Bab 4 Malam Gila
Danendra sudah tahu dari adiknya bahwa wanita yang tadi pagi menabraknya di kantor adalah seorang janda beranak satu.
Dan itu adalah wanita di depannya ini.
"Apa kau sungguh ingin melakukannya denganku?" cibir Danendra dengan rasa jijik yang tiba-tiba muncul.
"Apa karena aku adalah wakil presdir yang baru di kantormu, hah? Jadi kau ingin tidur denganku, dan nantinya, kau akan menjeratku karena kita pernah tidur bersama?"
"Bu-bukan begitu!" Marissa menggelengkan kepala, menyangkal semua tuduhan Danendra kepada dirinya.
"Lantas, karena hal apa kau melakukan trik ini?" tanya Danendra dengan posisi masih berada di atas tubuh Marissa.
Danendra merupakan pria dewasa normal berusia 31 tahun. Ia juga sudah pernah menikah dan memiliki anak. Namun, lima tahun yang lalu, anak dan istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan. Sejak saat itu, Danendra tidak pernah bersentuhan dengan wanita. Sekalipun itu dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya, yang merupakan kembaran dari istrinya.
"Aku ...." Mendengar Danendra berbicara, tubuh Marissa malah semakin tidak nyaman.
Ia tidak bisa menunggu lagi. Reaksi dari minuman yang sudah dicampuri obat itu semakin lama aemakin menyuksanya.
Tanpa aba-aba, Marissa melingkarkan kedua tangannya ke leher Danendra. Dengan satu tarikan saja tubuh pria itu sudah menempel pada tubuh Marissa.
Detik berikutnya, Marissa melumat habis bibir Danendra dengan hasrat yang menggebu.
"Eh ...." Danensea terkejut dengan tindakan berani wanita itu.
Tanpa malu, Marissa terus menciumnya.
Ini pertama kalinya Marissa seintim ini dengan seorang pria. Walau ia mengaku sebagai janda beranak satu, tapi kenyataannya itu hanya kebohongan. Marissa masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapapun.
Dan sekarang, tanpa rasa malu Marissa mencium bibir Danendra dan memaksa pria itu untuk melayaninya.
"Hai, Janda!" ucap Danendra yang sudah terpancing. Napasnya sedikit terengah karena ulah wanita itu. "Kau wanita murahan pertama yang berani menyentuhku!"
Srek!
"Bukankah ini yang kau inginkan, Janda?"
Danendra merobek gaun Marissa dan melemparnya ke lantai.
"Karena kau yang memaksa, aku akan mengabulkan keinginanmu!"
Walau awalnya Danendea menolak Marissa, tapi sekarang tidak lagi. Mereka harus menyelesaikan permainan itu karena adik kecil yang sudah tertidur leboh dari lima tahun kini sudah terbangun. Dan, Danendra tidak bisa mengendalikan hal itu.
"Jangan akhiri permainan sebelum adik kecilku tidur lagi!" ancamnya.
Setelah itu mereka memulai pertempuran.
Danendra yang sudah berpengalaman, terus memimpin permainan dan memainkan tubuh Marissa dengan lihai hingga wanita itu semakin tak berdaya di bawah kendalinya.
***
Pukul lima pagi, Marissa terbangun karena rasa dingin yang menusuk punggungnya. Selimut yang mereka pakaian semalam sudah ditarik oleh Danendra sampai Marissa kedinginan.
Mata Marissa perlahan terbuka. Ia menatap sekeliling yang nampak redup dan sedikit berantakan. Ada banyak pakaian berserakan di lantai menandakan seberapa gilanya permainan mereka semalam.
Mengingat akan permainan gilanya semalam, Marissa semakin tersadar. Ia terperanjat sambil melihat pria di sampingnya. Pria itu memunggunginya hingga tidak tahu ekspresinya seperti apa. Yang terlihat saat ini hanya beberapa bekas cakaran di punggung yang disebabkan oleh cakaran Marissa.
"Hump!" Ia segera mulutnya sendiri. Lqlu turun dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya di lantai.
Seluruh tubuh Marissa terasa sakit bagaikan terlindas truk. Apalagi di bagian bawahnya, itu sangat sakit dan pedih. Rasanya, ada sesuatu yang mengganjal.
Ketika Marissa mengambil gaunnya, gaun itu sudah robek, tidak bisa dipakai lagi. Itu disebakaren oleh Danendra. Semalam ria itu telah merobeknya.
"Aish, bagaimana ini? Bagaimana aku bisa pulang dengan pakaian robek seperti ini?"
Marissa segera berjongkok lagi dan memungut pakaian dalamnya.
Pakaian dalamnya pun juga sama, sudah rusak, tidak bisa digunakan lagi.
Kalau terus berada di kamar itu, orang lain akan tahu kalau Marissa bermalam dengan Danendra. Sebelum itu terjadi, Marissa harus segera keluar dari hotel itu, bagaimanapun caranya.
Tanpa berpikir panjang, Marissa segera memakai kemeja Danendra, juga jas yang sangat besar. Di tubuhnya, jas itu terlihat seperti jubah besar. Namun itu lebih baik daripada tidak memakai apapun.
Marissa bersiap untuk pergi.
"Tunggu!"
Ia ingat, semalam ia tidak membawa tas saat datang ke kamar itu karena kepalanya terasa pusing. Mungkin sekarang tasnya sudah dibawa oleh Fanny.
'Bagaimana dengan uang untuk ongkos taksi?'
Dirinya tidak punya.
Lalu, bagaimana caranya Marissa bisa pulang tanpa ada uang sepeser pun?
Marissa berpikir sambil mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk dirinya pulang.
Akhirnya, Marissa memberanikan diri mengambil dompet Danendra yang ada di atas nakas. Ia berniat mencuri beberapa lembar uang untuk ongkos taksi.
"Astaga!" Marossa menjatuhkan dompet Kulit berwarna hitam itu karena terkejut. "Siapa foto anak kecil ini?"
Marissa sangat terkejut ketika melihat foto bayi berusia lima bulan yang ada di dalam dompet Danendra. Dan wajah bayi itu ... sangat mirip dengan bayi yang dirawatnya 5 tahun yang lalu.
'Ayang Mario!'
"Kenapa foto ini sangat mirip dengan wajah putraku, Mario?"
Tidak ingin memikirkan hal-hal yang akan membuatnya pusing, Marissa pun segera mengambil dompet itu lagi. Lalu mengambil tiga lembar uang berwarna merah milik Danendra. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu sebelum orang lain melihatnya.
