Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Berebut

Usai mengucapkan kalimat itu, Darius pun melepas cengkeramannya dan segera berdiri.

Bola mata merah menyala pria itu lalu tertuju pada Vael, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

Pria itu hanya mendengus pelan, lalu pergi.

Fiora hanya menatap punggungnya, lalu pandangannya beralih pada Vael.

Pria itu bergerak mendekat dan menjulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

"Kamu baik-baik saja?" Vael bertanya, seraya menatap ke arah gaun tipis Fiora yang kini melekat erat dan tembus pandang karena basah.

Dengan segera, ia membuka kemeja hitam yang ia gunakan sebagai luaran di atas kaus putihnya.

Vael memakaikan kemejanya di tubuh Fiora, bahkan ikut membantu merapikan dan mengacungkan, tanpa berusaha untuk curi-curi sentuhan.

Oke, ternyata di balik rambut dan matanya yang tidak normal, ternyata sikap Vael sangatlah normal.

Bahkan terlalu gentlemen, hingga membuat gadis itu tersentuh.

Sejujurnya, seorang wanita penampung benih jarang sekali mendapatkan perlakuan yang sehormat itu.

"Terima kasih," ucap Fiora bersungguh-sungguh.

Maniknya kembali beradu tatap dengan bola mata berbeda warna seperti kaca milik Vael, dan kembali ia merasakan hal yang aneh.

Kulitnya tiba-tiba meremang penuh antisipasi, dan desir-desir membingungkan yang kembali hadir di dada.

"Apa kita... pernah bertemu sebelumnya?" tanya Fiora akhirnya.

Untuk beberapa saat Vael hanya diam. Lalu akhirnya ia melukiskan senyum samar yang sekilas tampak sendu.

"Ini bukan pertama kalinya kamu menatapku seperti orang asing," ucapnya pelan.

Kalimat itu serta-merta mengejutkan Fiora. Bukan pertama kali? Jadi mereka memang pernah bertemu??

Namun belum sempat Fiora kembali bertanya, tiba-tiba Vael sudah menarik tangannya.

"Ayo. Aku akan kenalkan dengan yang lain. Kamu tadi sudah bertemu dengan Darius, masih ada tiga pria lagi."

Fiora pun menelan ludahnya ketika membayangkan pria-pria itu.

Semoga saja mereka tidak seperti Darius yang agresif, tapi lebih seperti Vael yang baik.

Percuma juga menolak, kenyataannya dia sudah tiba di Pulau ini, dan mau tak mau harus menjalankan tugasnya sebagai penampung benih.

Lagipula, belum tentu mereka berlima bersedia menjadi pemberi benih!

Ya, mudah-mudahan saja Fiora hanya perlu bekerja sama dengan satu pria saja di antara mereka.

Vael dan Fiora berjalan di atas pasir, masih bergandengan tangan. Hangat kulit pria itu seolah mampu menembus kulit Fiora.

Fiora melirik pria tinggi yang berjalan di sampingnya, lalu seketika gadis itu pun menggigit bibirnya.

Ya ampun, Vael ini benar-benar tampan.

Ia sama sekali tidak keberatan jika Vael bersedia menjadi pemberi benih untuknya...

Semburat merah jingga seketika mewarnai pipi gadis itu hingga ke telinga, karena bayangannya sendiri.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah yang sangat besar, yang berdiri terletak agak menjauh dari pantai.

Fiora pun sempat tercengang melihat besarnya bangunan itu.

"Apa kalian tinggal bersama orang lain?" tanyanya.

Vael menggeleng. "Hanya ada kami berlima di Mansion ini."

Jawaban itu membuat Fiora mengerjap heran. Rumah sebesar ini, dan hanya lima orang penghuninya?

Hampir seumur hidup, Fiora tinggal di penampungan. Meskipun bersih dan cukup nyaman, namun tidak besar.

Kamarnya saja hanya seukuran 5x6 meter persegi, itu pun dihuni untuk berdua.

Mereka masuk bersama ke dalam Mansion itu, lalu Vael membawanya ke ruang santai.

Hanya ada tiga pria di sana.

Salah satunya adalah Darius, yang langsung berdiri dan menatap lekat ke arah Fiora tanpa berkedip dengan bola mata merahnya yang menyala.

Ck, rasanya Fiora seperti akan dimakan hidup-hidup oleh pria itu.

"Oh, si wanita penampung benih ternyata sudah tiba," ucap seorang pria bersuara pirang yang juga sangat tampan.

Semula ia sedang selonjoran di atas karpet bulu, lalu segera bangkit kala melihat Fiora yang datang bersama Vael.

Senyumnya lebar dan menggoda, mengamati sekujur tubuh Fiora yang tenggelam dalam kemeja hitam Vael yang kebesaran di tubuhnya.

"Halo, namaku Riven. Kamu pasti Fiora, kan?"

Riven menjulurkan tangannya, dan Fiora pun menyambutnya.

"Halo, Riven. Senang bertemu denganmu."

Satu lagi pria normal, dan Fiora pun bersyukur karenanya. Meskipun tampaknya si Riven ini sikapnya agak sedikit menggoda.

"Elyon, kemarilah." Vael memanggil pria bersurai coklat gelap ikal, yang sedang asyik membaca buku tebal di meja belajar.

Pria itu menutup bukunya, lalu dengan patuh ia berdiri dan berjalan mendekati Fiora.

"Ini Elyon," ucap Vael. "Dia agak malas bicara, tapi dia tidak jahat."

Elyon melempar tatapan datar ke arah Vael, namun tetap tak berkata-kata.

Lalu ia hanya mengangguk singkat ke arah Fiora tanpa senyum sama sekali.

"Ha-halo, Elyon..." Ditatap dengan tajam seperti itu, tak pelak membuat Fiora takut.

'Oke, sepertinya di sini yang bisa diajak bicara hanya Vael dan Riven. Darius terlalu agresif, dan Elyon tak bisa ditebak,' catat Fiora dalam hati.

Vael mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang santai, lalu bertanya, "Dimana Zephyr?"

"Paling-paling dia sedang patroli seperti biasa," Riven menyahut cepat, lalu pria bersurai pirang itu menatap Fiora antusias dan penuh rasa ingin tahu.

"Apa bajumu basah? Aku punya pakaian yang jauh lebih baik dari pada milik Vael," ucap Riven sambil memamerkan senyumnya yang menawan.

Lalu ia menarik tangan Fiora dari Vael. "Kamarku ada di atas, jadi~~"

"Hei!"

Teriakan gusar itu berasal dari Darius, yang langsung menyambar satu tangan Fiora yang bebas.

"Jangan mendahului, Riven! Akulah yang lebih dulu melihatnya, jadi sekarang Fiora hanya boleh masuk ke dalam kamarku!"

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel