Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 5

Xerdan maupun Jordan tidak ada yang menjawab pertanyaan dari orang tersebut. Apalagi Aleya yang tidak mampu bersuara. Kedatangan pria itu bak setan yang tiba-tiba muncul dan bersuara. Jika kalimat sapaan yang keluar dari mulut pria paruh baya itu, mungkin bisa saja mereka sahut. Dan tidak akan terkejut.

Namun, kalian harus tahu satu hal. Jika pria di hadapan mereka bukanlah orang yang suka basa-basi dengan menyapa atau memanggil nama seseorang terlebih dulu, pria itu sangat-sangat tidak menyukai kalimat tersebut. Itu menurut Xerdan, bukan menurut orang lain. Mungkin bisa saja jika bertanya pada orang lain maka mereka akan memuji pria paruh baya tersebut, sebab jika ingin mengetahui siapa pria itu kepada Xerdan? Percayalah, hanya keburukannya yang akan ia ceritakan.

Sama hal nya jika beranya pada Jordan, maka kejelekan pria paruh baya itu yang akan mewakili tentang pertanyaan siapa pria itu. Tangan kanan dengan sang tuan bukankah harus sehari jika menceritakan tentang pria yang mereka tidak suka, bukan tidak suka, lebih tepatnya yang membuat mereka kecewa. Mereka? Tidak! Hanya Xerdan dan sang mommy yang dibuat kecewa, sedangkan Jordan hanya ikut-ikutan saja.

Bagaimana mungkin ia hanya ikut-ikutan saja? Tentu itu akan menjadi mungkin jika berurusan dengan tuannya. Siapa pun yang berani mengusik sang tuan, maka ia akan berhadapan dengan Jordan, dan siapa pun yang tidak disukai oleh Xerdan. Maka Jordan adalah orang pertama yang tidak akan menyukai orang itu.

Pria paruh baya itu menaikkan sebelah alisnya. "Daddy tanya sekali lagi, kalian sedang apa di sini?" tanya pria paruh baya yang menyebut dirinya daddy.

"Apa kalian sudah tuli dan bisu? Sehingga tidak mampu mendengar dan menjawab pertanyaanku?" lanjutnya.

Meskipun sudah berusia setengah abad, bukan berarti pria itu jelek dan tua. Jujur saja, pria yang menyebut dirinya sendiri daddy itu, sangat tampan meski sudah dimakan usia, badannya masih segar dan atletis. Mungkin jika berada di luar mansion, siapa yang bisa menebak ada banyak perempuan yang mengantri untuk menjadi penghangat ranjang, pelakor, dan sebagainya. Namun, karena pria itu sudah berkaca dari kesalahan sebelumnya, maka ia tidak akan berani melakukan hal jahat tersebut.

"Apa kau tidak melihat? Aku, Jordan, dan Mommy sedang makan. Seharusnya kau sudah tahu hal itu, tanpa bertanya lagi. Karena sudah melihatnya," sinis Xerdan.

"Di atas meja makan banyak sekali piring-piring yang berisi makanan, Tuan! Kau melihatnya kan? Jadi, tidak perlu berbasa-basi dengan bertanya sedang apa aku di sini?" lanjut Xerdan seraya memutar bola matanya dengan jengah.

"Orang yang berada di ruang makan, tentunya ia datang untuk makan. Bukan bersenang-senang apalagi bercinta di sini. Kalau kau mau bertarung, pergilah ke ruang latihan. Jangan mengganggu kesenangan orang dengan pertanyaan bodoh itu." Lagi-lagi Xerdan berucap dengan nada sinis.

Semua orang tahu akan Xerdan yang tidak pernah akur dengan sang daddy. Pria itu selalu saja sinis dan mudah emosi jika berbincang dengan daddy-nya, bahkan tidak segan ia akan mengajak pria paruh baya itu berkelahi. Meskipun ujung-ujungnya mereka akan saling meminta maaf karena telah melukai sesama.

"Kau tidak sopan sekali, Xerdan! Apa Aleya tidak mengajarkan sopan santun kepadamu? Sehingga kau selalu berperilaku seperti ini kepadaku. Aku bertanya dengan lembut dan perlahan, tetapi jawabanmu mengapa seperti itu, heh?" ujar pria paruh baya yang merupakan suami Aleya sekaligus ayah kandung dari Xerdan.

Jordan yang tengah berada di sana hanya bisa terdiam dan fokus untuk makan. Bukan karena ia sangat lapar atau berpura-pura tidak mendengar dan melihat hal apa pun yang mereka lakukan, apalagi berada di sana untuk mengusut rasa penasaran terhadap ketiga keluarga kecil itu. Tentu ia berada di sana karena memang ingin memakan masakan Aleya yang sangat lezat dibandingkan masakan sang mama, lalu ia terlihat biasa saja sebab memang sudah terbiasa melihat mereka seperti itu.

Xerdan terkekeh sinis. "Sopan santun? Mommy-ku sangat baik dalam mendidik putranya, tetapi untuk sopan terhadapmu, maaf itu tidak berlaku. Kau menyalahkan Mommy karena perilaku putramu ini? Lalu, apakah aku harus menyalahkan Grandma, atas perilaku putranya terhadap Mommy-ku. Begitu, heh?" Pria paruh baya itu langsung bungkam mendengar ucapan dengan nada sinis dari putra tunggalnya.

"Xerdan," panggil Aleya dengan lembut, membuat pria itu menatap ke arah wanita yang sudah melahirkannya.

Aleya akan mengeluarkan suara, tetapi langsung tertahan karena ucapan dari putra semata wayangnya. Xerdan sudah mengetahui kalimat apa yang akan keluar dari bibir sang mommy. Pasti kalimat peringatan agar dirinya tidak mengatakan hal tersebut karena tidak sopan, atau jangan bersikap seperti ini takut daddy-nya marah.

"Please, Mom. Jangan terus membelanya, aku tidak suka! Seharusnya dia bersyukur sekaligus berterima kasih kepadaku, karena tidak memperbolehkanmu menggugatnya." Xerdan mengatakan hal tersebut dengan nada dingin.

"Apa maksudnya, Aleya?" tanya pria paruh baya itu.

Xerdan memutar bola matanya dengan malas. "Jangan berpura-pura tidak paham, Dad. Kau adalah orang yang pandai, tidak mungkin tidak mengerti dengan apa yang aku lontarkan," sinisnya.

Jordan yang sudah terbiasa dengan pertengkaran, perdebatan, bahkan perkelahian antara ayah dan anak itu hanya bisa terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia memilih fokus untuk mengisi perut yang sedari tadi meronta-ronta meminta diisi. Aleya yang melihat kefokusan putra dari anak buah suaminya tersebut langsung terkekeh pelan, membuat Xerdan dan John Leonaldo Smith, suaminya, menatap ke arah wanita paruh baya itu.

"Mengapa kau tertawa, Ale?" tanya John dengan nada datarnya.

Aleya menatap ke arah pria paruh baya yang sudah hidup bersamanya selama puluhan tahun itu, lalu menjawab, "Apa kau tidak punya otak, Leo? Bukankah kau terkenal akan kecerdikanmu? Tentu saja seseorang tertawa karena ada hal yang lucu. Jika ia tertawa, tetapi tidak ada hal apa pun yang menjadi alasan untuknya tertawa, itu namanya sudah gila!" cerocos Aleya dengan penuh keberanian, membuat Xerdan menatap mengejek ke arah sang daddy.

Sebenarnya Aleya merasa takut mengatakan hal tersebut, tetapi tidak mungkin ia diam saja jika sudah seperti ini. Tanpa suaminya sadari atau terlihat oleh pria paruh baya itu, diam-diam Xerdan meremas tangan sang mommy. Memberi kekuatan agar wanita paruh baya itu bisa melawan ucapan sang daddy.

"Aleya!"

"Kenapa? Kau mau marah? Marahlah, aku sudah terbiasa mendengar kemarahanmu. Lagipula, ada apa dengan kalian? Tidak bisakah kalian akur, walau hanya sebentar saja. Kau, Xerdan ... apa tidak bisa saja sedikit menghargai dan menghormati Daddy-mu?" John melempar senyum penuh ejekan ke arah Xerdan, membuat pria itu mendengkus sebal.

"Kenapa kau tersenyum? Aku belum selesai bicara! Aku memang takut padamu, tapi bukan berarti aku tidak berhak bersuara di sini. Kau lebih tua dari Xerdan, kau lebih cerdas dibandingkan anakku, tapi mengapa kau terus berpura-pura bodoh?" Kini giliran Xerdan yang tersenyum mengejek ke arah John.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel