Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 3

Jordan memarkirkan mobil dengan benar di halaman rumah mewah nan megah. Sebelum turun dari mobil pria itu terdiam sejenak, lalu menatap ke arah kaca yang bisa memperlihatkan sosok tuannya yang tengah diam juga sembari mengerutkan dahi. Mungkin sang tuan kebingungan mengapa ia membawanya ke mari? Setelah bergelut dengan pikirannya, Jordan  turun dari mobil, ia pun membuka pintu bagian belakang penumpang, yang di mana terdapat sosok pria mengerikan.

Xerdan yang memang tengah terdiam memikirkan sesuatu, entah apa yang jelas Jordan tidak mengetahuinya. Pria itu sedikit terlonjak kaget, lalu menatap ke arah Jordan yang sedang membukakan pintu. Dia menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya, tetapi karena memang pria yang menjadi tangan kanannya itu tidak mengerti, maka tidak ada jawaban sedikit pun.

Jordan malah berucap dengan kalimat yang seakan-akan mereka berada di mansionnya. "Kita sudah sampai, Tuan," ucap Jordan saat membuka pintu mobil tersebut.

Xerdan mendengkus seraya menatap tajam ke arah pria yang tengah menunduk di hadapannya. "Mengapa kita ke rumah orang tuaku? Ayo, pulang ke mansionku."

Jordan bodoh atau bagaimana? Seharusnya mereka pulang ke mansionnya bukan mansion milik sang daddy. Apa pria itu mau mencari mati dengan datang ke mari? Apalagi dia tidak suka datang ke mari sebelum waktu kunjungan tiba. Xerdan datang ke mansion orang tuanya, setiap 2  sampai 3 bulan sekali, terkadang bisa lebih. Namun, mengapa sekarang ia harus datang lebih awal? Padahal baru hampir 6 bulan mereka tidak berkunjung ke mari, memangnya salah?

"Maaf, Tuan. Nyonya menghubungiku agar kita ke mansion utama, beliau sudah memasak banyak makanan. Apa Anda ingin membuat wajah Nyonya muram?" sahut Jordan seraya mengajukan pertanyaan yang membuat Xerdan menahan emosinya.

Xerdan berdecak sebal. "Kau ini sebenarnya bekerja kepada siapa, heh? Aku atau Mommy? Jika ingin bekerja dengan Mommy-ku, jadilah pengawalnya," jawab Xerdan dengan nada kesal.

Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran tangan kanan sekaligus sahabat masa kecilnya itu. Mengapa dia selalu menuruti keinginan mommy atau daddy-nya agar membawa Xerdan berkunjung ke mansion ini? Padahal seharusnya ia tidak menuruti perintah siapa pun kecuali perintahnya, memang dasar anak buah kurang ajar. Lihat saja, ia akan membalas perbuatan pria itu yang semena-mena membawanya ke mari, tanpa persetujuan dari dirinya.

Xerdan menatap tajam ke arah pria itu. "Jika kau sudah bosan bekerja denganku, silakan mengajukan berhenti!"

Setelah mengatakan hal itu, Xerdan melangkah meninggalkan sang tangan kanan. Pria itu masuk ke dalam mansion yang menjadi saksi masa kecilnya, ia langsung menuju ke arah meja makan. Mengapa begitu? Karena pada saat ini, sudah pasti sang mommy berada di dapur atau ruang makan untuk menyiapkan makan malam.

Xerdan menatap punggung sang mommy yang tengah berkutat dengan masakan. Wanita paruh baya itu sangat fokus dan teliti, takut jika makanan yang dibuatnya tidak enak di lidah banyak orang, terutama daddy-nya yang tidak tahu diri tersebut. Tiba-tiba pria itu menghampiri sang mommy yang belum sadar akan kehadiran putra tunggalnya, jika sudah fokus terhadap sesuatu pasti sulit mengetahui keadaan sekitarnya. Karena rasa rindu yang sebenarnya sudah membumbung tinggi, Xerdar pun memeluk sang mommy dari belakang, membuat wanita itu terlonjak kaget.

"Xerdan," panggil wanita yang telah melahirkan pria itu dengan nada lembutnya.

Xerdan terkekeh pelan, lalu mengecup pipi sang mommy dengan lama. "Mommy merindukanku, hm?" tanya Xerdan sambil menaikkan alisnya sebelah.

Aleya Dimitri Smith, nama wanita paruh baya tersebut. Wanita yang memiliki kecantikan luar biasa, baik, penyayang, sabar, dan tidak banyak menuntut. Sungguh Xerdan dulu ingin mempunyai istri seperti sang mommy, sebelum hal mengerikan dialaminya.

