BAN 4 DANTIANNYA YE TIAN SEMBUH
BAB 4. DANTIANYA YE TIAN SEMBUH
Ye Tian agak terhenti berjalan tetapi orang tua itu memanggil agar mendekat, serta mengisyarat agar membuka bajunya, melihat isyarat tersebut mata Ye Tian pucat dan berpaling kebelang ingin melarikan diri, tetapi orang tua itu berkata.
“Apakah kamu ingin melarikan diri?.... Atau kamu tidak ingin sembuh dari luka-lukamu dan yang terpenting dantianmu.” Mendengar perkaataan itu Ye Tian berpaling lagi dengan perasaan bingung dan haru, “maks..maksud kakek ku..ku..ku.ali itu bu..bu. kan untuk me.merebus aku?!...” kata Ye Tian tergagap-gagap dengan penug curiga kepada kakek tua, kakek itu menjawab cepat dan tegas, “kuali yang penuh air ini memang untukmu” sambil memasuk rajangan daun-daunan...jika kamu ingin sehat dan kembali dantianmu kamu harus merendamkan diri dikuali ini,” kata kakek tua itu.
“Maksud kakek saya harus merendam diri di kuali yang panas itu?...” kata Ye Tian
“Iya” kata kakek tua.
“Bagaimana kakek tau kalau dantianku rusak kek, dan apakah bisa sembuh seperti sedia kala??...,” Ye Tian bertanya.
“Diwaktu kamu jatuh ditengah kolam jurang ini 6 hari lalu, kakek mengangkatmu dan melihat keadaanmu, kakek sudah tahu, bahwa dantianmu sudah rusak tetapi berkemungkinan masih bisa diperbaiki, apalagi kamu mempunyai tubuh bagus, jika kamu rajin belajar beladiri kamu akan menjadi orang terkuat didunia persilatan ini,” kata kakek tua itu.
Mendengar perkatan kakek tua itu Ye Tian langsung sujud tersungkur, sambil berkata dengan penuh semangat dan penuh harap, “Ye Tian!!.... Mengucap terimakasih kepada kakek,” orang tua itu menjawab “apakah kamu tidak mau berguru kepadaku?..anak muda,” mendengar ucapan orang tua itu, Ye Tian tersenyum bahagia dan bersujud dengan dahi ketanah tiga kali, seraya berkata “Hormat kepada guru”....
“Baiklah-baiklah” orang tua itu mengangkat kedua tanganya sambil membopong Ye Tian berdiri, “Aku sebenarnya tidak ingin dari dulu mengangkat murid, tetapi, setelah melihat dirimu dan aku juga mungkin tidak lama lagi didunia ini, dan lagi sebenarnya kita berjodoh”... “Anak muda” dan iya menunjuk kuali besar disampingnya, “jika kamu ingin menjadi seorang ahli beladiri yang tangguh dan ingin berkuasa didua dunia ini, kamu harus masuk kekuali ini, dan berendam dengan obat-obatan yang sudah kakek rebus didalamnya.
“Baiklah Kek,” ujar Ye Tian, Ye Tian pun masuk kekuali yang menggelegak mendidih, sebelum masuk Ye Tian memasukkan telunjuknya, mencoba panasnya air dikuali, dan terkejut terasa panas seketika itu ia memandang kakek tua.
“Ye Tian.. itu memang panas, tetapi di akan membuat tubuhmu kebal. Dan mencuci kotoran-kotoran yang ada ditubuhmu, serta memperbaiki dantianmu yang rusak, mudah-mudahan dantianmu bisa sembuh” kata kakek itu.
“Baiklah Kek..”
“Tidak apa-apakan Kek..”
Ye Tian ragu-ragu masuk kekuali tetapi dengan menguatkan hati melangkah dengan mendahulukan kaki kanannya, baru memasuk ujung kaki terasa panas dengan reflek Ye Tian berhenti, setelah agak lama masuk hawa panas ketubuhnya, terasa hangat yang menyegarkan, hangat tersebut menjalar kedantiannya juga, merasakan hawa tersebut Ye Tian dengan cepat memasukkan kedua kakinya sampai kepinggang, setelah lama berhenti dibatas pinggang hawa panas itu sudah terasa nyaman, Ye Tian Menekukkan lututnya berangsur duduk, maka air berangsur naik kebahunya, dan pada saat itulah mulai panah merayap keseluruh tubuhnya dan mulai terasa sakit yang mencucuk seperti ratusan pisau keseluruh tubuhnya, terlebih ke dantiannya. Melihat Ye Tian sudah duduk dan menahan sakit terlihat mukanya yang merah dan mulut terkantup rapat, Kakek tua tersenyum penuh semangat dan harap, “semoga anak ini sanggup menjalani tahap demi tahap proses ini” katanya didalam hati.
“Ye Tian!.... Kamu harus tahan bagaimanapun caramu, dan jangan sampai pingsan, jika kamu pingsan kakek tidak dapat membantumu.” Ujar kakek tua itu. “Dan lagi kamu harus fokus pertama kamu, duduk lotus dengan santai dan rilek rasakan panas, sakit, yang kau alami jangan sampai goyah, kedua, tarik nafas mu pelan dan salurkan keseluruh tubuhmu, agar sakit yang kamu derita berangsur tidak terasa.” Mendengar arahan kakek tua itu, Ye Tian duduk dan fokus dan menahan sakit, tak terasa sudah setengah hari Ye Tian berkubang dengan air yang panas berbau obat-obatan dan menahan sakit yang bertambah kian jam, dengan duduk lotus menarik nafas dari hidung merasakan nafas dari dantiannya yang rusak terasa bagaikan tertimpa beban yang sangat berat, tetapi dengan tekak yang kuat dan dendam yang belum terbalas, hati Ye Tian terus memompa semangat sedekian agar proses yang diajarkan gurunya bisa tercapai, sakit dan sakit yang dirasakan olehnya tetapi tak terasa sudah berjalan dua hari Ye Tian berendam dikuali tersebut dalam keadaan lotus. Kakek tua itu pun tersenyum melihat Ye Tian yang bertekad baja bertahan dikuali tersebut, sambil berbicara rendah “anak yang berbakat, sudah dua hari belum keluar dari kuali ini.” Seandainya dia bertahan beberapa hari lagi, sudah jelas dantianya sembuh dan mungkin terbuka jalan darah ditubuhnya, tetapi kalau aku melihat dia sekarang ini, seratus persen berhasil” kata orang tua itu, sambil memasuk kayu bakar ketungku agas panas tetap stabil.
Sudah memasuki hari ke empat, Ye Tian sudah bagai orang tertidur, lupa dan tidak bergeming dari kuali dan masih duduk lotus, dan tubuhnya pun mulai terkelupas berganti dari hari kedua kulitnya hitam berganti dengan merah, dan air dikuali pun sudah sangat kental dan mulai berbau anyir dan busuk, hari kelima tubuh Ye Tian menggigil kuat seperti orang kedinginan, orang tua itu pun sedang duduk sigap berdiri, melihat Ye Tian dalam-dalam sambil berkata pelan dan berat, “masa yang mulai kau hadapi anak muda, yaitu, penyembuhan dantianmu.” Ujar orang tua mengepal tangan seakan memberi semangat. Saat itu Ye Tian merakan sakit yang amat sangat dibagian pusarnya, seakan ditusuk ribuan bahkan jutan jarum dan pisau di dantiannya. Dan rasa dantian Ye Tian pada saat itu, seakan ada buih-buih kecil dan berwarna-warni dalam pandangannya, Ye Tian terus berthan menahan sakit tersebut dan mengatus nafas serpeti arahan tua itu. Semakin lama dan semakin dilihatnya dengan mata hatinya, bekas tempat dantiannya itu seakan berbuih dan mulai buih itu memadat dengan warna-warni, menutupi dantiannya yang rusak, serta menyelimuti dantiannya Seperti pelangi, Ye Tian pun terheran-heran dantiannya dahulu tidak seperti ini, tidak berwarna warni, dan biasa saja, tapi dantiannya yang sekarang sangat luar biasa, kata Ye Tian, gembira dan seakan melonjak-lonjak meluapkan kegembiraannya.
Sekarang Ye Tian sudah memasuki hari ketujuh, kata orang tua itu, memandang Ye Tian yang duduk diam didalam kuali, belum membuka matanya, tetapi mata orang tua ini berbinar-binar disaat melihat tubuh Ye Tian yang mulai putih bersih dan mengkilat, beliau berkata rendah “tubuh perak?!,...” serta merta tersenyum bahagia dan bangga pada Ye Tian, dan tersadar bahwa dantian anak itu sudah sembuh seratus persen, “anak yang berbakat,” katanya lagi.
