Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 - Siapa Arsen Sebenarnya?

"Apa tolok ukurmu dalam menilai seseorang?"

~~~

"Pewaris keluarga Garendra, telah dinyatakan hilang. Sampai saat ini, masih dilakukan penelusuran. Sementara pihak keluarga--"

Teet ....

Layar berukuran 100 inch itu mati seketika, saat Raline dengan kesal menekan tombol power. Membanting remote control dengan wajah masam. Berita yang ditayangkan sama sekali tidak bermutu. Meskipun di sana menceritakan tentang dirinya yang menghilang.

Ya, itu adalah berita mengenai Raline Garendra yang menghilang. Pewaris sah keluarga Garendra yang digadang-gadang akan mengemban semua aset serta kekayaan besar milik sang ibu, yang sudah lebih dulu pergi ke alam lain. Raline akan memiliki semua itu, tepat saat usianya beranjak dua puluh lima tahun, yang artinya tinggal dua bulan lagi.

Namun, setelah melihat tayangan televisi, apa dia tidak salah dengar kalau mereka tengah mencarinya? Rasanya sangat mustahil untuk dia percaya. Aneh saja, keluarganya yang selama ini selalu acuh, kini tiba-tiba mencarinya. Raline bisa melihat ibu dan adik tirinya yang menangis, dengan ayahnya yang merangkul mereka, seolah-olah memberi semangat. Mungkinkah ini nyata, atau hanya sandiwara? Harusnya mereka senang bukan, karena dia tidak ada di rumah? Iya, ini pasti hanya pura-pura agar orang-orang yang melihatnya merasa bersimpati.

Raline sontak mengambil bantal yang ada di sampingnya, dan menggigitnya dengan gemas. Bayangan saat ibu dan adik tirinya berpesta pora, langsung terngiang di kepalanya. Tahu kalau ini yang mereka inginkan. Kematian, atau dirinya yang menghilang. Karena mereka hanya menganggapnya sampah.

Orang-orang tidak tahu diri. Raline ingin sekali cepat-cepat keluar dari rumah ini dan memberi pelajaran pada mereka. Jika dia bebas nanti, Raline akan melawan. Dia tidak mau lagi berpura-pura lemah sampai harus diinjak-injak. Sayangnya, Raline harus terkurung di sini tanpa bisa melakukan apa-apa. Tanpa siapa-siapa. Tidak, dia bersama Ane. Pelayan yang kemarin tanpa sengaja dia bentak. Selain itu, tidak ada.

Di mana Arsen dan Rey? Entahlah, Rey sempat berkata akan pergi selama seminggu. Raline baru tahu kalau laki-laki itu adalah teman Arsen yang menginap semalam. Sedang Arsen, usai percakapan mereka semalam, laki-laki itu langsung pergi tanpa menjawab rasa penasarannya sama sekali. Membuat Raline harus mengeluarkan makian sampai dia tidak bisa tidur karena Arsen yang tidak mau menjawab pertanyaannya.

Mungkin ini adalah kesempatan yang bagus untuknya melarikan diri. Tapi tidak, karena ternyata Arsen telah mengunci pintu kamarnya dari luar. Mengurungnya seperti benar-benar tawanan. Laki-laki itu juga mengatakan kalau dia menyimpan orang-orang suruhannya di balik pintu dan beberapa tempat yang Raline tidak akan tahu. Berkata jika selangkah dia keluar, maka mungkin, orang itu akan langsung menembak matinya.

Gila. Raline tentu langsung merinding ketakutan saat mendengarnya. Hatinya berkata untuk membuktikan itu, karena bisa saja Arsen berbohong. Tapi, Raline terlalu penakut. Dia tidak siap jika harus menjadi kelinci percobaan. Mungkin, ini juga karena Rey mengadukannya diam-diam pada Arsen. Di sini, tidak ada satupun dari mereka yang waras. Itulah yang Raline tangkap dari perilaku mereka dua hari ini. Satu-satunya pilihan, adalah dengan berdiam di kamar.

Bosan? Tentu! Siapa yang tahan berada di dalam kamar seharian tanpa melakukan apa-apa? Ponselnya untuk sekadar bermain saja, tidak ada. Dia tidak bisa melihat situasi di luar. Hanya di dalam kamar. Beruntung, kamar itu sangat luas. Seperti dua ruangan yang digabung.

Di depan ranjang, ada sebuah ruangan untuk bersantai. Meja kerja, dengan rak-rak buku yang tersusun rapi. Sofa-sofa, yang langsung menghadap ke arah jendela dengan tirai terbuka. Menampilkan pemandangan taman yang ada di bawahnya dan pepohonan sejauh mata memandang.

Ini ruangan yang berbeda yang kemarin. Di sini, juga ada tempat makan, tanpa harus Raline pergi ke lantai bawah. Dia sungguh bingung tentunya, entah berapa banyak lagi ruangan yang ada di rumah ini. Ralat, ini lebih layak disebut istana. Mungkin terlalu banyak, sampai dia sama sekali tidak bisa menghafalnya.

Meski harusnya, Raline sudah tak asing lagi dengan rumah bak istana ini. Karena rumahnya, tak jauh beda. Mungkin, sedikit lebih kecil tepatnya. Sayangnya, ada perbedaan yang sangat kentara, di rumahnya Raline tidak pernah mendapat perlakuan istimewa. Kamarnya juga lebih mirip seperti kamar pelayan, dibanding kamar nyonya rumah.

Tok ... tok ... tok ....

Pintu kamar diketuk lumayan keras. Membuat Raline tersadar seketika. Dia menduga kalau Ane lah yang ada di balik pintu itu. Raline tahu namanya karena Rey yang memberitahu itu. "Masuk."

Pintu akhirnya terbuka. Menampilkan sosok Ane yang datang dengan sebuah nampan besar di tangannya. Ada makanan yang jelas tertangkap mata Raline dan segelas air. Ini waktunya pelayan itu memberinya makan. Raline melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas tengah hari. Pantas saja perutnya keroncongan.

Raline melihat Ane yang berjalan ke arahnya dan meletakkan makanan itu di meja makan kecil yang telah siapkan. Dengan wajah kakunya, wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu, menundukkan kepala tanpa berani menatap Raline. Berjalan dan hendak meninggalkan kamar.

"Ane, tolong temani aku," tahan Raline saat melihat Ane berbalik akan kembali keluar. Dia menahan pergelangan pelayan tua itu. Menatapnya dengan wajah memelas. Raline butuh teman bicara. "Hm, itu ... kemarin, maafkan aku. Maaf karena telah membentakmu. Tolong jangan pergi, aku tidak mau sendirian di sini."

"Nona, saya--"

"Tolong temani aku," potong Raline tanpa sempat Ane membantah.

"Baiklah, saya akan temani Nona. Tapi Nona harus makan," putus Ane dengan wajah kaku.

Raline langsung tersenyum cerah. Mengangguk dan berjalan menuju meja makan sembari menarik tangan Ane untuk duduk di sebelahnya. Raline terdiam sejenak sambil menatap piring berisi Beef Steak berwarna kecoklatan dengan sayur dan kentang goreng sebagai pendamping. Sungguh menggugah selera.

"Aku tidak bisa makan sendiri," ucapnya setelah melihat makanan itu.

"Maksud Nona?"

"Bagaimana jika kita makan bersama?" cetus Raline sambil tersenyum manis. Menatap ke arah Ane yang terlihat kaget karena perkataannya.

"Tidak Nona, saya sudah makan."

Raline sontak merenggut kesal, kembali merayu Ane agar mau makan bersamanya. Tapi tidak berhasil, sekali lagi menolak. Membuatnya tidak menyukai jawaban pelayan di sampingnya itu. Oh, atau mungkin ini gara-gara Arsen. Dengan perasaan dongkol, Raline memotong daging itu dan memakannya. Pasti laki-laki itu yang melarang Ane untuk dekat-dekat dengannya.

"Sepertinya, Arsen adalah majikan yang sangat buruk. Bagaimana mungkin dia tega memperkerjakanmu? Tidakkah kau ingin keluar dari sin--"

"Tidak Nona. Anda lagi-lagi salah, Tuan Arsen tidak seperti itu. Tolong jangan pernah berkata buruk tentangnya. Saya bekerja di sini karena keinginan sendiri."

Kening Raline berkerut saat menyadari ekspresi tak suka di wajah Ane karena ucapannya. Apa dia baru saja salah dalam berkata? Raline mulai emosi. "Oh, ya? Kau terlihat sangat membela pembunuh itu."

"Tuan Arsen sudah menganggap saya sebagai ibunya sendiri. Dia sangat baik pada saya. Dan dari mana Nona bisa menyimpulkan kalau Tuan Arsen adalah pembunuh?"

Raline terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Ane. Arsen pembunuh? Kata siapa? Raline juga tidak tahu. Beberapa hari ini, dia hanya menebak karena penampilan laki-laki sangat menakutkan. Apa salah, jika Raline curiga kalau Arsen adalah pembunuh? Melukai pipinya dengan pisau, dan saat matanya tanpa sengaja menatap darah di tangan laki-laki itu. Siapa yang tidak mengira jika Arsen adalah seorang pembunuh? Meski tidak ada bukti yang konkret.

"Mungkin karena dia terlihat menyeramkan."
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel