BAB 3 GOA BATU
BAB 3 GOA BATU
Tetua Ye lanchen menatap Ye Long dan saudaranya dengan penuh selidik terus menunduk sejenak terus mengangguk dan tangan mengepal menahan marah. Berkata “Ye Tian!?.. Ye Tian!?.. Hmm.. Tetua Lanchen tersadar menatap rombongan Tuan muda Ye Long dan berkata.
“Iyalah, kalian semua istirahat,” tetua Lanchen berbalik badan dan masuk ke aula tetua klan, menyampaikan apa yang kabarkan oleh Tua muda Ye Long dan saudaranya, para tetua dan ketua klan Ye Canfheng neneknya Ye Tian, dan neneknya Ye Long, Ye Hong, Ye Lan dan Ye Yuan. Tingkat ketua Ye Canfheng pada saat ini Tingkat Kultivasi Lautan Ilhai Tahap 9 Awal dan orang terkuat dikota Loyuan, dengan informasi yang disampaikan oleh tetua Ye Lanchen ketua klan mengumumkan agar mencari Ye Tian, untuk ditanya apakah benar kebenarannya yang disampaikan oleh Ye Long dan Saudaranya, sebab meraka adalah cucu-cucu dari Ketua Ye Canfheng semua. Dan Ye Tian adalah cucu kesayangan nya, anak dari Ye Minghu yang dulu kandidat kuat ketua klan semasa masih hidupnya, karena Ye Minghu pesilat tangguh di kota Loyuan dan termasuk 20 besar kerajaan Baihal. Entah mengapa sebelum Ye Tian lahir ayahnya Ye Minghu menjalan Misi tuan Kota Loyuan, diperjalanan pulang dikabarkan dihadang segerombolan orang berpakaian hitam bertutup muka, mengeroyok Ye Minghu pada pada akhirnya Ye Minghu Mati mengenaskan pada saat itu. Dan kota loyuan adalah salah satu kota dikerajaan Baihal. Kerajaan Baihal salah satu kerajaan dibagian benua timur. Dalam cerita ini benua terbagi empat benua, benua Timur dengan lima Kerajaan, benua barat dengan empat kerajaan, benua utara enam kerajaan, benua selatan lima kerajaan, dan beberapa kota didalam kerajaan-kerajaan tersebut, salah satunya kota Loyuan yang ambil dari hutan Loyuan yang luasnya meliputi enam bulan perjalanan, dengan Tuan Kota Lou Yang, Tingkat Kultivasi Lautan Ilhai Tahap 9 puncak. Dan kota Loyuan termasuk kota yang makmur dan maju dengan keramaian kota yang padat, serta dialun-alun kota terbentang luas panggung beladiri Loyuan, yang setiap lima tahun sekali diadakan festival kota Loyuan untuk memilih pemuda beladiri terkuat, dan dihutan Loyuan inilah banyak masyarakat menggantungkan nasibnya pada hutan Loyuan, sebab didalam hutan Loyuan banyak tumbuh, tumbuhan obat-obatan serta hewan buas dan hewan buas iblis tingkat 9. Dan didalamnya terdapat aliran sungai dan air terjun serta jurang yang dalam. Dan terdapat gunung-gunung yang aktif, dan tersiar kabar adanya hewan buas furba.
Saat yang sama, sore mendekati senja Ye Tian berlari tak menentu arah, dan pada saat itu juga beberapa hewan buas mengejarnya, dengan penuh susah payah dan doa dan didalam hati Ye Tian memendam sesak dadanya, berlari dibawah hutan lebat dan dikejar hewan buas, tampa sadar masuk pertengahan hutan Loyuan, pada saat keritis berkelebat hewan singa tanduk gajah tingkat 3 menerkam Ye Tian, Ye Tian terpelanting ibarat kayu kering sejauh 40 meter dan melambung tinggi, terlanggar batang kayu besar seketika itu pingsan, dan terbangun kini disebuah gua berpenerangan batu mustika roh merah, Ye Tian beringsut turun mencari apakah ada orang dan siapa tuan penolong. Dengan mata yang masih kabur dan tubuh yang masih penuh balutan merangkak kepintu gua yang lebih kurang 4 meter dari tempat tidurnya, cahaya masuk kedalam gua dalam ingatan masih pagi, sebelum sampai, terdengar batuk berat orang tua yang sudah bungkuk, dan iya berkata,.
“Anak muda, kamu sudah bangun?.” Orang tua tersebut datang dan membawa kendi air dan cangkir yang terbuat dari bambu, dan menyodorkan cangkir yang berisi air ke Ye Tian, Ye Tian menyambutnya dan langsung meminumnya, tampa jeda air didalam cangkir bambu tersebut habis dan tangan Ye Tian menadah dan meminta lagi, dan orang tua itu terkekeh.
“He..he..he. Ooh rupanya kamu haus?..” “ini airnya, jangan tergesak-gesak dibawa santai dan tenang..” orang tua itu berseloroh dan menatap Ye Tian, tatapan orang tua itu tajam dan dalam kemata Ye Tian, Ye Tian pun langsung menunduk sebab tatapan orang tua itu bagaikan pisau dan tajam dan dalam menusuk jantungnya, dan mengangguk-ngangguk kepalanya sambil tersenyum getir melihat Ye Tian yang penuh luka dan dantiannya yang sudah hancur, sambil berpikir rumit dan berkata didalam diri, “anak yang malang baru berumur lebih kurang 9 tahun tapi sudah hidup penuh dengan penderitaan yang berat, dan mungkin ini hari yang terakhir baginya untuk menerima penderitaan seberat ini.” Dan seterusnya orang tua tersebut bertanya?..
“Siapa namamu nak?...” sambil berbalik belakang mengambil bungkusan dari daun kayu yang berisi daging yang sudah di bakar, dan menyodorkan ke Ye Tian, dengan agak terburu-buru Ye Tian menyambut sambil menjawab. “Ye Tian Kek..” jawab Ye Tian sambil memakan daging yang dia cium dari tadi, sangat menggugah selera Ye Tian, yang rasanya sudah lima hari belum makan,Ye Tian Mengunyah daging sangat tergesa-gesa sambil bersuara “em..mee..ncap..cap..emm..”... Orang tua itu terkekeh-kekeh mendengar kicapan mulut Ye Tian, “pantas saja kamu dahaga sekali, karena sudah lebih kurang lima hari kamu pingsan, setelah jatuh dari atas.” “kakek yang tua ini menemukan jatuh kesumur dingin ditengah jurang ini, kebetulan kakek lewat”. Orang tua itu berbalik dan berkata, “kamu istirahat dulu, jangan banyak bergerak agar cepat sembuh, setelah sembuh baru kita becara” “baiklah kek” jawab Ye Tian.
Ye Tian berbaring dibatu tempat tidur sambil memandang atap gua yang diterangi dengan keristal redup merah, tak terasa alam lamunnya mengulang kejadian yang dialaminya. Dan seakan terlihat saudaranya Ye Long dan para saudaranya yang lain mengejar kedalam hutan, hatinya terasa nyeri dan sakit tiada terkira, sambil berkata “tunggu pembalasan untuk kalian, nanti berlipat-lipat!!....”. Dengan suara yang yang ditekannya menahan amarah yang tertahan, lama saat mata dan alam lamunnya tampa disadarinya matanya pun mulai mengatuk dan menutup membawa cerita untuk malam itu, sayup-sayup dia mendengar suara orang tua memanggilnya.
“Ye Tian... Ye Tian.... Orang tua itu memanggil Ye Tian, Ye Tian bangun dari tidurnya dan duduk disisi tempat tidurnya, berjalan kemulut gua dengan kaki yang pincang, dan masih tubuh yang berbalut kain pembalut luka, serta terasa sakit perih dipusarnya yang sudah rusak, dan apakah masih bisa diperbaiki dantiannya, Ye Tian memandang kesekeliling hadapan gua mencari kakek tua yang memanggilnya tadi. Setelah beberapa saat matanya mencari suara orang tua itu, disebelah kiri pintu gua dia terlihat duduk sambil merajang daun-daunan dan melemparnya kedalam kuali besar yang direbus, terlihat mendidih tercium seperti bau bumbu-bumbuan atau obat-obatan herbal dan airnya berwarna merah kuat dan air tersebut kental. Berbagai pirasat dihati Ye Tian melihat kuali besar yang sudah menggelegak panas, apakah orang tua didepannya ini seorang kanibal, “
Sambil berkata didalam hati “apakah Kakek tua ini mau memakanku” serta memandang orang tua itu curiga, dan bersiap-siap ingin melarikan diri, sedangkan orang tua itu dengan santainya merajang daun-daunan dan memandang Ye Tian dengan pandangan tajam.
