Bab 3 Apa yang Kau Lakukan
Seluruh tubuhnya terasa gatal dan panas, Marissa mengira itu karena alerginya kambuh. Padahal, itu karena hal lain.
"Duduklah dulu!" Ray masih memegang kedua bahu Marissa, lalu membantu wanita itu untuk duduk.
"Apa mau istirahat dulu di kamar sebelum pulang? Kalau dipaksakan pulang dalam kondisi seperti ini, khawatir kau pingsan di jalan!" ucap Ray masih dengan khawatir. Namun ada senyum samar di bibirnya yang tidak terlihat oleh siapapun.
"Kebetulan, ada satu kamar yang tadi sudah aku pesan. Kalau mau, aku akan segera mengantarmu ke sana! Kau bisa istirahat sebentar," tambah Ray lagi.
Marissa mendengarnya, namun tidak ada waktu untuk berpikir. Reaksi aneh pada tubuhnya saat ini begitu mengganggu konsentrasinya. Ia tidak tahu mau ke mana dan mau apa. Yang jelas, saat ini ia kepanasan dan rasanya sangat tidak nyaman.
"Baiklah! Aku antar ke kamar, ya!" ucap Ray setelah beberapa saat tidak mendengar jawaban dari Marissa.
Diamnya Marissa, Ray anggap sebagai jawaban "Iya" atas tawarannya pergi ke kamar hotel.
Fanny yang ada di sampingnya sedikit heran, juga khawatir dengan kondisi Marissa. Namun, setelah mendengar Ray akan membawanya istirahat, Fanny pun sedikit lega. Ia menyerahkan sahabatnya itu pada Ray.
Kamar hotel yang dipesan khusus untuk para karyawan masih ada di lantai 5, tepat di samping aula tempat acara. Dari mulai petinggi perusahaan, hingga karyawan biasa, kamar yang dipesan sama-sama ada di sana.
Marissa dibawa oleh Ray sampai ke depan pintu kamar nomor 551. Tubuhnya masih terasa panas dengan kaki yang mulai bergetar hebat. Denyutan itu pun semakin lama semakin menyiksanya.
Dengan susah payah Marissa berkata pada Ray, "Ce-cepatlah! Ahhmm! Aku sudah tidak kuat!"
Marissa tidak sabar ingin segera masuk ke dalam kamar dan melepas semua pakaiannya untuk menghilangkan rasa panas di tubuhnya.
"Ya! Tunggu sebentar!"
Ray pun meraba semua saku di celananya, juga saku kemeja yang dipakainya. Ia mencari kunci kamar yang tadi sudah dia terima dari staf khusus yang menangani masalah kamar untuk para karyawan. Namun sepertinya kunci itu tidak ada di sakunya.
"Aish, sial!" maki Ray ketika menyadari tubuhnya sudah tidak lagi memakai jas.
Ray segera melepaskan Marissa. Lalu berpesan pada wanita itu untuk menunggunya di sana.
Setelah mendengar jawaban "Ya!" dari Marissa, Ray pun beegegas kembali ke aula untuk mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi.
Semakin lama Marissa semakin gelisah. Ia bergeser sedikit demi sedikit hingga bersandar di pintu sebelah.
Dari dalam kamar itu, seseorang membuka pintu secara tiba-tiba. Itu mengakibatkan tubuh Marissa tidak seimbang dan hampir terjungkal ke belakang.
Untung saja, orang yang membuka pintu itu segera menangkap tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
Dalam posisi yang sangat intim, kedua mata mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
Entah mengapa, Marissa merasakan tubuhnya sangat nyaman ketika bersentuhan dengan pria itu. Apalagi ketika tangan dingin pria itu menyentuh pinggang dan lehernya yang polos. Itu rasanya benar-benar sangat nyaman.
Inginnya berbicara, namun malah suara desahan yang keluar dari mulut Marissa. Ia pun ingin menampar wajahnya sendiri karena malu.
"Kau!" tunjuk pria itu ketika melihat wajah Marissa.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Danendra sambil melepaskan tangannya dari tubuh Marissa. Tatapannya kembali tajam melihat wanita yang tadi pagi sempat menabraknya di kantor.
Marissa sedikit tersadar. Ia menegakan punggungnya dan berdiri sambil mendongak, menatap pria tinggi dan tampan itu dari dekat.
"Eh, Pak Danen! Sa-saya minta maaf! Sa-saya mau ke kamar sebelah," ucap Marissa dengan susah payah.
"Kamar ini? Tapi kenapa malah masuk ke kamar saya?" tanya Danendra dengan sinis.
"Eh ...." Marissa pun terdiam dengan tuduhan itu.
Ia mencoba menjelaskan, "I-itu! Bu-bukan maksud saya! I-ini kuncinya ketinggalan, teman saya sedang mengambilnya!"
"Oh! Kalau begitu silahkan menunggu di luar!" balas Danendra, mempersilahkan Marissa untuk meninggalkan kamarnya.
"Ah akuh ...." Marissa bingung harus berbuat apa.
Semakin berdekatan dengan pria itu, hasratnya malah semakin menggebu. Otaknya tiba-tiba menjadi kosong dan keinginan untuk membuka pakaian semakin kuat.
Tanpa rasa malu, Marissa segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan cepat. Ia mendorong tubuh Danendra sampai pria tampan itu terjatuh di atas sofa yang empuk.
"Eh, apa yang kau lakukan?" tanya Danendra yang sudah berbaring di sofa. Marissa naik ke atas tubuhnya dan menekannya.
"Aku... beri aku ...." ucap Marissa dengan tidak tahu malu.
Marissa menunduk, menatap wajah Danendra dari jarak yang sangat dekat.
Dengan posisinya saat itu, pria iti pun bisa melihat pemandangan indah yang ada di tubuh Marissa.
"Cepatlah!"
Marissa setengah sadar saat mengatakan keinginannya. Reaksi dari minuman itu amat sangat menghancurkan rasa malu dan benteng pertahanannya.
Namun, detik berikutnya Danendra mengubah keadaan. Ia berbalik badan dan menarik Marissa hingga posisi mereka berbalik.
Marissa kini berada di bawah tubuh Danendra.
"Apa semua janda di negeri ini begitu tidak tahu malu sepertimu? Masuk ke kamar pria dan langsung melakukan penyerangan secara sepihak?" tanya Danendra terdengar marah.
