Bab 2 - Terjebak
"Sekali kau masuk ke dalam rumah ini, jangan harap untuk keluar."
~~~
Cahaya matahari menembus masuk ke dalam sela-sela jendela. Membangunkan seorang wanita yang saat ini tengah terpejam. Siapa lagi kalau bukan Raline? Mata wanita itu berkedip pelan, sembari memegang kepalanya yang terasa sakit. Menatap langit-langit kamar, dengan pandangan bingung. Beralih pada pakaiannya yang telah berganti menjadi piyama. Jeans dan kemeja polosnya sudah hilang. Ke mana? Siapa yang menggantikannya? Dan tempat apa ini?
"Di mana aku?" gumamnya.
Raline berusaha untuk bangun dari tempat tidur itu, mengabaikan sejenak soal pakaiannya. Keningnya mengernyit sambil menatap ruangan sekitar dengan heran. Kamar yang luas dengan gaya Eropa klasik, ranjang berukuran king size, dengan empat tiang penyangga, TV, lemari pakaian, dan lain sebagainya. Raline tidak mampu menyembunyikan rasa kagetnya ketika menyadari kalau dia terbangun di tempat yang begitu asing. Dia sekalipun, tidak pernah mengenal tempat ini.
Raline terduduk di ranjang, sambil mencoba untuk mengingat-ingat kembali apa yang baru saja terjadi. Sayangnya, tidak ada satupun ingatan yang terlintas dalam benaknya. Membuat sebuah tanda tanya besar memenuhi isi kepalanya. Dan entah kenapa, tengkuknya terasa sangat sakit, seolah baru saja dihantam sebuah batu besar.
"Sstt ...."
Raline berusaha berdiri dari ranjang, hendak turun dan mencari tahu apa yang terjadi. Tapi, saat kakinya baru saja menyentuh lantai marmer, pintu tiba-tiba terbuka. Menampilkan sosok pria serba berpakaian hitam, dengan topeng yang menutupi wajahnya.
Dari balik topeng itu, Raline bisa melihat mata biru yang menatapnya tajam. Bergeming di tempat sambil terus memerhatikannya. Membuat rasa takut dalam diri Raline muncul tanpa sebab, seperti ....
Deghh ....
Jantung Raline seketika berhenti berdenyut, matanya membulat penuh dengan mulut menganga. Tidak mungkin. Ini pasti ilusi. Raline menepuk keras pipinya berkali-kali, untuk menyadarkan bahwa sosok di hadapannya sama sekali bukan orang yang sama dengan orang yang mengejarnya semalam.
Ya, Raline ingat, semalam dia dikejar oleh seorang yang katanya pembunuh berantai. Mencari mangsa di malam hari, di gang sempit. Meski dia tidak tahu begitu jelas siapa orang itu, tapi Raline yakin, orang yang mengejarnya semalam, sangat mirip dengan laki-laki yang kini ada di ambang pintu itu. Menutup kembali pintu itu sambil berjalan ke arahnya.
Yang membingungkan, kenapa dia harus dibawa ke tempat yang sama sekali tidak dia kenali? Kenapa tidak langsung dihabisi saja? Atau mungkin, pembunuh itu ingin memutilasi tubuhnya terlebih dahulu sebelum membiarkan nyawanya menghilang?
Wajah Raline pucat pasi saat memikirkan hal itu, membuatnya refleks mundur secara perlahan. Tubuhnya gemetar bukan main. Berpikir, kalau mungkin laki-laki itu berniat untuk melakukan apa yang kini ada dalam pikirannya. "J-jangan mendekat."
Raline menyilangkan kedua tangannya di depan, untuk menghalau laki-laki misterius itu mendekat. Matanya terpejam kuat-kuat, dengan keringat dingin yang mulai keluar dari tubuhnya.
Namun tak disangka, laki-laki asing itu semakin mendekat dan menyentuh dagunya. Membuat Raline kembali membuka mata. Memandang sosok di depannya dengan gugup. "T-tolong, jangan b-bunuh aku."
Mata Raline spontan berkeliling. Mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya. Dan saat dia melihat sesuatu, segera Raline menendang perut laki-laki itu dengan sangat keras, hingga membuatnya terdorong dan mengaduh kesakitan. Terjatuh ke lantai. Sementara Raline berlari ke arah meja nakas, mengambil pisau di sana dan berjalan ke arah pintu dengan terburu-buru. Ini akan menjadi senjatanya melawan orang itu.
Raline dengan segera memutar kenop pintu itu dengan cepat. Dia ingin cepat-cepat pergi dari rumah yang akan menjadi tempat kematiannya. Namun entah kenapa, pintu tak kunjung mau terbuka. Membuat rasa paniknya muncul seketika. Sial, dikunci.
"Kau tidak akan bisa kabur dari sini," desis seseorang di belakang tubuh Raline, hingga kekagetan tercetak jelas di wajahnya. Bertepatan dengan tubuhnya yang langsung dibalik. Pisau yang ada di tangannya, diambil begitu mudah oleh laki-laki itu. Napas Raline tercekat melihatnya. Tamat sudah riwayatnya.
"Kau mau bermain-main dengan ini rupanya," ucap pria yang tidak diketahui namanya. Dia menatap pisah tajam di tangannya dan Raline secara bergantian. Seolah tengah menimang sesuatu. "Apa kau mau merasakannya? Bagiamana pisau ini menyentuh kulitmu?"
Raline sontak tersedak oleh ludahnya sendiri, saat pertanyaan gila dilontarkan kepadanya. Tentu saja dia tidak akan mau! Orang gila macam apa yang ingin menyerahkan tubuhnya untuk dibunuh? Kepala Raline langsung menggeleng cepat. Menatap laki-laki bertopeng di depannya dengan tatapan mengiba. Menangkupkan kedua telapak tangannya. Jangan, dia mohon.
Raline tidak mau mati sekarang. Dia tidak mau melihat ibu dan saudara tirinya senang karena kematiannya. Tidak, sebelum kuliahnya selesai dan mengambil semua haknya. "T-tuan, saya m-mohon. T-tolong biarkan s-saya hidup," ucapnya terbata-bata.
Raline tidak mendapat jawaban. Laki-laki bertopeng itu malah memberikan seringai keji sambil memutar-mutar pisau di tangannya. Gilanya, Raline malah membayangkan bagaimana jika pisau itu menembus kulitnya dan mengoyaknya hingga tak berbentuk.
Siapapun yang membayangkan hal itu pasti akan merinding seketika, berpikir kalau hidupnya mungkin tidak akan lama lagi. Sama halnya dengan Raline. Dan tanpa disangka, orang itu meletakan pisau dingin di pipi Raline, menimbulkan rasa kaget dan efek dingin pada kulitnya. Hingga mampu membuat jantung Raline berdetak sangat cepat karena rasa takut. Sebentar lagi, dia akan mati.
"Setelah apa yang kau lakukan padaku? Kau memohon untuk hidup?" Laki-laki itu mendesis, tampak kesal dengan sikap Raline. Memainkan pisau di tangannya, hingga ujungnya sedikit menggores pipi mulus Raline. Membuatnya meringis, menahan sakit.
"Sakit?"
Bukan pertanyaan semacam khawatir ataupun merasa bersalah yang diperlihatkan. Tapi pertanyaan yang seakan mengejeknya. Tanpa emosi, dan bernada dingin. Membuat Raline penasaran, ekspresi macam apa yang ada di balik topeng itu? Namun sedetik kemudian, Raline mendengus kesal. Sempat-sempatnya dia penasaran dengan wajah laki-laki yang akan membunuhnya.
Raline memaki laki-laki di depannya dalam hati. Mengutuknya agar masuk ke dasar neraka, karena telah menyakiti seorang gadis cantik sepertinya. Bagaimana mungkin bisa bertanya seperti itu padahal jawabannya sudah sangat jelas? Tentu saja sangat sakit! Bahkan tanpa sadar, air matanya ikut mengalir. Menangis di hadapan pembunuhnya.
'Dasar air mata kurang ajar!!'
"T-tolong hentikan! A-aku akan melakukan apapun. Asal, b-biarkan aku hidup," ucap Raline yang langsung menghentikan tangan laki-laki itu. Terdiam sebentar, lalu membuang pisau di tangannya ke bawah. Hingga menimbulkan bunyi ketika logam itu bersentuhan dengan lantai.
"Apapun?"
Raline menganggukkan kepalanya dengan kaku. Dia bisa melihat smirk di bibir laki-laki itu. Mulutnya hendak berkata sesuatu, sebelum bunyi ponsel menyela pembicaraan mereka. Sampai membuat laki-laki itu menjauhkan dirinya dan berdecak kesal. Namun tak ayal, dia mengambil ponsel di saku celananya dan menerima panggilan tersebut.
Raline tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya, terjadi situasi yang buruk saat laki-laki bertopeng itu membentak orang di seberang telepon dan memilih keluar kamar. Sebelum benar-benar keluar, dia sempat menatap Raline dengan mata birunya. Entah apa maksud tatapan itu. Dan tak lama kemudian, laki-laki itu menghilang dalam pandangan Raline.
"Apa aku baru saja selamat?" gumam Raline sambil mengelus pipinya yang terluka. Meringis saat dia bisa merasakan rasa perih, akibat tangannya yang menyentuh luka tersebut.