Bab 5 Menodai Persahabatan
Pagi hari, di kantor, Fanny dengan membawa kantong berisi pakaian kerja milik temannya, juga tas yang kemarin malam dia bawa dari hotel tempat acara, berjalan keluar ruang kerjanya menuju lantai bawah. Ia ditelepon oleh nomor asing dan diminta untuk mengirim barang-barang itu menggunakan taksi.
"Cha, apa ini tidak masalah? Mengantar barangmu menggunakan taxi? Padahal nanti sepulang kerja aku bisa mengantarkannya ke rumah!" ucap Fanny sedikit khawatir. Ia bersiap menghentikan taksi sesuai dengan arahan Marissa yang ada di seberang telepon.
"Tidak apa-apa! Kau jangan khawatir. Pasti sampai, kok!" balasnya dengan singkat.
Fanny pun mengerti. Ia segera mencatat alamatnya, lalu memberikannya pada sopir taksi.
Tadi pagi, Marissa sudah meminta izin untuk mengambil cuti selama tiga hari karena dirinya tidak enak badan. Bukan hanya seluruh badannya yang terasa tidak enak, tapi juga perasaannya. Pergulatannya drngan bos baru tadi malam di kamar hotel membuat Marissa sangat malu dan juga stres. Apalagi kalau harus bertemu dengan bos barunya di kantor, itu akan membuat Marissa semakin tidak nyaman.
***
Di dalam gedung perusahaan, lebih tepatnya di ruang kerja wakil presdir, Danendra memanggil beberapa orang dari divisi pemasaran untuk membicarakan masalah pekerjaan. Fanny, Ray, Siska, Kevin, Martha, Sandy dan juga Gilang sudah berdiri di depan meja sambil menunggu perintah dari atasannya.
"Siapkan empat orang untuk pergi ke kota C. Di sana kalian akan bertemu dengan orang dari perusahaan FW. Pastikan mereka terkesan dengan penawaran kita, buat produk terbaru kita masuk ke sana," jelas Danendra dengan serius.
"Baik, Pak!" balas semuanya dengan kompak.
Mulut berkata serius, tapi sorot mata Danendra terlihat tidak fokus. Ia menatap Fanny, Ray, Siska, Kevin, Martha, Sandy dan Gilang silih berganti.
"Di mana reka kalian yang satunya lagi? Apakah anggota tim kalian ada yang bolos kerja?" tanyanya tiba-tiba.
Dari data yang telah ia baca, Marissa bekerja di divisi pemasaran bersama dengan mereka. Dan sekarang, wanita yang tidur dengannya tadi malam itu tidak ada. Padahal ia sengaja mengumpulkan mereka semua untuk mencari Marissa. Ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan dengan wanita itu.
"Siapa, Pak? Marissa?" tanya Ray mengerti dengan dimaksud dari ucapan bosnya.
"Maaf, Pak! Hari ini rekan kami sedang sakit. Dia sudah meminta izin untuk istirahat selama tiga hari. Jadi, untuk tugas kali ini, biar saya, Ray, Fanny dan Kevin yang berangkat," sambung Sandy dengan cepat. Karena Martha dan Gilang harus menyelesaikan tugas mereka di kantor.
"Owh!" Danendra pun mengerti. Ia tidak mempertanyakan hal itu lagi.
"Baiklah! Kalau sudah mengerti, silahkan kembali ke tempat kerja masing-masing!" ucap Danendra setengah mengusir.
Padahal tadi dia lah yang meminta mereka semua untuk datang. Tapi sekarang, dia sendiri juga yang mengusir mereka untuk pergi meninggalkan ruangannya.
"Kami permisi, Pak!" pamit semua orang pada Fanendra. Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Di siang hari, Marissa masih bermalas-malasan di rumahnya sambil menonton acara di televisi. Ada beberapa panggilan masuk di ponselnya, namun ia hiraukan. Apalagi panggilan dari teman baiknya—Ray, Marissa enggan untuk mengangkatnya.
Dari dapur, keluar bocah kecil dengan satu piring berisi makanan. Anak itu menghampiri Marissa yang ada di sofa.
"Ma! Apa Mama benar-benar sakit? Kalau sakit, harusnya Mama pergi ke dokter, bukan malah duduk di rumah," ucap polos Mario sambil berjalan ke arah ibunya, lalu duduk di kursi samping.
"Eh, Ayang!" Marissa menarik anak itu ke dalam pelukannya. Ia menjawab, "Mama hanya butuh istirahat sebentar saja. Nanti juga sembuh, kok!"
"Hem!" Mario tidak percaya. "Masa orang sakit bisa sembuh begitu saja tanpa minum obat?"
"Ya, bisa dong! Mama kan, kuat!" Marissa mengangkat satu tangan, lalu memperlihatkan otot kecilnya pada Mario.
"Ma—" Baru saja Mario ingin berbicara, tiba-tiba ponsel ibunya kembali berdering.
"Mama, itu ada telepon masuk!" tunjuknya pada ponsel yang ada di atas meja. Ia memberikannya pada Marissa.
"Eh...."
Karena putranya sudah mengambil, Marissa pun segera menerima ponselnya.
'Ray!'
Marissa kembali melihat nama itu di layar ponselnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi buruk.
"Mama ke depan dulu, ya!" ucapnya pada sang anak.
Setelah itu ia beranjak sari sana.
Di teras rumah, Marissa duduk di kursi sambil memegang ponsel ke telinga. Ia sudah menekan tombol hijau, lalu menyapa dengan malas.
Dari seberang telepon, terdengar Ray bertanya, "Cha!Kau sakit, ya? Sudah ke dokter, belum?"
Walau ucapan Ray terdengar sangat khawatir, tapi Marissa tidak tersentuh dengan perhatiannya.
Ia sangat marah pada Ray karena kejadian semalam. Kalau bukan karena minuman dari Ray, dirinya tidak mungkin merasakan hal aneh itu dan tidur dengan bos barunya.
"Ray! Bisa kau jelaskan, apa maksud dari tindakanmu semalam? Kau memberiku minuman, lalu mengajakku beristirahat di kamarmu! Apa itu sudah kau rencanakan sebelumnya?" tanya Marissa dengan dingin tanpa merespon ajakan Ray untuk pergi ke dokter.
Tadi pagi, setelah pulang ke rumah dan mandi air dingin, Marissa semakin tersadar. Ia mulai mengerti dengan apa yang terjadi semalam. Setelah diberi minuman oleh Ray, Marissa tidak minum apapun lagi. Setelah itu, ia merasakan hal aneh, lalu Ray mengajaknya pergi ke kamar hotel. Untungnya, malam itu Ray kembali ke aula untuk mengambil kunci kamar. Kalau tidak, mungkin Marissa akan menghabiskan malam penuh kesakitan itu dengan Ray.
"Apa kau sengaja melakukan hal itu kepadamu, hah? Jawab aku, Raymon!" terik Marissa dengan amarah.
"Aku kira selama ini kita adalah teman baik! Tapi ternyata—" Marissa tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Hatinya teramat sakit mengingat kembali niat buruk Ray pada dirinya.
Padahal selama ini Fanny dan Ray adalah teman terbaiknya, bukan hanya di kantor, tapi juga di kehidupan nyata. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama, bersenang-senang bersama, dan masih banyak lagi hal-hal indah yang mereka lakukan bersama.
Tapi sekarang ... Ray telah menodai persahabatan mereka.
Marissa tidak melupakannya begitu saja.
"Cha! Kau kenapa? Kalau ada masalah, bicara langsung, jangan tiba-tiba marah seperti ini! Aku tidak mengerti!"
