Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3.

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan Kenzo mulai bersikap terlalu protektif pada Alya.

Seingat keluarganya, sejak kecil memang dia sudah begitu.

Waktu Alya masih empat tahun dan percaya ada “burung yang memakai sepatu”, Kenzo adalah orang pertama yang membelanya saat ada anak lain yang menertawakan ceritanya.

“Kalau Alya bilang ada, ya berarti memang ada,” ucap Kenzo, dengan ekspresi dingin dan mengancam ala bocil 11 tahun waktu itu.

Padahal lima menit sebelumnya, Kenzo sendiri yang mengoreksi dan mencela imajinasi absurd Alya!

Ya, mau bagaimana lagi... Alya memang selalu nyeleneh.

Pernah suatu kali, ia memotong poni sendiri karena merasa “rambut itu membatasi kreativitas otak.”

Dan hasilnya?

Miring nggak karuan seperti digigit tikus.

Kenzo yang melihatnya pertama kali hanya terdiam dan menatap Alya yang saat itu sudah berusia 10 tahun.

“Kenapa kamu potong poninya?” Tanya Kenzo (saat itu usianya 17 tahun), terheran-heran dengan tingkah ajaib Alya.

“Karena aku mau jadi seniman," sahut Alya penuh percaya diri.

“Kamu kelihatan kayak korban percobaan laboratorium ilmiah.”

Dan seketika Alya pun melempar sisir ke arahnya.

Tapi hari itu juga, Kenzo-lah yang diam-diam mengantar Alya ke salon, dan duduk dengan tenang seraya menunggu sampai rambut gadis ceroboh itu dirapikan.

Kenzo memang tidak banyak bicara di sekolah. Malah cenderung dingin. Tegas. Tidak ramah.

Tapi kalau ada yang berani mengejek Alya, makasih suara Kenzo-lah yang akan selalu terdengar duluan untuk membela.

“Ada masalah?”

Biasanya hanya cukup dua kata itu keluar dari bibirnya, untuk membuat orang-orang mundur dengan teratur.

Dan semakin mereka tumbuh, kebiasaan itu pub tidak berubah.

Saat SMP, tubuh Alya mulai tinggi, cantik, dan mulai menarik perhatian. Meskipun tetap saja aneh.

Ia pernah membawa hamster ke sekolah karena merasa hewan itu “butuh suasana baru.”

Dan Hamster itu pun kabur di kelas matematika.

Sambil menangis, Alya mengadu pada Kenzo yang saat itu kuliah di Singapura.

Dan Kenzo pun datang ke sekolah Alya, lalu mengejar Hamster sampai ke kolong meja guru.

“Kamu nggak capek hidup ribet?” tanyanya waktu itu.

Alya tersenyum lebar. “Kalau nggak ribet, bukan aku.”

Kenzo menggeleng dan menghela napas pelan. Tapi tetap memegang tas hamster itu.

Tampak luar, Kenzo dikenal sulit untuk didekati. Banyak gadis yang menyukainya, tapi tak ada yang berani terlalu dekat.

Tatapannya terlalu tajam, nada suaranya ketus pula.

Kecuali pada Alya.

Hanya Alya yang dengan santainya menarik kerah bajunya sambil berkata, “Kenzo, beliin es krim,” tanpa takut dibentak.

Dan Kenzo pasti akan membelinya tanpa banyak komentar.

Namun situasi mulai terasa aneh ketika Alya di SMA, usianya telah menginjak 16 tahun.

Tubuhnya berubah, semakin matang dan ranum seperti bunga yang baru mekar. Dan tatapan pun juga ikut berubah.

Suatu sore, Alya datang ke apartemen Kenzo seperti biasa~~melenggang masuk tanpa mengetuk.

“Aku bosan,” ucapnya sambil menjatuhkan diri di kasur Kenzo.

Kenzo yang sedang sibuk belajar, hanya menatapnya sekilas. “Kamu kan nggak pernah nggak bosan. Ada aja tingkah yang nyeleneh."

Alya berguling, rambutnya terurai di bantal. “Kenzo.”

“Hm.”

“Kamu pernah ciuman, nggak?”

Seketika Kenzo pun berhenti menulis dan menatap Alya dengan kening berkerut. “Kenapa kamu tanya begitu?”

“Aku cuma penasaran. Katanya rasanya bikin nagih.”

Kenzo menutup bukunya pelan sambil menghela napas, hal yang sering ia lakukan jika berada di dekat Alya. “Kamu jangan aneh-aneh.”

Alya duduk, wajahnya terlalu dekat.

“Kalau cuma penasaran aja, gimana?”

“Ya nggak usah penasaran!"

“Tapi kamu kan sahabatku. Usia kamu juga sudah dewasa, 23 tahun. Pasti pernah ciuman, kan?"

“Itu bukan alasan.”

Alya mendekat lagi hingga kini jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter. Hembusan dua napas pun kini saling bercampur dalam irama yang mulai memburu.

“Aku cuma mau tahu, Kenzo,” bisiknya pelan.

Dan Kenzo tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya.

Tapi saat itu juga, ia pun sadar Alya bukanlah lagi anak kecil dengan poni miring berantakan dan sikap absurd yang bikin geleng kepala.

Alya sudah menjadi gadis remaja menuju dewasa. Gadis yang sangat cantik dan menarik, dengan bagian lekuk tubuh yang semakin feminin dan menggiurkan.

Seketika tangannya pun refleks menahan bahu Alya.

“Jangan,” ucap Kenzo rendah.

“Kenapa?”

Karena kalau diteruskan, Kenzo tahu bahwa itu bukan lagi sekadar eksperimen. Bukan lagi sekadar rasa ingin tahu.

Tapi itu... akan mengubah sesuatu.

Alya menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu tertawa kecil. “Kamu takut ya?”

Kenzo langsung melepas tangannya. “Siapa yang takut?”

“Pengecut.”

Alya turun dari kasur, berjalan keluar kamar dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi malam itu, Kenzo tidak bisa tidur.

Dan sejak hari itu, jarak mereka sedikit berubah.

Bukan menjauh, justru semakin dekat.Terlalu dekat, meskipun mereka tidak pernah membicarakan momen itu lagi.

Tapi sejak saat itu, setiap sentuhan kecil terasa berbeda.

Setiap kali Alya memeluknya terlalu lama, setiap kali Kenzo tanpa sadar menarik Alya menjauh dari pria lain.

Semua bermula dari satu kejadian 'hampir-berciuman' yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Dan mungkin, justru karena tidak pernah terjadi itulah… maka ketegangannya pun tidak pernah hilang.

Mereka tumbuh bersama. Terlalu terbiasa. Terlalu nyaman.

Dan tanpa sadar, sudah terlalu dalam.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel