Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 04. Membara di Kamar Mandi

Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Wulan bergegas menuju ke kloset duduk dan segera menarik ujung dasternya ke atas dengan gerakan yang tergesa-gesa, seolah gejolak hasratnya memang tak mau menunggu.

Ia segera menurunkan pakaian dalamnya itu hingga ke lutut, dan membiarkannya menggantung di sana.

Tak berselang lama, Wulan menghela napas dalam-dalam saat suara gemericik halus menggema tipis di ruangan itu. Setelah keheningan kembali menyelimuti, ketegangan yang sedari tadi memuncak di bawah perutnya perlahan mengendur, sehingga raut wajahnya tampak kian rileks.

Niat awal Wulan pergi keluar kamar sebenarnya bukan untuk mengintip, melainkan hendak menuntaskan hasrat alaminya, pipis. Namun saat berada di depan pintu Sari, rintihan manja sahabat karibnya yang semakin menyusup ke dalam pendengaranya itu, membuat ia semakin penasaran untuk menyaksikan adegan dewasa antara sahabat karibnya itu dengan Yudha, kekasih gelapnya.

“Lega sekali rasanya,” gumam Wulan lirih, setelah ia selesai menuntaskan hasratnya sembari mengambil selang untuk membersihkan miliknya dari bau pesing yang mengganggu.

Namun, sentuhan lembut jemari Wulan di titik intimnya itu membuatnya terpaku. Sebab, bayangan adegan nakal Sari dan Yudha yang baru saja ia saksikan melintas dalam kepalanya.

Pikiran Wulan kembali berkelana, mengingat masa-masa indahnya saat bersama Heru, suaminya. Rasa rindunya kembali menggelitik, kendati ia baru saja mengumpat suaminya itu. Namun, adegan manja Sari dan Yudha kembali membuatnya semakin rindu belaian laki-laki tersebut.

Setelah menyaksikan rahasia Yudha dengan mata kepala sendiri, Wulan tak mampu menahan diri untuk membandingkan rahasia lelaki itu dengan rahasia suaminya. Sembari tersenyum malu, ia bergumam dalam hati, “Sedikit lebih besar dari milik Mas Heru!”

Wulan sebenarnya telah mengagumi Yudha sejak Sari memperkenalkan pria itu kepadanya. Ia sangat terkesan dengan penampilan pria itu yang necis dan klimis–begitu kontras dengan penampilan suaminya yang cenderung serampangan hingga terkesan tak terurus.

Bagi Wulan, Heru memang lebih unggul jika dinilai dari kondisi tubuhnya yang tampak lebih atletis. Namun soal penampilan, suaminya kalah telak jika dibandingkan dengan Yudha.

Setiap kali diajak Sari untuk menemui Yudha, Wulan selalu mencuri-curi pandang kepada pria tersebut untuk sekadar mengaguminya. Diam-diam ia sebenarnya tertarik dengan pria itu.

Kini Wulan merasa jika Yudha juga memiliki keunggulan lain, rahasia yang tampak jauh lebih perkasa ketimbang suaminya. Dalam hati, Wulan sangat tertarik dengan rahasia lelaki itu. Namun, di dalam kamar mandi tersebut Wulan segera menepis bayangan Yudha dari imajinasinya. Ia tak ingin pria itu menempati ruang imajinasi nakal di dalam kepalanya.

‘Aku telah bersuami. Yudha adalah kekasih sahabatku, meskipun kekasih gelap,’ batin Wulan sembari menepis bayangan Yudha.

Untuk menghapus bayangan Yudha itu, Wulan terpaksa menumbuhkan bayangan Heru, suaminya. Meskipun pria itu telah menyakiti hatinya, namun dialah satu-satunya laki-laki yang berhak mendapatkan tempat dalam ruang imajinasinya, seperti yang telah ia yakini sebelumnya.

Wulan memang tak pernah berpacaran dengan Heru. Ia menikah setelah tiba-tiba pria itu datang untuk melamarnya.

Kedua orang tua Wulan yang tergiur dengan harta keluarga Heru, merayu Wulan agar menerima lamaran itu..

“Sesudah menikah, wajah tampan itu tidak gunanya kalau tidak punya uang,” cetus ibunya sembari memilah sayur mayur yang baru ia petik dari kebun. “Sudah! Gak usah banyak mikir. Terima saja lamaran Mas Heru.”

Waktu itu, Wulan hanya terpaku dan tak lekas mengiyakan desakan ibunya. Jauh di dalam hati, ia sebenarnya tak keberatan dengan sosok Heru, namun ia merasa malu jika langsung menyatakan setuju atas lamaran tersebut.

Di desanya, keluarga Heru memang cukup terpandang, karena bisnis keluarga tersebut yang terbilang sukses. Mereka merupakan pedagang hasil bumi yang beroperasi hingga desa-desa tetangga.

Setengah tahun sebelum melamar Wulan, kedua orang tua Heru membelikan truk baru calon suaminya itu. “Biar bisa digunakan untuk belajar mencari uang,” ujar ayah Heru kepada orang-orang.

“Lihat, Heru sudah punya truk. Tiap hari uang pasti datang. Kamu nggak perlu bersusah payah seperti Emakmu ini,” rayu ibunya, agar Wulan lekas-lekas menerima pinangan Heru.

Lima bulan berlalu, akhirnya Wulan menikah dengan Heru. Ia menerima sepenuhnya pemuda itu sebagai suaminya, meskipun tak pernah berpacaran dengannya.

Sesuai kesepakatan kedua keluarga, Wulan menempati rumah Heru yang terletak tak jauh dari kediaman mertuanya.

Rumah tersebut memang baru setengah jadi dan cukup sempit. Menurut kedua mertuanya, mereka memang sengaja memberi rumah kecil itu sebagai modal awal dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

“Rumahnya memang kecil, Nduk. Tapi, jangan khawatir, Heru sudah punya modal truk. Kalau kalian bisa berhemat, nanti rumah ini bisa diperbesar sesuai keinginan kalian sendiri,” ujar ibu mertua Wulan. “Kami memang sengaja membuat yang sederhana, agar kalian ndak merasa dimanjakan.”

“Lihat itu si Tono, putra Pak Dul Kamit. Dibuatkan rumah bagus tapi nggak dikasih modal. Lah, malah gak bisa makan mereka,” ucap ayah mertua Wulan menambahkan.

Wulan tak pernah keberatan dengan rumah itu, dengan senang hati ia menempati rumah tersebut.

Wulan masih ingat masa-masa bulan madu itu, ketika Heru begitu pengertian dengannya. Setelah malam pertama yang menakutkan, ia dan suaminya selalu melewati malam dengan penuh cinta dan gairah.

Heru dengan gairahnya yang meletup-letup saat bulan madu itulah yang diingat Rahayu saat duduk di kamar mandi. Di dalam kepalanya hanya tinggal Heru seorang, sementara Bayangan Yudha telah ia singkirkan sepenuhnya.

Sembari memelihara bayangan Heru di kepala, jemari Wulan terus menari-nari–memberikan sentuhan manja untuk memuaskan hasratnya.

Wulan tak butuh waktu lama untuk sampai ke puncak kenikmatan yang dia inginkan. Sebab, tiga menit setelah jemarinya mulai beraksi, punggungnya telah melengkung, membuat aliran darahnya menuju ke satu titik di kepala.

“Ahhh…!” rintih Wulan dengan nafas memburu.

Setelah menarik jemarinya, Wulan menyandarkan kepala di dinding. Perlahan ia membuka mata dan menatap lekat langit-langit yang kosong bersamaan dengan memudarnya bayangan Heru.

Saat Wulan hendak menarik pakaian dalamnya, ia terpana, sebab pintu kamar mandi itu tak tertutup rapat. Jantungnya berdegup semakin kencang saat ia menyaksikan sepasang mata mengawasi gerak-geriknya dari balik pintu.

Wulan tak membutuhkan waktu lama untuk mengenali wajah di balik pintu itu. Tentu saja ia bukan Heru yang baru saja hadir untuk mengisi ruang imajinasinya.

Pria itu tak lain adalah Yudha, kekasih gelap Sari yang beberapa menit lalu tengah memanjakan sahabat karibnya itu.

Spontan, Wulan segera menarik pakaian dalamnya dan menurunkan daster. Ia hendak berteriak histeris, namun setelah melihat kode yang diberikan Yudha ia mengurungkan niat itu.

Rona merah kian tampak jelas di pipi Wulan, petanda rasa malu yang tak mungkin ia bendung. Pada waktu yang sama, batinnya terus menggerutu, menyesali kecerobohannya yang lupa mengunci pintu.

Wulan segera berdiri dan melangkahkan kaki menuju ke pintu. Ia berniat untuk lari dari kenyataan yang pahit itu. Rahasia tubuhnya yang selama ini hanya terpampang untuk suaminya, kini telah disaksikan oleh orang lain.

“Tak usah risau. Tak usah malu. Semua orang pernah melakukan itu,” bisik Yudha, saat Wulan melintas di depannya.

Wulan hanya berdiri terpaku, tak mampu menanggapi ucapan Yudha, seolah lidah dan bibirnya terkunci rapat. Ia hanya ingin segera meninggalkan tempat itu, namun tangan Yudha segera menahannya.

Tak berselang lama, Yudha mencondongkan wajah, membisikan tawaran di telinga Wulan dengan suara yang rendah, “Aku bisa membantumu. Jika kamu mau.”

Wulan tertunduk lesu karena malu dengan mulut yang masih tertutup. Saat itulah, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada gundukan yang nampak jelas dari handuk Yudha yang tersingkap. Detik itu juga, deru nafasnya kembali tak beraturan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel