Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 03. Pantas Sari Gila

Wulan membuka pintu sangat pelan. Sebab, ia tak ingin Sari tahu jika dirinya keluar kamar saat sahabat karibnya itu memadu asmara bersama dengan Yudha.

Setelah pintu terbuka seperempatnya, ia menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang lain yang melihatnya.

Wulan dan Sari hanya tinggal berdua di rumah milik majikannya, Agus. Sehingga tak mungkin ada orang lain di rumah tersebut, kecuali Yudha yang kini bersama Sari. Tanpa menyelidik ke sekitar pun, semestinya tak ada orang lain yang mengamati gerak-gerik Wulan.

Rumah tersebut ditawarkan oleh Agus saat mereka menanyakan tempat kos kepada majikannya itu.

“Kalian ndak usah nyari tempat kos,” kata Agus. “Kalau mau, tinggal saja di rumah saya. Sekalian biar rumahnya terawat.”

“Boleh, Pak,” sahut Sari cepat. “Tapi biayanya berapa, Pak?”

“Tak usah bayar. Gratis. Asal kalian mau merawatnya. Sebab, rumah itu lama gak digunakan. Sayang kalau ndak ditempati, nanti bisa rusak sendiri,” ujar Agus meyakinkan. “Ehmmm… lokasinya memang sedikit agak jauh. Tapi tak usah khawatir, kalian bisa pakai motor saya yang juga gak kepakai untuk pulang pergi,” imbuh majikannya itu.

“Duh! terima kasih banyak, Pak. Maaf, jadi merepotkan Bapak,” sahut Wulan dengan wajah yang berbinar.

Agus segera mengantarkan Wulan dan Sari ke rumah tersebut. Keduanya sempat kecewa karena rumah itu mencil, jauh dari tetangga.

Namun, setelah melihat-lihat perabotan di dalam rumah yang jauh lebih lengkap dari kediaman mereka, Wulan dan Sari akhirnya setuju untuk menempati rumah tersebut.

“Hari ini kalian boleh bersih-bersih dulu, biar nyaman untuk ditempati,” kata Agus sembari menyerahkan kunci rumah dan kunci sepeda motor, sesaat sebelum pria itu pergi meninggalkan mereka.

“Beruntung banget kita, ya!” ujar Wulan sembari menyapu lantai. “Bisa hemat banyak ini.”

“Betul… jatah bayar ngekos bisa buat beli bedak,” sahut Sari girang.

Di dalam rumah itu, terdapat dua kamar tidur, sebuah ruang tamu, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan sebuah kamar mandi.

Setelah membersihkan rumah, Wulan merasa sangat bersyukur bisa tinggal di rumah tersebut. Majikannya memang berulang kali mengatakan jika rumah itu terlalu sempit. Namun baginya, rumah tersebut sudah lebih dari cukup dan jauh lebih baik daripada rumahnya di kampung.

Lantai rumah itu sudah dikeramik, dinding-dindingnya telah bercat putih bersih, ruang tamunya telah dilengkapi dengan sofa empuk, dan dapurnya yang tertata rapi lengkap dengan perabotnya.

Wulan juga takjub dengan kamar mandinya yang cukup luas dan lengkap dengan perabotnya; shower, pemanas air, gantungan handuk yang mengkilap, serta kloset duduk. Ia yakin takkan mencium bau pesing dan apek lagi seperti di kamar mandi rumahnya yang sederhana

Kamar tidur di rumah itu juga cukup luas, lengkap dengan kasur dan bantal yang sangat empuk. Berbeda jauh dengan kamar tidur di rumah Wulan yang hanya dilengkapi kasur lawas dan terasa bantat ketika ia berbaring di sana.

“Lestari pasti suka dengan tempat tidur seperti ini,” gumam Wulan seorang diri saat membersihkan kamar tidurnya. “Kapan-kapan, kalau ada kesempatan aku akan mengajaknya kesini saja.”

Kamar Wulan dan Sari berhadap-hadapan, sehingga jika mereka membuka pintu bersamaan wajah mereka akan langsung bertatapan. Jarak kedua kamar itu memang cukup sempit, hanya sekitar satu meter. Ruang sempit yang berada diantara kamar Wulan dan Sari tersebut–yang lebih pantas disebut sebagai lorong–merupakan satu-satunya akses untuk menuju ke dapur dan kamar mandi.

Di lorong itu hanya ada satu perabot, yakni sebuah rak sandal dan sepatu yang digunakan bersama oleh Wulan dan Sari.

Rak itulah yang pertama kali dilihat Wulan saat kepalanya mendongak keluar dari pintu dan menyelidik ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihat gerak-geriknya.

Setelah yakin dengan kondisi di sekitarnya, Wulan mulai berjalan dengan berjinjit agar langkahnya tak menimbulkan suara. Meski jantungnya terasa berdegup kencang, namun ia terus berjalan mendekati mendekati pintu kamar Sari.

Perjalanan pendek yang semestinya cukup dengan dua langkah kaki itu, bagi Wulan terasa amat panjang karena rasa takut terus membebaninya.

‘Jangan sampai ketahuan Sari,’ gumam Wulan dalam hati.

Setelah berada di depan pintu kamar Sari, pelan-pelan Wulan berjongkok, menyelaraskan matanya dengan lubang kunci kamar tersebut. Ia merasa beruntung karena lubang itu tak tertutup kunci dari dalam, sehingga ia dapat menyapu pandang ke kamar sahabat karibnya itu.

Namun, Wulan segera merasa gusar setelah ia tak juga melihat keberadaan Sari dan Yudha di dalam kamar tersebut. Ia segera kembali menelisik kondisi sekitar, takut jika ia salah dengar.

Setelah yakin jika Sari dan Yudha memang berada di dalam kamar tersebut, Wulan kembali menyapu pandang ke seluruh bagian pintu. Ia menemukan apa yang ia cari, lubang lain yang berada di pintu tersebut.

Wulan segera bangkit, perlahan menuju ke lubang yang nampaknya tercipta secara alamiah karena kayu yang tidak sempurna itu. Ia kembali memicingkan mata untuk mencari Sari dan Yudha di dalam kamar tersebut.

Tak berselang lama, akhirnya Wulan menemukan Sari dan Yudha tepat di ujung kamar.

Melalui lubang itu, Wulan melihat dengan jelas sahabat karibnya tersebut tengah tenggelam dalam gairah yang menyala.

‘Sudah separah inikah tindakanmu, Sar. Kau benar-benar tega dengan suamimu,’ batin Wulan sembari menghela nafas dalam-dalam. Ia merasa sangat prihatin dengan tindakan nekat sahabat karibnya itu.

Wulan merasa risih dengan pemandangan itu, namun hasratnya yang membara justru menahannya agar tetap berada di sana. Kini, jantungnya berdegup semakin kencang, saat menyaksikan perilaku sahabat karibnya itu yang dengan nikmatnya memadu kasih bersama seorang pria yang bukan suaminya.

Sementara matanya terus menyaksikan setiap gerak-gerik Sari, Wulan merasa indera pendengarannya kian penuh dengan rintihan manja sahabat karibnya itu. Tanpa sadar, gejolak jiwanya kian tersulut hingga mustahil untuk dipadamkan.

Wulan yang kian tak kuasa menyaksikan adegan tersebut, merasakan jika kepalanya semakin berdenyut. Terlebih lagi saat ia menyaksikan betapa perkasanya Yudha sebagai seorang laki-laki.

Tak berselang lama, Wulan menyaksikan Sari dan Yudha yang telah terkulai lemas di atas sprei bermotif bunga itu. Jantung Wulan berdebar hebat saat mendapati kenyataan jika lelaki itu memang jauh lebih perkasa ketimbang Heru, suaminya.

“Pantas Sari gila,” puji Wulan lirih.

Wulan ingin terus menyaksikan pemandangan yang penuh dengan gelora itu, namun gejolak dalam dirinya yang kian memburu memaksanya untuk segera beranjak. Dengan langkah berjinjit, ia kembali menelusuri lorong sempit sembari menekan titik hasratnya yang kian berdenyut.

Begitu sampai di kamar mandi, ia merasa sangat lega dan bergegas duduk di kloset. Tanpa menunggu lama, ia segera membiarkan dirinya tenggelam dalam lautan gejolak yang tak mampu ia bendung.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel