Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 4

Aleya meletakkan wadah-wadah yang berisi masakannya di atas meja, lalu menyusun dengan benar. Di mana para pelayan? Mereka ada di sana, tetapi dilarang menyentuh apalagi membantu wanita paruh baya itu ketika tengah masak, karena dapur merupakan area yang sudah diklaim menjadi milik Aleya, tetapi itu hanya berlaku jika ia memasak makanan untuk suami dan anaknya.

Sejak baru pertama kali datang ke mansion keluarga Smith, terutama mansion suaminya ini. Aleya sudah terbiasa memasak makanan sendiri, tanpa bantuan dari para pelayan. Bukan karena ia ingin mengikuti kebiasaannya saat di Indonesia, tetapi memang suaminya tidak akan makan jika bukan masakan Aleya. Ia pun terkejut saat mendengar perkataan dari para pelayan, bahwa John tidak pernah makan masakan di rumah, pria paruh baya itu mengatakan jika masakan semua maid bau, tidak wangi dan menggugah selera. Terkadang pria itu pergi ke restoran yang menurutnya memiliki makanan lumayan tidak berbau, padahal semua masakan dan makanan di restoran tersebut sangat enak.

Pertama kali Aleya mencoba memasak makanan dari Indonesia, sebab ia belum belajar memasak makanan di negara ini. Untuk pertama kalinya John makan dengan lahap di hadapan Aleya dan para pelayan sambil memuji-muji masakan itu. Aleya melarang semua pelayan untuk mengatakan siapa yang memasak makanan tersebut, sebab takut John akan marah. Ia secara tidak sengaja menggunakan dapur milik pria itu sekaligus tidak meminta izin untuk memasak makanan.

Setelah menghabiskan makanan, ia menatap ke arah Aleya, lalu beralih ke pelayan dan bertanya. Karena sang tuan tidak menyukai kebohongan apalagi itu dilakukan oleh pelayan, akhirnya mereka semua mengatakan kebenarannya. Awalnya John marah, menatap tajam ke arah Aleya dan membentak wanita itu. Namun, setelah mendengar alasannya, John jadi tidak tega dan meminta maaf. Hingga saat ini ia terus memasakkan makanan untuk suami dan anaknya, bahkan pernah untuk selingkuhan sang suami.

"Mom, apa Mommy tidak lelah setiap hari memasak terus?" tanya Xerdan.

Aleya tersenyum. "Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin Mommy lelah, hanya karena memasak. Lagi pula masakan ini untukmu dan daddy-mu, sehingga Mommy akan mendapatkan pahala karena mengurus kalian dengan baik."

"Aku sudah jarang berada di rumah, Mom. Jadi, tidak perlu memasak lagi. Biarkan saja pria tua bangka itu memasak sendiri atau membelinya di restoran, atau mungkin meminta selingkuhannya itu memasakkan makanan," sindir Xerdan, tetapi tidak ada orang yang merasa tersindir, karena daddy-nya tidak berada di sana.

Setelah menyusun wadah-wadah yang berisi masakannya tersebut di atas meja makan, Aleya melangkah pergi meninggalkan Xerdan yang sedari tadi memperhatikan kegiatan sang mommy. Baru beberapa langkah, tiba-tiba suara putra tunggal wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya.

"Mommy mau ke mana?" tanya Xerdan dengan dahi berkerut.

"Habis memasak, duduklah dan makan. Mengapa pergi? Apa Mommy tidak ingin makan bersamaku?"

Aleya menggelengkan kepalanya seolah mengatakan tidak. Entah Xerdan pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu. Aleya pun terkekeh pelan mendengar pertanyaan dari sang anak. Baru kali ini pria muda itu bertanya ke mana ia akan pergi, padahal Xerdan seharusnya menyadari ada seseorang yang belum duduk di salah satu kursi ruang makan tersebut.

"Mommy bukan tidak mau makan bersamamu, tapi mau memanggil Daddy," jawab Aleya dengan lembut.

Xerdan mengembuskan napas dengan kasar. "Untuk apa Mommy menyusulnya? Duduklah, Mom. Kita makan berdua, lupakan pria tua bangka itu, oke."

