Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

1

“Aku benci kamu.”

Alya mengucapkan kalimat itu dengan hembusan napas yang masih memburu keluar dari bibirnya, yang bengkak kemerahan akibat ciuman yang terlalu panas.

Sedangkan Kenzo yang berdiri di samping ranjang, hanya mengangkat alisnya yang lebat. “Kamu yang mulai.”

“Itu karena kamu juga yang mancing-mancing!”

“Kamu yang datang ke kamarku jam satu pagi, Alya.”

Kesal karena Kenzo selalu menemukan jawaban untuk mendebatnya, Alya pun akhirnya melemparkan bantal ke wajah tampan pria itu.

Tapi Kenzo menangkapnya dengan sangat mudah, disertai seringai samar yang terpulas di bibirnya.

Rambutnya tampak sedikit berantakan, dan ekspresinya terlalu santai untuk seseorang yang baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan.

Hal tak senonoh, lebih tepatnya.

Ini bukan pertama kali terjadi, dan justru itu masalahnya.

Seharusnya ini cuma menjadi satu kesalahan impulsif dua tahun lalu, di malam ketika Alya sedang patah hati dan Kenzo yang bersikap terlalu protektif padanya.

Tapi ternyata, kesalahan itu telah berubah jadi kebiasaan.

Mereka tidak pacaran, tidak pernah mendeklarasikan apa pun, dan tidak pernah membahas masa depan.

Meskipun begitu, mereka memiliki aturan sederhana, yaitu :

1. Tidak boleh cemburu

2. Tidak boleh menuntut.

3. Tidak boleh baper.

Dan satu hal yang paling penting di antara itu semua adalah: jangan sampai keluarga tahu.

Sebelumnya, mereka adalah teman dekat. Alya seumuran dengan Kaia, adik Kenzo.

Sejak kecil mereka sering bermain bersama, karena orang tua Kenzo dan orang tua Alya adalah teman akrab.

Bagi Alya, Kenzo adalah zona nyamannya. Usia mereka yang terpaut 8 tahunmembuat Alya merasa seperti memiliki kakak lelaki.

Sementara bagi Kenzo, Alya adalah "adik kedua-nya", setelah Kaia.

“FWB,” kata Alya dulu, dengan penuh percaya dirinya melabeli hubungan mereka.

“Friends Who Bully each other?” koreksi iseng Kenzo.

Alya bergerak turun dari ranjang untuk mengambil kausnya. Lebih tepatnya, kaus milik Kaia, adik Kenzo.

“Kita harus berhenti, Ken." Alya mengenakan kausnya sambil menatap Kenzo.

Pria itu hanya mengedikkan bahu seraya meraih teko air putih, dan menuangkan isinya ke dalam gelas.

“Kamu pernah bilang hal itu minggu lalu," ucapnya, lalu menyerahkan gelas itu kepada Alya.

Setelah semalam mereka bercinta, gadis itu pasti haus. Alya tak berhenti menjerit karena perbuatannya.

Dan Kenzo menyukai suara itu, bahkan dengan sengaja melakukan gerakan-gerakan provokatif agar Alya tak tahan.

Alya mengerucutkan bibirnya yang ranum, tapi ia tidak menolak gelas air dari Kenzo.

“Kali ini aku serius," ucapnya, sebelum meminum air itu sampai tandas. Kenzo benar-benar hapal jika ia sangat haus.

Kenzo tersenyum dan melipat kedua tangannya di dada. “Kamu juga bilang begitu bulan lalu.”

Alya mendengus kesal. “Kenzo!”

Kali ini Kenzo tertawa kecil seraya menatap wajah manis yang sedang cemberut.

Pria itu lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Alya.

“Kalau memang serius, kamu nggak akan selalu kembali ke sini, Alya.”

Hening selama beberapa detik, ketika Alya merasakan betapa ia membenci fakta bahwa Kenzo benar.

Dari kecil, mereka selalu bersama. Kenzo selalu jadi tempat yang aman bagi Alya.

Dan sekarang… tubuh Kenzo pun terasa seperti rumah.

Itulah yang berbahaya.

“Aku nggak mau ini jadi rumit,” guman Alya.

Kenzo menatapnya selama beberapa saat sebelum berkata, “Ini memang sudah rumit,” jawabnya pelan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu utama terbuka.

“Kenzo! Alya! Sarapan!”

Suara Marvella, ibunya Kenzo.

Alya dan Kenzo langsung saling tatap.

Refleks.

Alya berlari ke pintu belakang kamar.

“Jam berapa aku harus keluar?” bisiknya.

“Lima menit. Tunggu di tangga.”

Alya menunjuknya. “Ini terakhir, oke?"

Kenzo menyeringai tipis. “Kita lihat nanti.”

Alya memutar mata, tapi pipinya mulai memerah.Lalu ia menyelinap keluar seperti pencuri.

Dan Kenzo yang berdiri sendiri di kamar pun kini tersenyum kecil.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel