4. Setelah Makan Malam
Fiora pun terhenyak.
Ia tak bisa berkutik, kala kedua tangannya dicengkram oleh dua pria yang berbeda.
Bagaimana ini?!
"Lepaskan dia, Riven. Aku serius," kembali Darius berucap. Bola mata merahnya yang aneh itu tampak menyala-nyala liar bagaikan kobaran api besar.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Riven dengan senyumannya yang mengejek.
"Kekanakkan sekali. Hanya karena kau yang lebih dulu melihat Fiora, maka kau merasa berhak untuk menjadi pemberi benih yang pertama, begitu?"
Darius mendengus kasar. "Sangat tipikal. Kau selalu begini, kan? Selalu saja merebut apa yang aku sukai?" tudingnya.
"Sekali lagi kukatakan, lepaskan tangan Fiora. Atau aku akan menghajarmu!"
Tiba-tiba tawa kecil menguar dari bibir Riven. "Yakin kau akan menang? Aku jauh lebih lebih kuat darimu, Darius." Senyum di wajah pria itu masih tercipta, namun sekarang disertai dengan kilatan berbahaya di matanya.
Darius menyunggingkan senyum miring yang menakutkan. "Kita lihat saja, siapa yang sanggup bertahan hidup pada akhirnya."
Elyon yang semula sudah fokus kembali pada bukunya, kini memilih untuk menutup bukunya dan menonton perseteruan antara Riven - Darius, sementara Vael tampak frustasi seraya memijit pelipisnya
"Kalian ini selalu saja bertengkar," cetus pria bersurai keperakan itu sambil menghela napas pelan.
"Tak bisakah dibicarakan saja baik-baik? Karena tidak akan pernah ada lagi yang berkelahi di sini, tidak dalam pengawasanku," Vael menatap Darius dan Riven bergantian.
Lalu anehnya... mereka berdua tampak mulai saling menahan diri.
Sepertinya Vael adalah pemimpin di sini. Terbukti, beberapa kali Fiora mengamati bagaimana semua pria di sini tampak menghormatinya.
"Begini saja," ucap Riven tiba-tiba. Aura kelam pria itu pun berubah menjadi ceria dengan begitu cepatnya.
"Biar adil, bagaimana jika Fiora saja yang memilih pria pertama yang akan memberikan benihnya?"
Ketika empat pasang mata dari empat pria tampan sekarang menatapnya dengan tajam, Fiora pun hanya bisa menelan ludah.
"I... itu... aku..." Fiora meringis, tak tahu harus berkata apa. Rasanya saja sekarang ia ingin pingsan saking gugupnya!
Tatapannya kemudian terarah pada Riven, pada wajahnya yang tampan bak pangeran berkuda putih, dengan rambut pirang dan senyumnya yang menawan.
Lalu Fiora beralih pada Darius, si agresif bagai kuda liar yang tak kalah tampan, meskipun mata yang merah itu sedikit aneh, namun kini terlihat unik di mata Fiora.
Dua pria yang sangat berbeda bagai siang dan malam. Riven dengan aura bercahaya dan menggoda, sementara Darius dengan aura gelap dan pekatnya.
Siapa yang akan dia pilih?!
Tanpa sengaja, pandangan gadis itu pun sedikit bergeser...
... dan menatap Vael.
Pria itu juga ikut menatapnya dalam diam, tak pelak membuat Fiora kembali teringat pada perkataannya di pantai barusan.
"Ehem, Fiora? Jadi siapa yang kamu pilih? Aku atau si sombong pirang itu?" cetus Darius tak sabaran melihat Fiora yang malah melamun, sambil beradu pandang dengan Vael.
Suara Darius membuat Fiora tersadar. "Uhhm... aku serahkan keputusan itu pada Vael saja," ucap gadis itu akhirnya.
Vael pun tak pelak menaikkan alisnya heran. Kenapa jadi malah dia yang harus memilih?
"Baiklah. Fiora memberikanku kuasa untuk memilih, maka aku pilih... Darius," putus Vael.
Tawa gembira penuh kemenangan pun terdengar dari bibir Darius.
Pria itu langsung memanggul tubuh Fiora, persis seperti ketika gadis itu baru turun dari helikopter, dan bersiap untuk membawa Fiora ke kamarnya.
"Tunggu dulu, Darius." Suara dingin Vael kembali terdengar, membuat langkah Darius terhenti seketika.
"Fiora baru sampai di pulau ini. Setidaknya biarkan dia istirahat dan bersantai dulu. Kamu bisa memberikan benihmu sesudah makan nanti malam."
Wajah Darius pun sontak berubah masam mendengar perkataan Vael. "Sesudah makan malam? Itu terlalu lama!" protesnya.
Namun Vael tak bergeming, tak berkedip, dengan netra heterochromia-nya yang menatap tajam Darius.
Umpatan pelan pun keluar dari bibir Darius. Dengan enggan, ia meletakkan kembali tubuh Fiora hingga kaki gadis itu kembali menginjak lantai.
Tapi kemudian Fiora merasakan pinggangnya dicubit pelan, sebelum bisikan Darius terdengar di telinganya.
"Nanti malam aku akan membuatmu menjerit, Fiora. Kamu milikku."
***