Xerdan berdiri dari duduknya, lalu melangkah ke arah Aleya dan menuntun wanita paruh baya itu agar duduk di sampingnya. Setelah itu, ia memerintahkan para pelayan agar melayani keduanya. "Daddy akan marah jika Mommy makan terlebih dulu," papar Aleya yang menunjukkan rasa takutnya terhadap sang suami.

Xerdan tidak menjawab dia hanya diam, lalu mengedikkan bahunya dengan acuh. Karena tidak ingin membuat sang anak marah, lalu pergi meninggalkan mansion tersebut, akhirnya Aleya pun menuruti perintah pria muda itu. Pasalnya, jika keinginan atau permintaan Xerdan tidak terpenuhi, maka pria tersebut akan marah dan pergi begitu saja.

"Ayolah, Mom. Makan, jangan melamun terus, Daddy tidak akan mati jika Mom sudah makan. Apa Mommy takut pria tua itu marah?"

Aleya menggelengkan kepalanya. "Mom tidak takut dia marah. Sudah terbiasa mendengar, melihat, dan merasakan amarah Daddy-mu. Jika diizinkan, Mommy ingin berpisah dengannya." Wanita paruh baya itu terkekeh pelan.

"No, Mom. Jika untuk berpisah aku tidak akan mengizinkan, meskipun pria tua itu sudah banyak menyakiti Mommy dan aku. Aku ingin memiliki orang tua yang lengkap, lagipula Daddy sudah minta maaf atas kekhilafannya itu. Tapi rasanya aku ingin melihatnya menangis, lalu menjadi sosok iblis saat ditinggalkan oleh Mommy," ungkap Xerdan.

Aleya tertawa mendengar ucapan putra semata wayangnya. Dia benar, seberapa kali pun wanita tersebut disakiti, tetapi tidak menutup kemungkinan jika Aleya merasa kasihan sekaligus takut. Kasihan terhadap Xerdan yang tidak ingin orang tuanya berpisah, lalu takut jika suaminya lepas kendali. Pernah sekali, saat di mana Aleya melihat suaminya tengah berselingkuh dengan seorang wanita yang merupakan kekasih sang suami, lalu ia pun meninggalkan mansion dan pergi ke rumah orang tuanya yang ada di Indonesia seorang diri.

Selama dua bulan sang suami mencari Aleya yang tengah mengandung 7 bulan. Setelah menemukan keberadaan sang istri, ia meminta maaf dan mengatakan semuanya, maksud dibalik perselingkuhan ia dengan wanita tersebut. Bagaimana mungkin orang berselingkuh, tetapi ada maksud lain dari perselingkuhan tersebut? Tentu Aleya tidak percaya, sebab jika ada maksud lain, mengapa suaminya merespon dengan baik perlakuan wanita itu.

Ketika keduanya tengah makan dengan serius, tiba-tiba Jordan masuk ke dalam ruang makan. "Tuan, Nyonya."

"Ah, Jordan. Duduklah, Nak. Ayo, makan bersama, kau pasti juga lapar kan?" ucap Aleya seraya bertanya pada Jordan.

Xerdan menatap tajam ke arah Jordan, lalu berkata, "Sudah aku duga, kau pasti akan datang ke ruang makan. Apa ibumu tidak memasak? Sehingga kau selalu saja meminta masakan mommy-ku, mengganggu momen-momen indah antara aku dan mommy saja."

"Xerdan," peringat Aleya.

Jordan terkekeh pelan mendengar ucapan Xerdan dan peringatan dari Aleya. Dia tidak marah akan kalimat-kalimat pedas yang keluar dari bibir tuannya, sebab sudah terbiasa. Iya, ia selalu ikut makan masakan Aleya ketimbang pulang ke rumah orang tuanya, meskipun Xerdan menyindir secara terang-terangan, tetapi dia tidak peduli.

"Ayolah, Tuan. Anda tidak akan jatuh miskin, hanya karena masakan Nyonya yang aku makan."

Ketika tengah asyik makan dan berbincang, ketiganya pun dikejutkan oleh suara seseorang. "Sedang apa kalian di sini?" tanya orang tersebut, membuat ketiganya mengangkat pandangan ke asal suara.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel