5. Curiga
Sejujurnya, Fiora sedikit kecewa ketika Vael menyebut nama Darius, untuk menjadi pemberi benih pertama di antara mereka.
Bukan berarti Fiora memilih Riven juga, hanya saja... entahlah...
Dalam hati kecilnya, Fiora berharap jika Vael saja yang akan menjadi pemberi benih untuknya...
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan wajah merona... berusaha mengusir pikiran absurd yang tak seharusnya ia pikirkan.
Tidak boleh ada preferensi dalam hal ini. Tidak boleh ada perasaan maupun keinginan subyektif.
Tujuan pemberian benih adalah untuk berkembang biak, bereproduksi, mempertahankan keberlangsungan hidup manusia.
Antara pria pemberi benih dan wanita penampung benih dilarang menjalin keterikatan apa pun bentuknya, atau akan ada sanksi berat yang harus ditanggung bagi yang melanggarnya.
"Kamu melamun terus sejak tadi, apa yang kamu pikirkan?"
Teguran lembut seorang pria membuat Fiora tersadar dari benaknya yang melanglang buana.
Gadis itu lalu meringis malu kepada pria tampan bersurai pirang yang ada di sampingnya, Riven.
Karena malam ini Darius akan menjadi pria pertama yang akan memberikan benihnya kepada Fiora, maka Riven meminta agar dirinya diberikan kesempatan untuk bersamanya siang ini.
Setelah makan, Riven mengajak Fiora berjalan-jalan di sekitar taman Mansion.
Riven cukup menyenangkan juga sebagai teman berbincang. Sikapnya riang dan ramah, hanya terkadang suka menggoda hingga membuat Fiora rikuh.
"Maaf... tadi kamu bertanya apa?" tanya Fiora penuh penyesalan. Seharusnya ia fokus pada Riven, bukannya malah melamunkan Vael!
Riven berdecak pelan, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. "Tidak usah dibahas kalau kamu tidak mau mendengarkan."
Fiora pun semakin tidak enak melihat Riven yang terlihat kesal. "Aku sungguh minta maaf, Riven. Kali aku akan mendengarkanmu."
Riven kembali menatap Fiora, namun sekarang sudah kembali ada senyum di wajahnya, meskipun masih samar.
"Oh iya, sebenarnya aku mengajakmu ke sini untuk itu," pria itu menunjuk ke salah satu sudut taman dengan dagunya.
Fiora menoleh untuk mengikuti arah pandang Riven, lalu seketika maniknya membelalak lebar.
"Ada ayunan di sini?" gadis itu bertanya sambil tersenyum lebar.
Ia sangat menyukai ayunan!
Sayangnya, selama ini tak ada benda seperti itu di penampungan.
Riven menarik tangannya. "Ayo, naik! Aku yang akan mendorongmu."
Fiora pun tak pelak terkesima melihat ayunan itu.
Terbuat dari kayu dengan ukiran sederhana namun cantik di bagian atasnya, juga dihiasi bunga-bunga aneka warna di sudut tiangnya.
Saat ia duduk, pandangannya tepat menghadap ke arah air mancur yang indah.
Sempurna sekali! Fiora bisa betah berjam-jam di sini.
Riven mulai mendorong pelan dari belakang, dan Fiora merasakan angin lembut mulai menerpa wajahnya.
Seketika gadis itu menutup mata dan tersenyum.
Perasaan ini... seperti terbang bebas, seperti burung di angkasa yang bisa pergi ke mana saja.
"Ayunannya indah sekali," ucap Fiora. "Tapi... rasanya sedikit aneh, karena kalian semua pria. Dan ayunan ini... terlalu feminin."
Riven tertawa kecil. "Aku yang membuatnya sendiri."
Sontak saja manik Fiora melebar. Ia menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap Riven. "Kamu yang membuatnya sendiri?"
Riven menangkap kedua tali ayunan Fiora hingga berhenti mengayun, lalu pria itu menundukkan wajah mereka hingga kini hanya berjarak beberapa senti saja.
"Kalau kamu suka, apa aku bisa mendapatkan satu ciuman sebagai hadiahnya?"
Fiora mengerjap pelan saat merasakan tengkuknya tiba-tiba dicengkram.
Dengan senyum yang masih terlukis, Riven pun mendekatkan wajahnya, lalu menyambar bibir Fiora.
Mengabaikan perasaan tak nyaman di dadanya, Fiora pun membiarkan pria itu melumat dan menghisap lembut bibirnya.
Riven adalah salah satu dari lima pria pemberi benih. Wajar saja jika mereka bersikap mesra seperti ini, bahkan lebih pun diperbolehkan.
Sementara itu... dari dalam Mansion, seorang pria tampan bersurai keperakan berdiri diam seraya menatap ke jendela yang mengarah ke taman.
Tak ada ekspresi yang berarti di wajahnya, mungkin karena ia terlalu pintar menyembunyikan perasaannya.
"Riven itu licik sekali," ucap sebuah suara dari arah sampingnya.
Pria itu menoleh, dan menemukan Elyon yang ternyata sudah berdiri di dekatnya.
"Dia pasti mengaku bahwa dialah yang membuat ayunannya. Padahal kamu yang sudah susah-payah melakukannya, Vael."
Vael tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap ke luar jendela, melihat Fiora dan Riven yang masih berciuman.
"Jika Fiora menyukai ayunannya, maka tak masalah siapa pun yang membuatnya," ucap Vael akhirnya.
Alis panjang Elyon seketika menukik naik. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda pada Vael, sejak kedatangan gadis penampung benih itu.
"Kalau kamu menyukai Fiora, seharusnya kamu mengajukan diri untuk menjadi yang pertama memberikan benihmu. Baik Darius atau pun Riven pasti tidak akan keberatan, karena mereka sangat menghormatimu," tukas Elyon lagi.
Satu sudut bibir Vael sedikit menukik naik membentuk seringai yang sangat samar hingga hampir tak terlihat.
"Tidak masalah siapa pun yang akan menjadi yang pertama memberikan benihnya, Elyon," sahut Vael.
"Ini hanya tugas. Jadi tak seharusnya dibawa terlalu serius, kan?"
Vael lalu menepuk pelan pundak Elyon, sebelum membalikkan badannya dan berlalu pergi.
Meninggalkan Elyon yang mengernyitkan keningnya, merasakan sedikit kegetiran dari kalimat Vael, meskipun dia berusaha menyembunyikannya.
Elyon kembali menatap ke jendela, dan melihat Riven yang kini sudah mendorong ayunan untuk Fiora.
Aneh. Kenapa Darius, Riven dan Vael begitu cepatnya menyukai gadis penampung benih itu?
Ya, Fiora memang manis. Tubuhnya juga bagus, keseluruhan penampilannya sangat menggiurkan dan menggugah hasrat kelelakian.
Tapi itu hanya fisik, dan Elyon pun mengerti jika pria normal menginginkannya gadis semenawan itu.
Hanya saja, yang ia lihat... mereka bertiga lebih dari sekedar tertarik secara fisik.
Pria bersurai coklat ikal itu pun memiringkan kepalanya, menatap lekat wajah Fiora yang tertawa gembira di atas ayunan.
"Menarik sekali...," gumannya pelan seraya menyipitkan mata curiga.
"Kita lihat saja, gadis rambut merah. Apakah tujuanmu sebenarnya hanya untuk mendapatkan benih, ataukah ada maksud lain di baliknya?"
***
