2. Terjebak
Manik coklat terang milik Fiora seketika membelalak semakin lebar.
LIMA??! LIMA PRIA PEMBERI BENIH??!
Tanpa sadar gadis itu menggelengkan kepalanya dengan wajah shock.
"Tolong... jangan bercanda," lirihnya dengan tatapan tak lepas dari pria berseragam tentara itu.
"Aku hanya wanita penampung benih! Cuma membutuhkan satu pria sehat dan normal saja untuk melakukan hal itu, bukannya lima!"
Kini ekspresi pria berseragam tentara itu pun tampak kesal dan terganggu melihat Fiora yang mulai histeris.
"Dan tugas kami hanyalah menjalankan perintah dari pemimpin! Sementara kamu, Fiora, ditugaskan di pulau ini, untuk menjadi penampung benih untuk lima pria! Terimalah itu dan jangan merengek atau membuat masalah!" bentaknya gusar.
Fiora menggigit bibirnya. Sial. Ia merasa telah ditipu mentah-mentah.
Apa-apaan ini? Apa dia sudah dianggap pelacur yang harus melayani lima pria sekaligus??
Meskipun menjadi wanita penampung benih sama dengan memberikan tubuhnya untuk pria lain secara cuma-cuma, namun selama ini Fiora selalu menganggap tugasnya itu mulia.
Yaitu untuk menyelamatkan peradaban, membentuk generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan manusia di dunia.
"Aku tidak mau," sergah gadis itu seraya menggeleng dengan tatapan keras pada pria tentara itu.
"Aku mau kembali saja ke penampungan. Biarkan aku yang bicara pada pemimpin kalian. Ini pasti ada kesalahpahaman dan..."
Belum selesai Fiora berbicara, tiba-tiba saja pintu di helikopter yang berada tepat di sampingnya pun terbuka.
Fiora bahkan masih setengah menoleh, kala merasakan tubuhnya mendadak didorong dengan kasar hingga jatuh terjengkang dari pintu yang terbuka, lalu mendarat di atas air jernih yang dangkal.
Baju dan rambutnya jadi basah kuyup karena air yang asin dan hangat, tapi Fiora masih diam tak bergeming dengan ekspresi tak percaya.
Ia baru saja ditendang keluar! Aargh, kurang ajar!
Gadis itu pun bergegas berdiri dan berniat untuk masuk kembali ke dalam helikopter, namun sayangnya pintunya kini telah ditutup dan dikunci dari dalam.
Dengan gusar, Fiora memukul-mukul badan helikopter dengan kuat, tak mengindahkan tangannya yang mulai terasa sakit.
"Buka!" Jeritnya keras, berusaha mengalahkan suara mesin serta baling-baling helikopter yang membelah udara.
"Buka pintunya! Biarkan aku masuk!!"
Fiora semakin histeris dan panik melihat alat transportasi itu mulai bergerak dengan perlahan.
Ia berusaha menggapai, namun tiba-tiba sepasang tangan kokoh menarik pinggangnya.
Fiora pun terus menjerit dan meronta ketika tanpa aba-aba, tubuhnya sudah disampirkan di atas bahu yang keras dan dibawa pergi menjauh dari garis pantai.
"Turunkan aku! Turunkaan!!" Gadis itu memukul punggung kekar yang menopangnya, dan menendang apa pun sebisa mungkin.
Mulai putus asa, maniknya pun kembali terarah ke langit, menatap helikopter yang kini telah terbang menjauh.
Aaargh... jadi ia benar-benar ditinggalkan di sini?!
BRUUKK!!
Fiora memekik tertahan saat tubuhnya tiba-tiba saja dibanting di atas pasir yang lembut, kering dan terasa hangat di kulitnya.
Untuk sejenak, ia pun membeku saat seorang pria berdiri tegak dua langkah di depannya.
Tubuhnya tinggi dan kekar, dan bajunya sama basah seperti Fiora.
Tatapan bola matanya yang merah dan tajam menelusuri sekujur tubuh Fiora tanpa malu.
Memandangi kedua bukit kembar dan puncak merah muda tercetak dengan nyata dari balik busana yang basah.
Bibirnya seketika menyeringai penuh arti, menyadari bahwa gadis bersurai merah gelap di depannya ini sama sekali tidak mengenakan pakaian dalam.
Lalu pandangan pria itu turun ke perut datar Fiora, dan semakin turun ke lipatan segitiga di antara kedua paha gadis itu.
Dan saat itu juga, pandangan matanya semakin menggelap.
“A-aku… siapa kamu?” Fiora akhirnya berusaha membuka suara, meskipun tenggorokannya terasa kering dan tercekat.
Pria itu tidak menjawab, hanya bergerak turun dan berjongkok di samping Fiora .
“Lumayan juga,” gumannya pelan, sambil memandangi wajah manis Fiora yang memiliki freckles samar dan bibirnya yang merah menggiurkan.
“Kali ini mereka mengirim sesuatu yang lebih segar... dan hidup.”
Jantung Fiora pun berdetak semakin kacau.
Namun belum sempat gadis itu bertanya lebih jauh, tiba-tiba saja pria itu sudah menindih tubuhnya, lalu menahan pergelangan Fiora di atas pasir dengan satu tangannya.
“Tenang saja,” ucapnya dengan suara rendah yang malah membuat Fiora semakin gelisah.
“Kalau aku mau menyakitimu, sudah sejak tadi tubuhmu sudah kuhancurkan dengan sangat mudah, Nona rambut merah.”
Fiora merasakan tekanan di dadanya saat pria itu meremas dengan kuat, lalu mencium dan menggigit bibirnya dengan agresif.
Sakit.
Fiora berusaha menahan diri agar tidak berteriak lagi, karena entah kenapa... ia yakin jika pria ini pasti akan bersikap lebih ganas jika ia melawan.
“Darius,” tiba-tiba terdengar suara lain yang lebih dingin dan lebih dalam.
Darius melepaskan bibirnya, lalu menoleh ke arah sumber suara, diikuti juga oleh Fiora.
Tampak tak jauh dari mereka, seorang pria lain berdiri di antara bayangan pepohonan.
Tubuhnya lebih besar dan kekar dari Darius dan wajahnya pun tak kalah tampan... bahkan lebih tampan.
Usianya juga sepertinya hampir sama dengan Darius.
Dan rambutnya... rambutnya yang agak panjang itu berwarna... putih agak keperakan.
Pria itu berjalan mendekat dengan langkah-langkah tenang, namun ada sesuatu yang aneh pada diri Fiora...
Semakin dekat pria bersurai perak itu, semakin Fiora merasakan desir-desir yang tak wajar di dalam dadanya.
Bukan rasa takut, tapi... seperti tubuhnya ingin memberikan reaksi yang ia sendiri bahkan tak mengerti.
Pria itu lalu berhenti beberapa langkah dari Fiora yang masih berbaring di bawah tubuh Darius.
“Lepaskan dia."
Itu adalah sebuah perintah sederhana, tapi entah bagaimana seolah mampu membuat udara di sekitar langsung berubah menjadi pekat dan padat.
Darius tersenyum tipis. "Dasar perusak suasana," ucapnya seraya mendengus, namun cengkeramannya di pergelangan Fiora tidak langsung lepas begitu saja.
"Aku yang lebih dulu menemukannya, Vael. Jadi gilirankulah yang pertama menikmati tubuhnya," ucap Darius tegas.
Bola mata merahnya menyorot garang dan murka, tapi pada akhirnya ia melepaskan Fiora dan beranjak untuk duduk di atas pasir.
Perlahan, Fiora pun ikut bergerak. Namun karena kakinya masih gemetar, gadis itu memutuskan untuk diam dalam posisi duduk tak jauh dari Darius.
Fiora masih diam, namun kini mendongak menatap sosok pria yang bernama Vael itu.
Dan lagi-lagi ia terkejut.
Vael itu... bukan cuma warna rambutnya yang aneh, tapi juga kedua bola matanya... yang ternyata berbeda warna.
Kanan hijau, sedangkan kiri biru, bersinar seperti kaca berwarna di bawah pantulan sinar matahari.
Rasanya Fiora merasakan jantungnya luruh ke atas pasir saat ini juga.
Kenapa dua pria pemberi benih yang ia temui ini sama-sama aneh dan tidak sewajarnya manusia biasa?
Lalu apakah tiga pria sisanya akan sama anehnya??
Darius mengernyitkan kening tak suka, kala melihat Fiora dan Vael yang saling memandang dalam diam. Detik itu juga, amarah pun terasa membakarnya.
Satu tangannya pun terulur untuk mencengkram lengan Fiora, lalu pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.
“Selamat datang di Pulau ini,” bisiknya pelan.
“Dan juga selamat… karena kau tidak akan pernah bisa pergi.”
***
