Bab 3 - Upaya Melarikan Diri
"Jangan pernah bermain-main dengan Arsen, jika kau tidak mau terkena akibatnya."
~~~
"Di mana laki-laki yang memakai topeng itu?" tanya Raline pada pelayan yang saat ini tengah menyisir rambutnya.
Tepat setelah laki-laki itu meninggalkannya tadi, seorang pelayan datang. Pelayan hampir sebaya dengan ibu tirinya, memandikan bahkan menyisiri rambutnya. Awalnya Raline menolak, dia tidak terbiasa dengan perlakuan bak putri yang dilayani. Dipilihkan pakaian sampai tubuhnya yang disentuh oleh tangan orang lain. Meski mereka sama-sama wanita, tapi Raline malu!
Anehnya, di sini dia kan seorang sandra yang sebentar lagi akan dibunuh. Tapi kenapa Raline diperlakukan istimewa? Raline baru tahu, jika seorang pembunuh akan memperlakukan korbannya sebaik ini? Atau jangan-jangan, ini hanyalah kamuflase semata untuk membuatnya lengah, dan menyerangnya tanpa Raline bisa melawan?
Raline sontak bergidik dengan pemikirannya itu. Astaga, jangan sampai pikirannya menjadi kenyataan. Raline harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum pembunuh itu datang dan mengambil nyawanya.
"Sebaiknya Nona jangan mencari masalah dengan Tuan Arsen," jawab pelayan itu tanpa menghentikan sedikitpun gerakan tangannya yang lihai menyisir rambut milik Raline. Wajahnya terlihat kaku menjawab pertanyaan tersebut.
"Apa maksudmu? Aku, mencari masalah?" Raline menatap aneh sekaligus tak percaya dengan telinganya. Apa-apaan pelayan ini! Yang ada, tuannya duluan yang mencari masalah dengannya. Laki-laki yang bernama Arsen itulah yang mengejarnya hingga membuat Raline ketakutan setengah mati. Dia juga disekap di sini.
"Ini adalah tanda kalau anda membuat masalah dengan Tuan Arsen," ucap sang pelayan sambil menekan luka di pipi Raline yang kini tertutup oleh sebuah hansaplast. Itu bekas goresan pisau Arsen.
Raline sedikit meringis karena lukanya ditekan cukup keras, menatap tidak suka ke arah pelayan itu. "Ini karena Tuanmu mau membunuhku! Kau pikir, aku harus diam dan membiarkan dia membunuhku begitu saja?"
Raline mendelik sinis. Membuat pelayan itu mengerutkan alis, tidak mengerti. "Membunuh anda? Saya rasa, Nona salah paham. Tuan Arsen tidak bermaksud untuk membunuh Nona," jelasnya.
Terlanjur sakit hati dan kesal, Raline tidak membalas perkataan pelayan itu. Jelas tidak akan ada yang percaya dengan kata-katanya. Pelayan itu, juga merupakan kaki tangan Arsen. Sudah sangat wajar jika dia membelanya mati-matian. Sungguh menyebalkan!
"Keluarlah!" perintah Raline.
"Apa? Nona--"
"AKU BILANG KELUARLAH!" bentak Raline. Wajahnya merah menahan marah. Menatap nyalang ke arah pelayan itu, hingga dia pergi dengan raut kaget. Meninggalkan Raline sendiri di kamar itu.
Setelah kepergian sang pelayan, Raline mengusap wajahnya kasar. Ini pertama kalinya, dia berteriak di hadapan orang yang lebih tua. Pertama kali Raline dibuat jengkel karena perkataan pelayan itu. Dia mana pernah sebelumnya berkata seperti ini. Raline yang biasanya, selalu bersikap baik meski sering diperlakukan kasar oleh ibu dan adik tirinya. Tapi kali ini, dia lepas kontrol. Dan itu semua karena laki-laki berengsek bernama Arsen.
"Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Lebih baik, aku harus mencari cara untuk kabur dari sini."
Raline mengangguk tegas. Ya, ini bukan saat yang tepat untuk menyesali apa yang terjadi. Lebih baik saat ini, dia gunakan untuk melarikan diri. Mumpung Arsen sedang tidak ada di rumah.
Raline berjalan pelan ke arah pintu. Dia ingin memastikan sesuatu. Biasanya, di film yang sering dia tonton, para penjahat akan meletakan beberapa penjaga di depan pintu tawanan. Guna mengawasi jika sewaktu-waktu tawanan itu kabur. Raline ingin tahu, apakah laki-laki bertopeng itu melakukan hal yang sama?
Raline kembali melangkahkan kakinya keluar. Dia membuka pintu dengan pelan dan keluar dari kamar yang membuat napasnya terasa sesak. Namun anehnya, dia sama sekali tidak mendapati satu orangpun yang berjaga di depan pintu kamarnya. Tidak ada orang di sana.
Spontan, matanya celingukan ke kiri dan kanan sambil menggaruk kepalanya. Merasa heran dengan apa yang terjadi. Satu pelayan pun, tak ada di sana. Apa-apaan ini? Mansion sebesar ini terlihat seperti kuburan dibanding sebuah rumah. Nyaris tanpa penghuni.
Raline menggelengkan kepala saat langkah kakinya menuruni undakan tangga satu persatu. Dia tahu sekarang, kamarnya berada di lantai dua. Dan banyak kamar yang kosong di sini.
Matanya tak henti mengamati keadaan sekitar. Berjalan mengendap-endap, mencari pintu utama. Menyusuri sepanjang koridor yang tampak sepi. Benar-benar tanpa pengawasan. Raline jadi tidak yakin kalau ini sarang penjahat. Lebih seperti istana.
"Huh ...."
Raline menghembuskan napas lelah saat kakinya terus berjalan berkeliling mansion. Melihat-lihat, sekaligus mencari jalan keluar. Hingga saat dia akan menyerah karena kakinya yang terasa akan patah, mata Raline langsung mendapati sebuah pintu tak jauh darinya. Membuat senyum cerah, langsung terbit saat menyadari hal itu. Sepertinya, ini lebih mudah dari yang dia kira.
Dengan semangat, Raline berjalan cepat ke arah pintu keluar yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri saat ini. Segampang inikah dia bisa melarikan diri? Aneh, tapi mungkin karena orang itu yang terlalu bodoh. Ya, bisa jadi karena kebodohan Arsen. Laki-laki itu terlalu menganggapnya remeh.
Raline langsung terkekeh, saat menyadari kalau akhirnya dia bisa terbebas. Berkuliah dan belajar seperti biasa. Setelah ini, Raline berjanji tidak akan menginjakkan kakinya lagi di gang sempit itu. Meski itu artinya kakinya harus patah sekalipun.
Pintu itu terbuka. Raline hampir saja memekik senang. Buru-buru, dia langsung keluar dari mansion mewah itu. Tapi, ketika beberapa langkah berjalan, tubuhnya tertahan di tempat. Membuatnya dilanda kebingungan. Sampai tiba-tiba, sebuah tangan meraihnya dari belakang. Menariknya masuk kembali ke dalam rumah.
"Kau baru saja mencoba untuk melarikan diri, kucing nakal?"
Suara pintu tertutup tepat di depan mata Raline, membuatnya langsung terperanjat kaget. Ditambah, suara maskulin yang menyapa telinganya. Menimbulkan rasa geli dan merinding pada tubuhnya.
Tubuh Raline langsung dibalik, berhadapan dengan pemilik suara yang memergokinya hendak kabur. Mengangkat kepalanya pelan-pelan dan gugup, takut jika Arsen lah yang ada di hadapannya saat ini. Tapi, semua langsung sirna saat mata Raline bertabrakan dengan netra abu-abu. Menegaskan, kalau orang itu bukan Arsen. Apalagi saat Raline melihat kalau orang di depannya sama sekali tidak memakai topeng yang selalu Arsen kenakan.
"S-siapa kau?" Raline menelan ludahnya gugup. Berpikir, jika orang di depannya adalah satu komplotan dengan Arsen dan berniat sama, membunuhnya. Tapi, jika melihat penampilannya yang rapi dan tampak seperti seorang pengusaha, membuat Raline langsung menyangkalnya. Terlebih, wajahnya sangat tampan.
Wajah Raline spontan bersemu saat menyadari betapa gagahnya laki-laki yang ada di depannya saat ini. Rambut hitamnya disisir rapi ke pinggir. Bulu-bulu halus, terlihat memenuhi sepanjang garis dagunya. Matanya tampak menatap jenaka, dengan bibirnya yang sangat kissable. Tubuhnya tinggi dan tampak berotot. Itu bisa dilihat dari tangannya yang terus dipegang.
Raline meneguk ludahnya, hingga sesaat kemudian dia menampar keras pipinya. Menyadari kebodohannya yang terbuai oleh ketampanan laki-laki asing di depannya itu.
"Reynold. Kau bisa memanggilku Rey. Dan sebaiknya, kau jangan coba-coba untuk kabur. Jika Arsen tahu, nyawamu mungkin akan langsung melayang," bisiknya sambil tersenyum miring ketika melihat tubuh Raline gemetar dengan perkataannya. Memperingati Raline untuk berhati-hati.