Callum," sapa pria itu dengan nada suara yang terlalu datar dan hambar.
Callum tersenyum santai. “Hai, Ken. Kita cuma ngobrol, kok.”
“Aku tahu.”
Seketika Alya pun menatap Kenzo, mencoba untuk membaca ekspresinya.
“Kenapa?” tanya Alya ringan. “Kamu udah selesai dansanya?”
“Sudah.”
Shanaya masih berdiri beberapa langkah di belakang, memperhatikan dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Callum memasukkan tangan ke saku. “Tenang saja, Ken. Aku nggak akan menculik sahabat kecilmu yang cantik ini.”
Alya membuka mulut. “Aku bukan anak kecil—”
“Kita harus kembali ke Ayah,” potong Kenzo dengan nada yang sama sekali bukan permintaan, tapi lebih mirip perintah.
Alya mengerutkan kening. “Aku lagi ngobrol sama Callum."
“Sekarang sudah selesai," putus Kenzo sepihak.
Callum menatap Alya, lalu beralih ke Kenzo, kemudian tertawa kecil. “Wah. Protektif sekali.”
“Biasa saja,” jawab Kenzo.
Alya pun menatap Kenzo tajam. “Aku bisa urus diri sendiri, Ken.”
“Aku tahu.Tapi masalahnya, nggak semua orang di ruangan ini punya niat yang tidak terselubung.”
Callum pun akhirnya mengangkat tangan tanda menyerah. “Aku mundur, oke? Nggak mau bikin drama keluarga.”
Ia lalh melangkah pergi dengan santai, sementara Kenzo dan Alya kini berdiri berhadapan.
“Kenapa kamu bersikap begitu?” desis Alya pelan.
“Begitu gimana?”
“Seolah-olah aku milikmu.”
Kenzo terdiam satu detik. “Aku cuma nggak suka cara dia lihat kamu. Callum itu oke sebagai sepupu, tapi brengsek sebagai lelaki.”
“Dan itu bukan urusanmu,” balas Alya cepat, menyuarakan kalimat yang sama seperti di kamar tadi pagi.
Mereka saling tatap dalam diam selama beberapa saat, namun dari ekspresi tampak sama-sama keras kepala.
Di belakang Kenzo, Shanaya kembali mendekat. “Kenzo,” panggilnya lembut, “Om Dastan cari kamu.”
Kenzo masih diam, bahkan tidak langsung bergerak dan masih menatap Alya.
Gadis itu pun tersenyum tipis. “Kamu harusnya ikut Shanaya,” ujar Alya pelan. “Dia partner bisnis penting, kan?”
Partner bisnis, bukan cuma masa lalu.
Kenzo menatap Alya beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya dia pun pergi tanpa berkata-kata.
Dan kini Alya berdiri sendiri dengan kedua tangan mengepal.
Ia ingin marah, protes, ingin bilang bahwa ia tidak suka melihat Kenzo menari dengan perempuan lain.
Tapi... ia bukan siapa-siapa. Hanya sahabat.
Dan FWB yang sepakat tidak boleh cemburu.
Masalahnya...
Dadanya kini terasa sesak, seperti baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki.
***
