Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Dia Sudah Gila

Keesokan harinya, pagi sebelum Ray pergi bertugas ke luar kota, Marissa duduk di salah satu kafe bersama Ray. Mereka duduk bersama untuk membicarakan masalah kemarin malam.

"Jadi, kau masih menyangkalnya?" tanya Marissa setelah mendengar penjelasan dari Ray yang masih saja menyangkal.

Padahal semuanya sudah jelas, Marissa merasakan hal aneh setelah diberi minuman oleh Ray.

"Sungguh, Cha! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Kemarin malam aku berniat membantumu, bukan mau memanfaatkanmu," jawab Ray lagi. Masih sama dengan jawaban sebelumnya.

Ray masih berpura-pura tidak tahu dengan kondisi Narissa di malam itu. Padahal, dialah orang yang masukkan obat ke dalam minuman agar mereka tidur bersama. Namun semua rencamanya gagal ketika kunci kamar itu harus tertinggal di dalam saku jasnya.

"Jadi, Cha, kemarin malam itu kau dipengaruhi oleh obat per ...." Ray berpura-pura bodoh. Ia tidak melanjutkan ucapannya.

Ekspresi wajah wanita di depannya sudah sangat buruk. Ray khawatir itu akan semakin buruk kalau dirinya terus menanyakan hal itu secara rinci.

Namun, Marissa mengerti. Ia menjawabnya dengan tegas, "Iya! Aku tahu itu karena ulahmu!"

"Bukan Cha! Itu bukan ulahku! Mungkin itu ulah Fanny. Dia iri karena kemarin malam kau lebih cantik darinya!"

"Cih, menyebalkan! Sekarang malah menuduh orang lain yang melakukanya!"

Walau Ray terus berkata tidak, namun Marissa tidak percaya dengan hal itu.

"Sungguh Cha! Aku tidak tahu! Kita sudah berteman lebih dari satu tahun, tidak mungkin aku melakukan hal bejad itu terhadapmu! Percayalah, Cha!" Rqy mengiba. Ia meraih tangan Marissa di atas meja.

Sebelum tangannya berhasil menggenggam tangan halus Marissa, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari sampingnya, "Bukankah seharusnya kau sudah berangkat ke Kota C?"

"Eh!" Ray segera menarik tangannya kembali. Ia menoleh ke samping, melihat orang yang ada di sampingnya.

Seketika Ray terkejut.

"Pak Danen?"

"Masih tidak pergi? Bukankah sebentar lagi pesawatnya akan berangkat? Atau, kau berencana untuk tidak pergi?" tanya Danendra dengan sinis. Ia menatap Ray dan Nqrissa silih berganti.

"Tidak, Pak!" Ray segera berdiri.

Ia takut dipecat, segera membungkuk hormat pada Danendra. "Saya akan berangkat sekarang!"

"Emh! Pergilah! Jangan lupa bayar dulu tagihanmu!" balas Danendra, masih dengan sinis.

"Baik Pak!"

"Aku pergi dulu, ya!" bisik Ray pada Mqrissa. Lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.

Walau masih banyak hal yang ingin Ray bicarakan dengan Marissa, terpaksa ia harus segera pergi. Kalau tidak, mungkin Danendra akan benar-benar memecatnya.

Melihat Ray pergi, Marissa pun berniat untuk keluar. Tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal.

Marissa memberi hormat dengan membungkukan badan pada Danendra, lalu pergi keluar dari kafe tanpa berkata apapun.

Mengucapkan kata "Permisi." pun, tidak.

Tadi, dari seberang jalan, Danendra sengaja turun dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam kafe setelah melihat Ray dan Marissa duduk di sana. Sebelum benar-benar sampai ke meja mereka, Danendra mendengar percakapan Marissa dan Ray tentang kejadian kemarin malam.

Tapi sekarang, Marissa tidak berkata apapun pada Danendra, dia malah mengabaikannya.

Di trotoar jalan, Marissa berjalan dengan terburu-buru tanpa mempedulikan apapun. Ia menatap kiri dan kanan lalu menyeberang jalan diikuti Danendra dari belakangnya.

"Hey, tunggu!" teriak Danendra pada Marissa sambil terus berjalan.

Marissa pun segera menghentikan langkah kakinya. Ia merapikan emosinya, lalu berbalik badan menghadap Danendra.

