Bab 4 - Aku Bisa Gila
"Sehari saja di sini, aku bisa benar-benar gila!"
~~~
Setelah upaya melarikan diri yang gagal, Raline digiring paksa oleh laki-laki bernama Reynold ke ruang makan. Mengajaknya untuk makan. Namun entah kenapa, karena otaknya sudah terkontaminasi oleh hal-hal negatif dan segala prasangka buruk, Raline malah berpikir kalau ini adalah salah satu rencana untuk membunuhnya di meja makan. Tepat setelah dia makan dan kekenyangan, laki-laki itu pasti akan menusuk, atau mungkin memotong-motong tubuhnya.
"Aku tidak mau makan! Aku ingin bebas!" Raline tidak melanjutkan langkahnya. Dia terdiam di tempat sambil bergidik ngeri. Membuat langkah Rey juga ikut terhenti. Menatap balik ke arah Raline, dengan alis mengernyit.
"Apa?" Rey bertanya untuk memastikan pendengarannya.
Sontak, Raline menutup mulutnya. Astaga, dia kelepasan bicara. Harusnya Raline tidak mengatakan apa yang dia pikirkan. "Itu, aku tidak mau makan. Aku sedang diet," balas Raline sambil meringis.
"Kau bilang ingin bebas?"
Raline menatap Rey dengan pandangan memelas. Kedua alisnya melengkung ke bawah. Raline ingin mencari alasan, tapi laki-laki itu sudah mendengarnya. Tak apa-apakah jika dia meminta kebebasan dari Rey? "A-aku, aku ingin kembali ke rumah. Aku tidak mau di sini," cicit Raline pelan.
Kepalanya tertunduk sambil memilin jari-jarinya dengan gugup. Takut jika Rey akan marah dan melakukan apa yang Arsen sempat lakukan padanya.
"Ini rumahmu sekarang. Aku tidak bisa membebaskan seseorang tanpa persetujuan Arsen. Dan sudah kukatakan, jangan main-main dengan Arsen."
Wajah Raline semakin lesu. Bukan itu jawaban yang dia inginkan. Ini sama saja dia membiarkan kematian lambat laun datang menghampirinya.
"Tapi--"
"Bebas apa?"
Di tengah kegugupan yang Raline rasakan, telinganya tiba-tiba menangkap sebuah suara lain. Suara yang beberapa saat lalu membuat tubuhnya merinding, kini kembali terdengar. Dalam hati, Raline menggerutu, kenapa cepat sekali laki-laki itu kembali? Padahal, dia belum bisa keluar dari rumah ini.
"Katakan, siapa yang ingin bebas?" tanya Arsen lagi. Laki-laki itu menatap Raline menusuk, di balik topeng hitamnya. Tampak mencurigai sesuatu. Lalu beralih menatap dan berjalan ke arah Rey, menuntut jawaban. Membuat posisi Raline menjadi berada di belakang Arsen.
Raline yang melihat itu, sontak menggeleng. Dia memohon pada Rey lewat tatapan matanya untuk jangan memberitahu apa yang baru saja dia ucapkan.
"Tidak. Hanya ada kucing nakal yang ingin bebas tadi," ucap Rey sambil mengerlingkan matanya ke arah Raline. Membuat Raline menghela napas lega, karena Rey tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Oh iya, cepat sekali kau kembali. Apa masalahnya sudah teratasi dengan baik?" tanya Rey, mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya, mereka sudah kubereskan. Keparat-keparat itu membuatku susah."
"Seperti biasa, kau tidak memiliki hati, Sen" kekeh Rey, seakan menertawakan sesuatu yang lucu. Padahal menurutnya, itu bukan sesuatu lelucon.
Raline mengernyit, dia sama sekali tidak mengerti percakapan macam apa yang tengah Rey dan Arden bahas. Namun saat dia akan mendengarkan lebih lanjut, percakapan itu berhenti. Raline bisa melihat jika Arsen, laki-laki dengan topeng yang tidak pernah lepas dari wajahnya itu, berjalan acuh meninggalkan mereka. Bahkan Arsen, seolah tak menganggap keberadaan Raline sebagai eksistensi yang harus dia lihat. Tidak melirik ke arahnya sekalipun.
Hal yang langsung membuat Raline yang melihatnya merasa aneh. Hingga kemudian, matanya menatap punggung yang bergerak menjauh itu dengan penasaran. Raline baru saja akan mengalihkan pandangan jika matanya tidak sengaja menangkap bercak cairan merah di telapak tangan laki-laki itu.
Mata Raline memicing. Memperjelas apa yang dilihatnya, sampai ketika matanya membulat sempurna. Bibirnya membentuk huruf 'O'. Dia tidak salah melihat. Cairan merah itu, terlihat seperti ... darah. Raline sontak menutup mulutnya dengan kaget. Berpikir, kalau laki-laki itu baru saja membunuh seseorang.
"Kau makanlah sendiri, dan jangan mencoba untuk kabur jika kau tidak mau terkena akibatnya," ucap Rey dengan kalimat serius, "satu lagi, siapa namamu? Aku belum tahu."
Raline mengangguk kaku. Dia mencoba untuk tetap tenang, meski hatinya sudah berdebar kencang. Tentu bukan karena tatapan Rey yang memesona, lebih tepatnya karena ucapan bernada ancaman dari laki-laki itu. "Raline. Namaku Raline."
Raline gugup, dia takut jika Rey sama dengan Arsen. Tapi, yang dapat dia lihat selanjutnya, adalah senyum manis laki-laki itu. Seolah senyum itu mencoba untuk menenangkan rasa takutnya. "Makanlah, agar kau punya tenaga untuk melawan Arsen nanti."
Tepat setelah kalimat itu habis, Rey langsung melanjutkan langkahnya dan berjalan meninggalkan Raline sendiri. Membuat tanda tanya besar memenuhi isi kepalanya. Apa maksud perkataan Rey sebenarnya? Raline berusaha mengenyahkan pemikirannya itu dan memilih berjalan ke arah meja makan. Meski dia sangat enggan untuk makan, tapi saat ini perutnya sangat keroncongan. Tubuhnya, bahkan terasa lemas. Tak ada pilihan lain. Dia sangat kelaparan saat ini.
***
Raline mondar-mandir di dalam kamarnya. Lebih tepatnya, di dalam kamar milik Arsen. Dia masih hidup sampai sekarang. Tapi sampai kapan? Apakah selamanya? Jikapun Arsen memang tidak berniat untuk membunuhnya, Raline jelas tetap tidak mau tinggal di sini. Dia ingin pulang. Separah apapun kehidupan di rumahnya, tapi rumah tetaplah tempat yang terbaik.
Raline menggigit kuku-kukunya dengan cemas. Menatap ke arah ranjang besar dengan wajah frustasi. Mengacak-acak rambutnya. Baru sehari di sini saja, dia seperti sudah gila. Dia tidak tahu siapa Arsen dan apa alasan laki-laki itu menculiknya.
Kesalahan Raline hanya satu, dia tidak mendengarkan nasihat temannya yang mengatakan untuk jangan melewati gang sempit itu. Dan sekarang, dia harus terjebak di tempat antah berantah mana. Dengan barang-barang miliknya yang entah hilang ke mana. Ponselnya juga tidak ada. Dia terjebak di tempat yang sangat asing.
Raline ingat, ketika dia sempat keluar tadi, hanya pepohonan lebat nan tinggi yang dapat dilihatnya. Raline dibuat penasaran, sayangnya dia tidak bisa melihat lebih jauh karena Rey yang tiba-tiba menariknya.
"Apa yang kau pikirkan?" Suara itu menyentak Raline yang saat ini tengah berpikir, seiring pintu kamar yang tertutup.
Suara langkah kaki, terdengar. Beradu dengan lantai. Raline sontak, mengalihkan pandangannya. Menatap manik mata biru di balik topeng hitam yang menutupi hampir separuh wajah Arsen, sebelah kanan dan menutupi sedikit kening juga mata di sebelah kirinya.
Dalam diamnya, Raline mengamati penampilan Arsen. Dia baru menyadari kalau laki-laki itu selalu berpakaian hitam. Memangnya ada yang sedang berduka? Dan kenapa juga dia terus memakai penutup wajah? Mungkinkah karena wajahnya jelek, hingga dia malu untuk menunjukkan jati dirinya? Raline menggeleng. Tidak. Ini buat saat yang tepat untuk memikirkan hal itu.
"Apa alasanmu membawaku kemari? Apa kau akan membunuhku?" Raline memberanikan diri untuk bertanya.
"Membunuh?"
"Iya, kau menakuti-nakutiku kemarin malam. Kata temanku, kau adalah pembunuh itu. Kau orangnya kan? Dan sekarang kau akan membunuhku?"
"Jika aku berniat untuk membunuhmu, harusnya sudah kulakukan di malam itu. Bukan membawamu." Arsen mendesis tak suka dengan tuduhan Raline.
Sayangnya, ucapan Arsen tak membuat rasa takut Raline surut. Rasa penasarannya, masih belum terpuaskan. "Lalu, kenapa kau membawaku ke sini? Apa tujuanmu sebenarnya?"
Raline menatap Arsen dengan berani. Dia sudah muak dengan semua ini. Dia muak dengan laki-laki yang ada di hadapannya. Keinginannya hanya satu, dia ingin pergi dari sini. Tak peduli jika laki-laki itu memang tidak akan membunuhnya.
"Aku—"