Bab 05. Rayuan Maut Yudha
“Kamu nampak begitu kesepian, Wulan,” bisik Yudha. Suara pria itu begitu pelan namun telah cukup untuk menusuk-nusuk dada Wulan.
Mendengar ucapan Yudha, Wulan hendak segera berlari. Namun, selain karena jemari Yudha yang masih mencengkramnya erat, ia masih terpana dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan.
Wulan kembali berdiam diri, menikmati setiap hembusan nafas Yudha yang menerpa pipi. Menikmati bisikan pria itu yang menggoda.
Tak berselang lama, Wulan merasa jika ia memang telah terlalu lama tak menerima sentuhan laki-laki. Diam-diam ia mengabsahkan kata-kata Yudha.
‘Kau benar, Yudha. Aku memang kesepian. Aku rindu dibelai seorang laki-laki,’ batin Wulan. Tapi aku punya suami. Dan kau kekasih sahabatku.’
Terbuai lamunan, Wulan tak sadar jika bibir hangat Yudha telah menyentuh kulit pipinya. Begitu sadar, bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup kencang, dan nafasnya kian memburu.
“Wulan,” bisik Yudha lagi.
“Jangan gila, Yudha. Ada Sari di rumah ini,” sahut Wulan lirih.
“Sari sudah tertidur lelap. Aku telah membantunya menuntaskan kesepian,” ucap Yudha sembari membelai rambut Wulan. “Bukankah kamu juga kesepian, Wulan?”
Wulan kembali terpaku, tak mampu menanggapi Yudha. Di dalam kepalanya, nurani dan nafsu tengah beradu taji. Mereka saling beradu argumen demi memenangkan keputusan Wulan agar tunduk kepada mereka.
‘Wulan, kau telah memiliki suami. Meski ia jahat, tapi Heru masih suamimu yang sah. Cepatlah pergi, ini tidak benar,’ bisik naluri mengingatkan.
Nafsu segera menyambar secepat kilat, ‘Jangan dengarkan, Wulan! Kesepian telah menyiksamu. Inilah saatnya engkau membebaskan diri. Buatlah dirimu senang. Buatlah hidupmu bahagia. Bersenang-senanglah, Wulan.’
Sebelum Wulan sempat menyadari siapa yang memenangkan pertempuran di kepalanya–naluri yang menasehati atau nafsu yang berapi-api, ia merasakan jika Yudha semakin mendekatinya.
Wulan menunduk untuk mencari asal sentuhan hangat itu. Ia terpana, saat sadar asal sentuhan tersebut. Ia tak percaya jika Yudha telah berani melakukan hal senekat itu.
“Kau tadi telah melihatnya, bukan? Saat aku memanjakan Sari?”
Ucapan itu menghantam telak dada Wulan, membuat matanya terbelalak dan jantungnya semakin berdegup semakin kencang.
‘Nggak mungkin! Yudha nggak mungkin tahu aku mengintip dari balik pintu,’ pekik Wulan dalam hati.
Wulan yakin jika dirinya telah melangkah dengan hati-hati, bahkan dengan kaki berjinjit. Ia juga berusaha untuk menata nafasnya selembut mungkin. Ia terus bertanya-tanya; Bagaimana mungkin Yudha masih menangkap gerak-geriknya?
“Melihat? Apa maksudmu, Yudha?”
“Tak usah bohong, Wulan. Aku mendengar dengus nafasmu di depan pintu.”
“Ih, ngawur kamu, Yudha.”
“Berani bersumpah?”
Kepala Wulan tertunduk lesu. Ia tak punya nyali untuk mengucapkan sumpah palsu. Kini, ia merasa benar-benar terpojok, tak mampu mengelak tuduhan Yudha.
“Maaf, aku tak sengaja. Aku hanya penasaran,” ucap Wulan lirih dengan rona wajah yang semakin memerah.
Yudha kembali mencondongkan wajahnya di dekat daun telinga Wulan, “Penasaran atau pingin?”
Sekali lagi Wulan tak mampu menanggapi ucapan Yudha yang menjebak itu.
‘Sialah, Yudha! Dia terus memojokanku. Duh! Aku harus gimana ini?’ keluh Wulan dalam hati..
“Aku yakin jika kamu tak hanya penasaran, Wulan. Kau menginginkan hal itu, terbukti setelah mengintipku kau memuaskan dirimu sendiri.”
Wulan tak berani menegakkan kepala, ia tak mau menatap Yudha karena rasa malu yang teramat besar.
Sementara itu, Yudha masih tak mengubah posisi wajahnya yang masih mendengus di dekat daun telinga Wulan. Hembusan nafas pria itu, semakin membuat tubuh Wulan bergetar hebat.
“Mari kita lakukan saja, Wulan!” bisik Yudha dengan mata yang menyala. Kita akan bersenang-senang. Mumpung kawanmu tertidur lelap.”
Pada waktu yang sama jemari Yudha menjelajahi punggung Wulan dari leher hingga pinggulnya. Sentuhan lembut itu membuat Wulan semakin tak mampu membendung gairahnya.
Menyaksikan Wulan yang hanya diam mematung, Yudha bertindak semakin dalam. Ia kian merapatkan tubuhnya hingga benar-benar menekan kulit lembut Wulan.
Dalam situasi yang mendesak itu, naluri dan hasrat Wulan kembali berdebat di dalam kepala. ‘Pergi! Cepat kau pergi, Wulan!’ pekik naluri.
Wulan mendengar bisikan itu. Ia segera tersadar dari gairah yang salah tempat itu dan segera mendorong Yudha dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
“Jangan gila, Yudha! Kau bisa melakukannya lagi dengan Sari jika masih belum puas.”
“Tapi aku ingin kamu, Wulan.”
“Tapi aku bukan untukmu, Yudha! Sudahlah, kita sudah impas sekarang.”
Begitu terlepas dari cengkraman jemari Yudha, Wulan bergegas melangkahkan kakinya menelusuri lorong di depan kamarnya. Langkah begitu tegas, seolah setiap pijakannya telah cukup untuk mengubur rasa malu dan ketakutan yang baru saja menyergapnya.
Wulan merasa telah memberi Yudha kesempatan untuk menyentuh dirinya. Ia merasa kesempatan itu lebih dari cukup untuk membayar kekhilafannya.
Namun, pada waktu yang sama, Yudha enggan untuk menyerah begitu saja. Ia bergegas mengejar Wulan dengan mata yang menyala, seperti seekor elang yang hendak menangkap mangsanya. Ia kembali berhasil meraih tangan Wulan dan mencengkramnya erat-erat.
“Tunggu, Wulan! Tunggu!”
Wulan terpaksa menghentikan langkah dengan wajah memerah, bukan lagi malu melainkan amarah. “Apalagi? Bukankah kata-kataku sudah jelas!”
“Aku tahu, Wulan,” sahut Yudha. “Tapi, aku mohon pikirkanlah dahulu sebelum kau benar-benar menolaknya.”
Wulan menghela nafas dalam-dalam. Ia nyaris menyimpulkan jika Yudha merupakan pria paling bebal di dunia karena tak mampu mencerna kalimatnya yang sangat gamblang. Namun, entah atas dorongan apa yang merasukinya, ia menoleh meski dengan enggan.
Wulan menatap mata Yudha dengan raut wajah murka. “Apalagi, Yudha? Sudah jelas, kan? Kalau kau masih belum puas, kau bisa membangunkan Sari. Gampang, kan?”
“Lihat dulu, Wulan!”
Wulan kembali mendesah, tak pikir dengan pria yang ada di depannya itu yang begitu bebal seolah tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Ia menyesal telah mengagumi pria yang ternyata hanya bertampang menawan tapi otaknya tak berisi.
Mata Wulan kembali menyapu pandang ke seluruh lorong yang temaram itu. Jantungnya kembali berpacu saat ia mengingat jika Sari tidur di kamar sebelah. Ketakutan kembali menyergap karena khawatir jika sahabatnya itu belum terlelap dan mendengar percakapan tersebut.
“Sudahlah, Yudha. Aku benar-benar akan berteriak jika kamu terus memaksaku!”
Yudha mendesah berat, setelah perempuan di depannya belum memahami apa yang ia inginkan. “Wulan! Aku tak menyuruhmu menatap tembok. Tapi lihatlah ke bawah.”
Alih-alih menuruti kata-kata Yudha, Wulan justru memejamkan mata dan mendongak menatap langit-langit, masih menganggap jika pria itu memang bebal. Namun, saat ia sadar jika menuruti kata-kata pria itu merupakan kunci untuk membebaskan diri, ia segera membuka mata dan menyapu pandang ke sekujur tubuh Yudha.
Darah Wulan kembali berdesir hebat hingga ke ubun-ubun saat pandangannya jatuh ke bawah. Di sana, ia menyaksikan pemandangan asing yang membuat hasratnya kembali terpantik.