Dengan berani, Marissa berkata pada pria itu, "Maaf Pak, untuk kelancangan saya kemarin malam, saya sungguh minta maaf! Kejadian itu dibawah kendali saya. Tapi Anda tenang saja, saya tidak akan menjerat Anda, atau memaksa Anda untuk bertanggung jawab atas kejadian itu. Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan melakukan hal itu!"

"Lebih baik kalau masing-masing dari kita melupakan kejadian itu. Anggap saja itu sebagai mimpi buruk yang tidak pernah terjadi," tambah Marissa dengan pelan.

Ia sangat malu membahas hal itu dengan pria yang pernah tidur dengannya.

Setelah mengatakan panjang lebar pada Danendra, Marissa pun berbalik badan dan berniat untuk pergi.

"Saya permisi!"

Baru beberapa langkah berjalan, Danendra kembali memanggilnya.

"Marissa, tunggu!"

Langkahnya kembali terhenti. Namun kali ini Marissa enggan untuk berbalik badan. Menurutnya semuanya sangat jelas, sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.

Walau tadi dirinya yang meminta maaf pada Danendra, tapi sebenarnya yang dirugikan dalam masalah ini bukanlah pria itu, tapi Marissa. Danendra lah yang menikmati malam gila itu dan menyiksa Marissa sepanjang malam.

Kalau membicarakan masalah rugi, siapa yang rugi? Jelas saja itu Marissa. Wanita itu dirugikan secara fisik dan mental.

Namun, jawaban dari Darendra benar-benar mengejutkan Marissa. "Kembalikan kemeja dan jasku!"

"Heh?"

Marissa segera menoleh ke belakang, lalu menyebutkan kembali dua barang milik pria itu.

"Ke-kemeja, jas?"

Marissa pikir pria itu memanggilnya untuk membahas masalah tadi malam. Tapi ternyata, dia memanggilnya hanya untuk menanyakan kemeja dan jas yang kemarin Marissa pakai.

"Iya! Bukankah kemarin kau kabur dengan membawa kemeja dan jasku? Kau juga mencuri uang dari dompetku!"

"Uhuk! Uhuk!"

Marissa hampir mati tersedak mendengar ucapan pria itu.

'Tidak disangka, Pak Danen begitu perhitungan! Bukankah dia itu orang kaya? Hanya uang segitu saja, harusnya tidak masalah, kan?'

Akhirnya, Marissa berbalik badan dan kembali berbicara, "Maaf, Pak Danen! kemarin, saya memang memakai kemeja dan jas Anda karena Anda sudah menghancurkan pakaian saya. Bahkan, pakaian dalam saya. Dan ... untuk masalah uang ...."

Marissa diam sejenak. Ia meraba semua saku di celananya.

Sepertinya, ia tidak membawa uang sebanyak itu sekarang.

"Uang itu, saya akan menggantinya, besok!"

"Hah, besok? Kenapa tidak sekarang saja?" tanyanya dengan mengangkat kening.

"Sekarang saya tidak membawa uang! Jadi, besok saja!" balas Marissa dengan cepat.

"Emh, besok? Bukankah besok kau masih libur, ya? Apa jangan-jangan kau ingin menipuku?"

'Aish!' Marissa hampir lupa, drinya mengambil libur selama tiga hari. Jadi, besok masih tidak perlu pergi ke kantor.

"Itu ...." Marissa berpikir sebentar untuk mencari alasan. "Besok, saya akan menitipkan uangnya pada Fanny!"

"Fanny?" Danendra mengingatnya, "Besok dia masih berada di Kota C mengurus masalah pekerjaan. Bagaimana bisa menemuiku?"

Tiba-tiba Danendra mendekat. Ia berkata dengan penuh sindiran, "Apa kau ingin menipuku?"

"Ti-tidak!" Marissa mundur satu langkah ke belakang untuk menghindar. Ia tidak ingin berdekatan dengan pria itu.

Wangi tubuh Danendra sangat jelas tercium. Wangi itu mengingatkan Marissa pada kejadian kemarin malam. Malam penuh kesakitan.

"Tidak!" Marissa mendorong tubuh Danendra agar menjauh. Ia tidak ingin mengingat apapun tentang malam itu.

"Ayo! Aku akan mengambil uang dan pakaianku di rumahmu!"

"Apa??? Ke-ke rumahku?"

'Bos macam apa ini? Apa dia sudah gila?'

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel