Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 - Tanpa Diduga

"Tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini. Karena semua orang, memiliki sisi gelapnya masing-masing."

~~~

Di malam yang sepi, minim pencahayaan, Raline tertidur pulas di ranjang. Dengan selimut putih yang membungkus tubuhnya hingga sebatas leher. Tanpa ada rasa takut jika seseorang bisa saja datang dan menghampirinya. Atau mungkin, mencoba untuk membunuhnya. Terlalu lengah, tanpa perasaan awas sedikitpun. Tidak sadar, kalau bahaya mungkin tengah mengincarnya saat ini.

Krieett ....

Suara pintu kamar terbuka secara perlahan. Seseorang masuk ke dalam kamar di mana Raline berada. Berjalan pelan, hingga menimbulkan suara derap langkah saat kakinya beradu dengan lantai. Tidak begitu jelas siapa orang yang masuk itu, tentu karena pencahayaan hanya melalui pantulan sinar bulan. Membuatnya terlihat hanya seperti siluet bayangan laki-laki bertubuh kekar dan tinggi.

Orang itu, menutup pintu saat dia sudah sepenuhnya berada di dalam. Terdiam dan menatap Raline yang tengah tertidur dengan tatapan mengintai. Giginya saling beradu, kekesalan terlihat di wajahnya. Tidak, tapi kemarahan yang ada di sana. Tangannya mengepal kuat, seolah tengah menahan amarah yang akan meledak sebentar lagi.

Dengan tubuh kaku dan langkah tegap, dia berjalan ke arah ranjang milik Raline. Mengamati wanita yang tidur dalam posisi terlentang itu dalam. Matanya yang haus akan pembalasan, tampak berkobar. Terduduk di samping ranjang milik Raline. Hingga kemudian, dia menundukkan wajahnya dan menatap Raline dari jarak yang sangat dekat. Dengan ekspresi dingin, tangannya yang mengepal perlahan mulai mengendur. Melayang kaku dan hendak menyentuh wajah Raline.

"Aku membencimu, jalang." Suaranya terdengar lirih, sarat akan rasa sakit dan kepedihan tapi penuh emosi. Menatap benci ke arah Raline yang tengah tertidur. Tapi lain dengan tangannya yang malah mengelus lembut wajah cantik itu. Sayang hanya sementara, saat kemudian tangan itu beralih dengan cepat ke arah leher dan mencengkeramnya sangat kuat. "Kau harus mati, jalang!"

Matanya melotot, menatap ke arah Raline yang mulai mengalami sesak nafas. Amarah dan kebencian, begitu menguasainya. Hal itu tentu langsung membuat Raline tersadar dalam sekejap. Mata yang tadinya terpejam, kini terbuka. Menatap kaget ke arah laki-laki yang kini mencekiknya begitu kuat.

Raline syok bukan main. Tubuhnya bergetar hebat, ditambah cekikikan itu membuatnya sulit mengambil napas. Bahkan untuk mengeluarkan suara pun, terasa sangat sulit. Tapi Raline tidak mau menyerah pada kematiannya, dia dengan sekuat tenaga berusaha untuk menendang tubuh laki-laki yang ada di atasnya dengan sangat kuat. Tangannya berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan itu. Meski akhirnya tetap sia-sia. Apa yang dia lakukan, tak cukup mampu untuk membuat orang itu beranjak dari tubuhnya dan melepaskan cekikannya.

"MATI KAU! SEMUA INI GARA-GARA KAU!" Teriakannya semakin menjadi, sontak menambah kekalutan di wajah Raline. Hingga menyebabkan air matanya menetes. Napasnya semakin berat, saat orang itu sama sekali tidak mengendurkan cengkeramannya. Apakah dia akan mati konyol seperti ini? Tidak. Raline tidak mau. Dia tidak mau mati. Apapun yang terjadi, dia harus tetap hidup.

Tangannya langsung meraba-raba ke arah meja nakas di sampingnya. Berusaha meraih apa saja yang ada di sana untuk melawan laki-laki itu. Sampai tangannya menyentuh sebuah gelas, yang akhirnya dia dapatkan. Dan tanpa basa-basi, memukulkannya pada pada kepala laki-laki itu. Membuat darah langsung mengalir dari pelipisnya. Namun, bukannya melepaskan, cengkraman itu malah semakin menjadi. Sampai sumpah serapah, keluar dari mulutnya.

Tapi, dari di sini, Raline bisa mengendus bau alkohol di mulut laki-laki yang tengah mencekiknya itu. Menjelaskan, kalau dia memang sedang mabuk. "Tho-nghh ... lhhepa ... sshh."

Percuma, tidak berhasil. Sekarang, yang harus Raline lakukan adalah memohon agar seseorang datang dan menyelamatkannya. Itu saja. Dia ingin selamat, Tuhan. Hatinya terus berharap, memanjatkan berdoa agar siapapun datang dan menolongnya. Sampai akhirnya, bertepatan dengan dia yang pasrah dan hampir menyerah, pintu didobrak dengan keras oleh seseorang.

"REY!!"

Kejadiannya begitu cepat, Raline sampai tidak bisa melihatnya dengan jelas saat orang itu menendang keras di tubuh laki-laki yang ada di atasnya. Membuat laki-laki terjungkal ke lantai, dan cekalan di leher Raline terlepas begitu saja. Sontak, Raline langsung terbatuk hebat dengan tangan yang mengusap-usap lehernya. Terduduk dan mengambil napas sebanyak mungkin.

"BERENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, REY!" teriak orang yang tidak lain adalah Arsen. Kakinya terus menendang tubuh temannya itu dengan keras. Seolah berniat untuk membuat Rey tersadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Namun karena emosi, Arsen sampai tidak bisa menahan diri.

Ya, orang yang baru saja mencekik Raline adalah Rey. Laki-laki yang dia ketahui tengah dalam keadaan mabuk itu, hampir saja membunuhnya jika saja Arsen tidak datang dan menolongnya barusan. Laki-laki yang kini tengah memukuli, bahkan meninju temannya untuk menyadarkannya. Tentu, perlawanan dilakukan oleh Rey yang balas memukul Arsen. Sayangnya percuma, orang mabuk sama sekali tidak bisa membalas pukulan Arsen.

Tapi, dibanding memedulikan perkelahian yang saat ini terjadi antara keduanya, Raline justru malah asik meratapi kejadian yang baru saja menimpanya. Terduduk dengan tangan yang memeluk lutut. Tubuhnya jelas gemetar, begitu ketakutan.

Pada akhirnya, laki-laki yang dia sangka sedikit waras dan baik, justru melakukan hal yang sangat menakutkan padanya. Bahkan saat tangan kekar itu begitu kuat mencekiknya, masih sangat terasa untuk Raline. Tanpa ada belas kasih, atau tatapan iba sedikitpun.

Di tengah lamunannya, Raline tidak menyadari kalau Arsen menyeret paksa tubuh Rey keluar. Tapi sebelum dia pergi, matanya sempat melirik tajam ke arah Raline yang tengah ketakutan saat ini. Menatapnya secara tersirat dan berjalan kembali dengan menggebrak kasar pintu kamar. Membuat Raline terperanjat di tempat tidurnya.

Wajah Raline langsung murung saat melihat kepergian mereka. Menundukkan kepalanya dengan lesu. Kenapa dia harus terjebak di tempat seperti ini? Sarang dari orang-orang yang sama sekali tidak waras. Menyerang di saat dia lengah. Mereka sangat menakutkan bahkan mencoba untuk membunuhnya. Apa salahnya sampai dia harus menjadi tawanan tanpa tahu sebab dan alasan yang jelas? Untuk pertama kalinya, Raline mengakui jika hidupnya sangat jauh lebih menyedihkan. Dia menyedihkan.

Air mata yang tadi menggenang, mulai keluar dan meluncur dari pelupuk matanya. Awalnya sedikit, tapi kemudian semakin deras saat rasa takut dan sakit dia rasakan di lehernya. Bekas perbuatan tangan laki-laki itu. Dia tersiksa di sini, dan rasanya sangat menyakitkan dibanding kematian itu sendiri.

"Biar aku obati lukamu," ucap sebuah suara. Tenang dan datar tanpa emosi.

Tanpa terdengar suara langkahnya, dia Arsen, tiba-tiba sudah ada di hadapan Raline. Menatapnya tajam dengan topeng hitam yang tak pernah lepas dari wajahnya. Membuat Raline langsung mengangkat kepalanya dan menatap bingung. Sorot takut dan tatapan terluka masih terlihat di wajahnya, dengan tubuh yang masih saja tampak gemetar. "A-aku, ingin keluar dari s-sini ...."
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel