Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Perasaan Aneh

Pukul tujuh malam di sebuah hotel berbintang di Kota A, semua orang sudah berkumpul dan sudah selesai menyantap makanannya. Marissa yang memakai gaun pesta selutut dengan belahan punggung yang sangat seksi, berdiri dari duduknya. Ia bersiap untuk pergi ke belakang.

"Mau pergi ke mana?" tanya Fanny ketika melihat wanita cantik itu bersiap untuk pergi.

Marissa melihat semua orang yang ada di pesta itu sedang bernyanyi dan berdansa. Rasanya, di sini terlalu ramai untuk melakukan panggilan telepon.

Lalu ia berkata pada Fanny, "Di sini sangat berisik. Aku mau ke belakang untuk menelepon Mario!"

"Oh, itu!" Fanny pun mengerti, ia segera mengangguk. "Baiklah! Sana pergi!"

Marissa pun keluar dari ruangan itu. Ia segera pergi ke toilet untuk menelepon putranya.

Setelah memastikan putranya baik-baik saja, Marissa pun segera memesan makanan dari aplikasi di ponselnya untuk putranya di rumah. Untungnya, kurir yang mengantar makanan adalah kurir langganannya, jadi Marissa tidak perlu khawatir lagi.

Ketika Marissa sudah masuk kembali ke dalam ruangan, tiba-tiba ada teman yang menghampiri Marissa sambil membawa dua gelas minuman berwarna merah.

"Ray?" tanya Marissa pada pria itu.

"Dari mana saja kau, baru kelihatan?" tanya Marissa dengan heran.

Padahal tadi di kantor, pria itu tidak ada sama sekali.

"Hai, Cha! Baru saja aku mau mencarimu," balas Raymon—teman baik Marissa dan Fanny di kantor.

"Bukankah hari ini kau tidak masuk kerja, ya?" tanya Marissa masih dengan herannya. Namun itu membuat Raymon tersenyum.

"Ya, itu benar! Tadi aku izin dulu tidak masuk kerja. Ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan di luar," jelasnya sambil mengulurkan tangan, memberikan satu gelas berisi minuman pada Marissa.

"Terima kasih!" Ia pun menerimanya.

Tanpa rasa curiga, Marissa segera meneguknya sedikit.

"Kau sangat licik! Waktunya bekerja malah tidak masuk. Tapi, giliran ada pesta, kau hadir tanpa rasa malu sedikitpun!" ejek Marissa pada Ray. Lalu mengajaknya untuk mencari Fanny.

Sambil berjalan, Ray berbicara, "Haha, ya! Aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Bisa makan gratis dan menginap di hotel berbintang secara gratis, ini tidak akan datang dua kali. Kita jangan menyia-nyiakannya, kan?"

"Hah? Menginap? Apa telingaku tidak salah mendengar?" tanya Marissa sambil menoleh ke arah Ray.

Leher putih dan panjangnya tanpa terhalang oleh apapun terpampang jelas di depan mata Ray. Rambut panjangnya digulung ke atas, memperlihatkan punggungnya yang putih, mulus, dan juga seksi.

Tiba-tiba pria itu menelan air liurnya sendiri. Tidak tahan melihat indahnya tubuh Marissa, termasuk bagian leher dan punggung yang polos.

"I-iya, lah!" Ray segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak lagi melihat Marissa.

"Ada kesempatan ini kita jangan melewatkannya!"

"Aku tidak bisa!" balas Marissa dengan pelan. Mereka masih berjalan menuju meja Fanny yang ada di belakang.

"Di rumah anakku sendirian! Aku tidak boleh meninggalkannya terlalu lama!"

"Tidak apa-apa! Hanya satu malam saja. Bukankah sebelumnya kau juga pernah meninggalkannya sendirian di rumah ketika kita ada tugas ke luar kota? Apa kau sudah lupa?" tanya Ray sedikit memaksa. Terlihat bahwa pria itu sangat ingin Marissa menginap di kamar hotel bersamanya.

"Ya! Itu, kan, berbeda! Waktu itu kita pergi untuk menjalankan tugas dari kantor. Bukan sengaja pergi untuk bersenang-senang seperti sekarang ini!"

Marissa mengalihkan pembicaraan. "Sudahlah, ayo!"

Ia berjalan semakin cepat menuju mejanya.

Ray pun tidak berbicara lagi. Ia mengikuti langkah Marissa dan berjalan menghampiri Fanny.

Waktu berlalu sangat cepat, jam sembilan malam waktunya Marissa untuk pulang.

"Aku pulang sekarang, ya! Tidak tenang meninggalkan Mario sendirian di rumah!" ucap Marissa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.

"Ya udah, hati-hati, ya! Aku pulang nanti saja setelah acaranya selesai!" balas Fanny.

Sedangkan Ray hanya diam saja sambil sesekali melihat gelas kosong yang ada di hadapan Marissa.

Setelah itu Marissa pun berdiri.

"Eh!" Ketika berdiri, kepalanya terasa pusing. Ia merasakan seluruh tubuhnya panas dan juga gatal. Bahkan, ada denyutan aneh yang terasa di bawah perutnya.

'Eh, aku ini kenapa?' Marissa terheran.

Dari tadi tubuhnya memang sudah tidak enak, namun ia masih bisa menahannya karena konsentrasinya teralihkan ke hal-hal yang ada di pesta tersebut.

Marissa pun segera membuang napasnya kasar. Ia tidak bisa mengontrol diri dengan hasrat yang tiba-tiba muncul. Padahal perasaan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

'Ada apa denganku?'

Ray yang masih duduk di kursinya tiba-tiba menyadari keanehan pada diri Marissa. Dengan segera ia berdiri, meraih pundak polos Marissa dan menunduk untuk melihat wajah cantik itu yang semakin lama semakin memerah.

"Cha! Kau kenapa? Apa tidak enak badan?" tanya Ray dengan penuh rasa khawatir.

Fanny pun menyadari keanehan itu. Ia ikut bertanya, "Iya Cha, kau kenapa? Apa kau sakit?"

"Ah, aku ...." Marissa berusaha untuk menjawab, "Entahlah, aku juga tidak tahu! Sepertinya alergiku kambuh!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel