Bab 02. Desah Manja Sahabatku
“Ah…!” rintih manja Sari, menggema ke seluruh sudut rumah tersebut dan menelusup ke dalam indera pendengaran Wulan.
Sejak Sari dan Yudha masuk ke dalam kamarnya, Wulan semakin tak mampu memejamkan mata karena terus mendengar desah manja pasangan gelap itu.
Pada mulanya Wulan memang merasa risih, bahkan muak. Namun perlahan, rintihan manja Sari itu mulai memantik gairahnya, seperti nyala api yang jatuh di atas genangan minyak.
Sebisa mungkin Wulan mencoba untuk menepis percikan hasrat itu agar tak berkobar di dalam jiwanya. Ia berbaring dengan resah, membolak-balikan badan untuk mencari posisi nyaman agar dirinya segera terlelap.
Namun, rintihan manja Sari yang terus menyusup tajam ke dalam indera pendengarannya, membuat Wulan tak kuasa untuk menghindari percikan hasrat itu. Ia merasa jika hasratnya justru kian membara dan semakin sulit untuk dipadamkan.
Gejolak hasrat yang terus berkobar itu, pelan-pelan membuat Wulan merasa kian kecewa dengan Sari, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Sejenak, ia pun mengingat-ingat masa kebersamaan dengan gadis yang telah dia anggap sebagai saudara tersebut.
Sejak masa kanak-kanak, Wulan dan Sari selalu bersama-sama. Mulai dari Sekolah Dasar hingga Menengah mereka selalu duduk berdampingan.
Wulan selalu menganggap jika Sari merupakan tempat satu-satunya untuk mencurahkan isi hati. Demikian pula dengan Sari yang menganggap Wulan merupakan sahabat sejati yang selalu menemaninya baik dalam suka maupun duka.
Pada masa kanak-kanak itu, Wulan dan Sari saling berkunjung ke kediaman mereka untuk mengerjakan tugas sekolah atau sekedar mencurahkan isi hati. Bahkan, tak jarang mereka saling bergantian menginap–terutama pada hari-hari libur sekolah–agar kian puas dalam membagi isi kepala.
Saat menginap itulah keduanya menghabiskan nyaris semalaman untuk membicarakan berbagai hal; tentang cinta, masa depan, sinetron-sinetron yang sedang populer, atau tentang cowok-cowok tertentu yang menarik untuk dibicarakan.
Nyaris seluruh warga kampung telah mengetahui kedekatan Wulan dan Sari. Sehingga mereka menjuluki keduanya sebagai saudara kandung beda ayah dan ibu.
Namun demikian, bagi warga masyarakat kampung Wulan dan Sari memiliki perbedaan yang mencolok, baik dari perilaku maupun kondisi fisik mereka.
Sari dikenal sebagai gadis yang genit–centil dan kemayu–dengan tubuh ramping yang nyaris kurus. Ia memiliki tahi lalat kecil di dahi dan pipinya. Gerak-geriknya yang selalu berlebihan kerap mengundang decak kagum para pemuda, meskipun lekuk tubuhnya sederhana.
Sementara itu, Wulan dikenal sebagai gadis yang kalem, pembawaannya tenang namun tubuhnya padat berisi. Sikapnya yang bersahaja, berpadu dengan lekuk tubuh yang matang, membuat setiap pemuda selalu mengharap perhatian darinya.
Perbedaan bentuk bentuk fisik itu sempat membuat Sari iri. Bahkan–saat mereka menginap di rumah Sari–ia sempat memaksa Wulan untuk menanggalkan seluruh pakaiannya demi untuk membedakan lekuk tubuh mereka.
Pada mulanya Wulan menolak mentah-mentah permintaan Sari itu. Namun, setelah Sari memaksa dan merayunya, ia menyanggupi permintaan gila itu. Meskipun setelah mereka tampil polos ia bergegas menutupi bagian sensitif tubuhnya dengan kedua telapak tangannya.
Setelah saling membandingkan satu sama lain, akhirnya mereka tak mampu menahan ledakan tawa. Keributan pada tengah malam itu akhirnya membuat ibunya Sari menggedor-gedor pintu kamar mereka.
“Ketawanya pelan-pelan saja, sudah malam ini. Pada ngapain, sih?”
“Nggak ngapa-ngapain, Mak, cuman cerita lucu saja,” jawab Sari sekenanya.
Setelah kejadian itu, Wulan selalu menolak keras ketika Sari kembali mengajaknya untuk melakukan hal konyol tersebut. Seandainya Sari memaksa, ia akan melawan sekuat tenaga.
“Mas Yudha Sa—yang!” teriak Sari lagi, suaranya kian menggema nyaring di setiap sudut rumah, membuat Wulan merasa tak mampu lagi menahan gejolak hasrat di dalam jiwanya.
Seiring dengan gejolak yang kian membara, Wulan kian resah menahan luapan hasrat di dalam jiwanya.
Pada saat itu juga, Wulan mulai memejamkan mata untuk membayangkan wajah Heru, suaminya, lelaki yang setahun belakangan ia benci. Kendati demikian, bagi dirinya hanya lelaki itulah yang berhak mengisi ruang imajinasi nakal dalam pikirannya.
Dalam hitungan detik, bayangan masa-masa indah bersama Heru telah menenggelamkan kenangan buruk saat Wulan hidup bersamanya. Ia tak lagi ingat jika terakhir kali suaminya memanjakannya terjadi saat lelaki itu membutuhkan uang karena uang miliknya hilang entah kemana.
Malam itu, Wulan memang merasa bak pengantin baru, sebab Heru benar-benar membuat dirinya kewalahan. Mereka memadu kasih nyaris tiga jam lamanya, membuat setiap sendi-sendi Wulan terasa terlepas pagi harinya.
Namun, Wulan tak pernah menyangka jika kebersamaan indah itu rupanya menjadi kenangan terakhir bagi dirinya. Sebab, sejak saat itu Heru semakin jarang pulang ke rumah. Apabila pulang, alih-alih memberinya belaian kasih sayang, ia hanya singgah sesaat untuk berganti pakaian dan kemudian segera pergi, seolah hanya menjadikan rumahnya sebagai tempat singgah sesaat.
Wulan sebenarnya ingin sekali untuk segera menanyakan persoalan itu kepada Heru. Namun, ia tak pernah mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan suaminya tersebut.
Setiap kali Wulan hendak mengajak berbicara, Heru terus saja menghindar kepadanya. Bahkan, suaminya itu tak segan-segan bertindak kasar jika Wulan memaksa.
Akhirnya Wulan menyerah dan tak pernah mencoba lagi untuk berbicara kepada Heru. Ia merasa jika suaminya itu telah berubah, semakin asing dan jauh dari dirinya
Wulan merasa jika kondisi rumah tangganya semakin berantakan dan hanya menunggu waktu untuk hancur sepenuhnya. Namun, satu hal yang membuatnya semakin prihatin adalah kondisi putrinya yang baru berusia empat tahun.
Semenjak Heru jarang pulang, Lestari acap kali menangis meronta-ronta karena merasa rindu kepada ayahnya. Jika sudah demikian, maka Wulan hanya bisa menangis, tak mampu membendung kesedihan. Terkadang, ia terpaksa menghibur putrinya itu dengan mengunjungi kakeknya.
Sesekali Wulan mencoba untuk mengadukan persoalannya kepada kedua mertuanya. Namun, keputusan itu justru memperparah kesedihannya. Kedua mertuanya yang dulu bersikap lembut, kini justru turut berubah. Alih-alih percaya dengan omongan Wulan, mereka justru berbalik menyerang dengan mengatakan jika semua itu merupakan kesalahannya.
Setelah kejadian itu, ibu mertua Wulan bahkan semakin menyudutkannya. Setiap hari, ia seringkali memarahinya tanpa sebab yang jelas. Bahkan, ia tak segan-segan untuk mengungkit persoalan-persoalan sepele yang bahkan tak perlu dibicarakan untuk menyelesaikannya.
Terkadang, ibu mertuanya menjadikan Wulan sebagai bahan pembicaraan dengan para tetangga dan kawan-kawanya. Ia menganggap jika dirinya telah salah memilih seorang menantu.
Perubahan sikap ibu mertua Wulan kian parah saat perempuan itu mengetahui jika Wulan sering berhutang di warung atau meminjam uang kepada tetangga untuk mencukupi kebutuhan harian. Ia menganggap menantunya itu tak cakap dalam mengelola keuangan keluarga. Padahal, hal tersebut terpaksa dilakukan oleh Wulan karena Yudha tak pernah memberinya uang.
“Menantu goblok, gak bisa ngurus uang suami,” bentak ibu mertuanya pada suatu kali dengan mata yang membelalak saat mengetahui jika Wulan berhutang beras di warung.
Wulan telah berulang kali mencoba menjelaskan secara baik-baik dengan ibu mertuanya itu. Ia mengatakan jika hal itu terpaksa ia lakukan karena Heru telah berbulan-bulan tak memberinya uang. Namun, bukannya mempercayai alasan menantunya, kemarahan ibu mertuanya malah semakin menjadi-jadi.
Wulan tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menjelaskan persoalan tersebut. Ia hanya mampu meneteskan air mata sembari sesekali mengadu kepada ibunya. Namun, kedua orang tuanya pun tak mampu berbuat banyak. Mereka hanya meminta agar Wulan tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan tersebut.
Sewaktu masih melajang, Sari memang menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati Wulan. Namun setelah menikah, ia enggan untuk menceritakan kondisi rumah tangganya yang carut marut itu. Meskipun, setelah sahabat karibnya itu memaksa, ia pun menceritakan persoalan tersebut kepadanya.
Kondisi rumah tangga yang kian rumit itu sempat memicu niat Wulan untuk menggugat cerai suaminya. Namun, kedua orang tuanya dengan tegas melarang; mereka tak ingin cucunya menjadi korban sikap egois kedua orang tuanya.
Sebagai jalan tengah, Wulan memutuskan untuk merantau demi mencukupi kebutuhannya keluarganya. Meskipun pada mulanya kedua orang tuanya keberatan, namun akhirnya mereka mengizinkan.
“Mas Yudha!” pekik Sari dengan gema yang semakin nyaring di telinga Wulan. Spontan, hasratnya semakin berkobar, membuatnya semakin gelisah.
Bayangan Heru yang kian liar di kepala, membuat Wulan semakin tak kuasa menahan hasrat. Ia mulai menelusup lebih dalam lagi untuk meraih kehangatan.
“Mas Heru…!” desah Wulan sembari memelihara imajinasi bersama dengan suaminya.
Namun, seiring dengan kenangan buruk yang turut berdatangan di dalam kepalanya, Wulan segera tersadar jika ia telah melakukan kesalahan karena telah memelihara imajinasi tentang Heru, lelaki yang telah menghancurkan hatinya.
“Lelaki brengsek!” gumamnya.
Wulan segera melenyapkan bayangan Heru dari kepalanya. Ia bangkit dan perlahan melangkahkan kaki ke arah pintu.
Pelan-pelan, Wulan membuka pintu tersebut sembari menahan hasratnya. Ia memang telah menghapus bayangan Heru, tapi…
