2.
Akhirnya Kenzo turun ke lantai bawah lebih dulu.
Ekspresinya sudah kembali netral, rambutnya telah tersisir rapi, dan kausnya diganti dengan kemeja kasual.
Tidak ada yang akan mengira bahwa lima belas menit lalu, ia dan Alya masih berdebat di kamarnya sehabis bercinta semalaman.
Ia pun masuk ke ruang makan dengan langkah santai.
Dastan, ayah Kenzo, sudah duduk sambil membaca berita di tablet.
Marvella, ibunya, menuangkan teh. Kaia, adiknya, sibuk memotret wajah bare face-nya yang baru bangun tidur dari berbagai sudut.
“Pagi semua,” ujar Kenzo datar.
“Pagi,” jawab Dastan singkat tanpa menoleh.
Marvella tersenyum. “Alya sudah bangun, Ken?”
Tak ada maksud apa pun ibunya bertanya, hanya karena Alya adalah satu-satunya yang belum turun ke meja makan.
Namun pertanyaan itu tak pelak membuat Kenzo meringis dalam hati.
“Belum tahu,” jawab Kenzo terlalu cepat, lalu berdeham kecil. “Mungkin sebentar lagi.”
Tepat di saat itu juga, terdengar suara langkah ringan di tangga.
Alya muncul dengan rambut ikalnya tergerai di pundak, mengenakan sweater oversize milik Kaia. Wajahnya terlihat segar, terlalu segar untuk ukuran seekor tamu yang baru bangun.
Kenzo dan Kaia pun otomatis menoleh bersamaan ke arahnya.
Dan keduanya pun sama-sama tersenyum.
Lalu tiba-tiba saja, terdengar suara dua kursi yang ditarik bersamaan.
Satu di sisi Kenzo. Satu di sisi Kaia.
Kaia langsung mengerutkan kening melihat sikap kakaknya yang sebelas dua belas dengannya.
“Alya itu sahabatku. Duduknya harus di sampingku.”
Kenzo membalas dengan tenang, bahkan nada suaranya hampir terdengar malas. “Alya juga sahabatku. Benar, kan?”
Alya berhenti di tengah seraya menatap mereka berdua dengan wajah lelah. Selalu saja begini.
“Kenapa setiap kali sarapan di sini, aku harus menghadapi lomba rebutan kursi?”
“Karena kamu populer,” sahut Kaia riang.
“Karena kamu harus sarapan,” tambah Kenzo, meskipun nggak nyambung.
Alya pun mendesah panjang. Lalu tanpa banyak drama, ia malah menarik kursi kosong di antara kedua kakak beradik itu.
“Sudah. Aku duduk di tengah. Dan dunia pun damai.”
Kaia mendengus kecil, tapi tetap tersenyum puas. Kenzo hanya menggeleng sambil menuangkan jus ke gelas Alya tanpa diminta.
Sebuah gerakan kecil yang terlalu terbiasa.
Marvella memperhatikan ketiga orang itu dengan menguraikan senyum tipis di wajahnya. Sejak masih sama-sama kecil hingga dewasa, kelakuan mereka masih saja sama.
“Semalam capek ya? Katanya kalian keliling mal sampai tutup.”
Kaia langsung menyahut dengan antusias. “Iya! Kita nonton, makan tiga kali, terus Alya kalah main capit boneka.”
“Hey... Itu mesinnya yang curang,” protes Alya.
Kenzo menyela santai, “Bilang aja kamu nggak berbakat.”
Serta-merta Alya pun menendang kakinya di bawah meja dengan penuh dendam.
Kenzo tersentak kecil dan meringis. “Dasar bar-bar," rutuknya.
Kaia terkikik.
Marvella tertawa ringan. “Alya memang selalu bisa bikin rumah ini jadi makin ramai. Sayang sekali orangtua kamu nggak ikut, ya?"
Alya tersenyum sopan. “Papa dan Mama masih di Singapura. Cuma aku yang balik kali ini. Lagi bosen aja di sana.”
Dastan akhirnya menoleh. “Jadi kamu cuma sendiri?”
“Iya, Om."
Kenzo pun tak pelak melirik sekilas gadis di sebelahnya.
Alya cuma sendiri. Berarti… apa itu artinya dia lebih lama di sini?
“Berapa lama di Indonesia?” tanya Marvella tiba-tiba-tiba.
Alya mengedik pelan. “Belum tahu. Mungkin seminggu… atau lebih.”
Dastan mengangguk pelan. “Baiklah. Anggap saja rumah ini juga rumahmu.”
Alya tersenyum tulus. “Terima kasih, Om.”
“Yeay!” Kaia langsung bersorak pelan, sementara Kenzo pura-pura tidak bereaksi~~tapi sudut bibirnya bergerak tipis.
Di bawah meja, kaki Kenzo menyenggol pelan kaki Alya.
Alya melirik tajam, tapi Kenzo hanya fokus pada sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Kaia memperhatikan gerakan kecil itu dengan mata menyipit.
“Kalian kok keliatan aneh banget?”
“Siapa yang aneh?” Kenzo dan Alya menjawab bersamaan, tak pelak membuat Kaia mengangkat alisnya seraya menatap mereka bergantian.
Sambil menggeleng pelan, Kaia kembali berkata, “Kalau aku nggak kenal kalian dari kecil, pasti sudah menuduh kalian menyimpan rahasia.”
Kalimat itu membuat Alya tersedak jusnya sendiri, dan Kenzo cepat-cepat menepuk punggungnya.
“Minumnya pelan-pelan, Alya”
Marvella tertawa pelan. “Kalian ini. Dari dulu masih nggak berubah."
Dan memang begitu. Mereka terlalu terbiasa duduk berdampingan.
Terlalu terbiasa berbagi ruang.
Juga terlalu terbiasa saling menatap lebih lama dari seharusnya.
Alya mengambil sepotong roti, lalu tanpa sadar memecahnya menjadi dua dan menyodorkan separuhnya ke Kenzo.
Refleks.l, Kenzo menerimanya tanpa komentar.
Kaia berhenti mengunyah.
“Kenapa kalian kayak pasangan yang sudah menikah lama, ya?”
Hening, lalu Alya dan Kenzo sama-sama menoleh cepat.
Kenzo lalu kembali menatap adiknya seraya menyipitkan mata. “Kaia.”
“Apa? Aku kan cuma bilang~~"
“Diam dan makan," titah Kenzo.
Tapi Kaia malah tertawa puas.
Di bawah meja, tangan Kenzo menyentuh paha Alya, meskipun hanya sepersekian detik.
Tapi itu cukup membuat napas mereka sama-sama berubah.
Sarapan itu tetap berlangsung normal.
Tawa. Obrolan ringan. Suara piring.
Tidak ada yang tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, di lantai atas, mereka baru saja berjanji untuk berhenti.
Dan sekarang, duduk berdampingan seperti ini~~
Justru terasa lebih berbahaya.
Karena yang paling sulit ditinggalkan bukan sentuhan...
... tapi rasa nyaman yang terlalu alami.
***