"Tidak ada seorang ibu yang tidak merindukan putranya, Nak. Kau adalah anak mommy satu-satunya, tidak menutup kemungkinan kalau mommy kesepian." Aleya mengulas senyum tulus.

Xerdan mengembuskan napas dengan pelan, lalu berkata, "Baiklah, Mom. Xerdan akan menginap selama lima hari di sini," ucapnya dengan nada dingin dan datar, membuat Aleya tersenyum lebar.

Xerdan memang bersuara lembut kepada Aleya, tetapi tanpa ekspresi di wajahnya. Apa wanita paruh baya itu akan marah kepada sang anak hanya karena masalah ekspresi atau raut wajah? Tentu tidak, dia sudah terbiasa akan hal itu, sehingga tidak diragukan lagi jika pria tersebut menampakkan hal seperti ini di hadapannya.

Jangan sebuah ekspresi, saat tengah marah pun ia sudah biasa melihatnya. Namun, ketika Xerdan tengah marah besar, maka Aleya tidak pernah diizinkan untuk berdiri di hadapan sang anak atau menemuinya. Karena sisi iblis pria itu akan muncul, berbahaya jika ada yang mendekatinya kecuali sang daddy, dan tangan kanan kedua pria itu. Sebab di saat seperti itu, ia tidak akan mengenal siapa pun, yang ia tahu hanya membunuh dan membunuh. Siapa pun orang yang ia temui dan berdiri di hadapannya, maka orang tersebut menjadi objek nyata dirinya.

"Mommy senang kamu mau menginap di sini, sekarang duduklah, Nak. Mommy akan menyelesaikan masakan dulu. Kau harus makan masakan yang mommy buat," sahut Aleya dengan senyum yang masih merekah indah di bibirnya.

Sebelum melangkah ke arah meja makan, Xerdan kembali bersuara sambil menyandarkan tubuhnya ke meja pantry. "Aku dengar dari Jo, Mom menghubungi ia karena ingin bertemu denganku? Dan memasak makanan yang banyak untukku?" tanya pria itu dengan sebelah alis yang diangkat, menambah kesan tampan pada dirinya.

Aleya mengalihkan pandangan dari masakannya. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala. "Tidak, Sayang. Mom hanya bertanya, apa kalian sibuk? Jika tidak sibuk datanglah ke mari, mom akan masak yang banyak. Dan Jo mengatakan, katanya kalian tengah sibuk. Ya sudah, mom bisa apa?" jelas Aleya yang memang selalu berkata jujur jika ia tidak merasa melakukan sesuatu.

Xerdan mengepalkan tangannya. Jordan memang benar-benar menguras emosi, dia selalu berbohong untuk kepentingan dirinya. Tentu saja untuk kepentingan diri pria itu, bukan ia. Sebab dengan datang ke mari, maka Jordan akan merasakan masakan sang mommy. Bohong jika pria itu datang ke mari karena merasa kasihan kepada sang mommy, itu hanya alibinya saja.

"Oh seperti itu ya, Mom? Tapi dia mengatakan padaku ...." Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Aleya pun memotong ucapan itu.

Aleya mengembuskan napas dengan perlahan seraya tertawa pelan. "Sudahlah, kau tahu sendiri Jo itu suka sekali menjahilimu dengan kebohongannya. Mungkin saja dia ke mari dengan dua alasan," sela Aleya.

"Dua alasan?" beo Xerdan dengan dahi berkerut.

"Iya, dua alasan. Yang pertama karena merasa kasihan pada mom, yang kedua karena merasa lapar. Kau kan tahu dia senang sekali datang ke mansion ini hanya untuk meminta makan bukan?" Xerdan mengerti sekarang apa yang dikatakan oleh sang mommy.

Tanpa menjawab ucapan sang mommy yang memang sangat benar dan tepat sasaran. Pria itu pun mengecup pipi wanita paruh baya tersebut sembari terkekeh pelan, tetapi tanpa ekspresi. Entah bagaimana jadinya? Jika tertawa tanpa ekspresi apa pun.

Xerdan melangkah ke arah meja makan dan duduk di sana. Pria itu menatap sang mommy dengan pandangan yang sulit diartikan, sebab ia bingung harus berekspresi seperti apa? Aleya begitu senang hanya dengan kehadirannya, padahal Xerdan tidak pernah memberikan senyum kepada wanita paruh baya itu ketika bertemu atau berpapasan dengannya. Namun, sudut bibir pria itu terangkat meskipun hanya sedikit, seolah tidak terlihat ia tengah tersenyum.

"Selalu bahagia, Mom."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel