Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. The First Call

Setelah kejadian di depan pintu kamarnya, Vespera tidak langsung beranjak. Ia masih berdiri beberapa langkah dari pintu sambil menatap permukaannya dengan perasaan tidak nyaman. Bisikan terakhir itu terus berputar di kepalanya.

“Akhirnya...”

Apa maksudnya? Akhirnya apa? Dan siapa yang berbicara kepadanya?

Vespera menarik napas dalam-dalam, lalu memaksa dirinya untuk tidak memikirkan hal tersebut. Ia mengambil ponsel yang sejak tadi berada di tangannya dan membuka daftar kontak. Nama Evelyn kembali terlihat di layar.

Kali ini Vespera tidak ragu. Ia menekan tombol panggil. Telepon berdering cukup lama sebelum akhirnya tersambung.

“Vespera?”

Mendengar suara ibunya membuat Vespera sedikit lega. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi pintu kamarnya.

“Ibu sedang apa?”

“Aku baru selesai urusan. Kenapa? Suaramu terdengar aneh. Sesuatu terjadi di sana?”

Vespera terdiam beberapa detik. Ia sebenarnya ingin mengatakan semuanya, tetapi tiba-tiba merasa malu jika harus mengakui bahwa ia ketakutan hanya karena mendengar suara dari balik pintu. “Aku cuma ingin mendengar suara Ibu.”

Di ujung telepon, Evelyn ikut diam. “Kamu yakin hanya itu?”

Vespera tersenyum kecil meskipun ibunya tidak bisa melihatnya. “Ibu selalu tahu kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu, ya?”

“Karena sejak kecil kamu selalu berbicara lebih cepat ketika sedang berbohong.”

Vespera terkekeh pelan. “Aku tidak berbohong.”

“Kalau begitu ceritakan.”

Vespera menunduk. Ia mengusap jemarinya sendiri sebelum akhirnya berkata, “Semalam aku mendengar suara seseorang dari luar kamar. Ada tiga ketukan di pintu, lalu seseorang memanggil namaku. Awalnya aku mengira itu cuma suara dari rumah, tetapi kemudian aku melihat bayangan seseorang berdiri di depan pintu.”

Evelyn tidak langsung menjawab. Keheningan di ujung telepon itu justru membuat Vespera semakin tidak nyaman.

“Ibu?”

“Vespera, kamu membuka pintu?”

“Tidak.”

“Dia memanggil namamu berapa kali?”

Pertanyaan itu membuat Vespera mengernyit. “Kenapa Ibu bertanya seperti itu?”

“Jawab saja.”

Vespera menelan saliva. “Beberapa kali. Setelah itu dia mengatakan sesuatu seperti, ‘Aku tahu kau ada di sana.’”

Napas Evelyn terdengar berubah. “Dengarkan Ibu baik-baik. Jangan naik ke lantai atas sendirian. Jangan membuka ruangan yang terkunci. Dan kalau malam ini kamu mendengar suara seseorang memanggilmu, jangan menjawab.”

Vespera menatap pintu. “Ibu sudah pernah mendengar suara itu sebelumnya?”

Evelyn kembali diam.

“Ibu?”

“Aku hanya ingin kamu pulang.” Nada suara Evelyn kali ini berbeda. Tidak seperti seorang ibu yang sedang memberikan nasihat, melainkan seseorang yang benar-benar takut kehilangan anaknya.

Vespera menghela napas. “Kalau Ibu tahu sesuatu tentang Morrowveil, kenapa tidak pernah mengatakannya kepadaku? Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menghadapi kebenaran.”

“Ada beberapa kebenaran yang tidak perlu kau cari.”

“Justru karena Ibu selalu mengatakan seperti itu, aku semakin ingin tahu.”

“Vespera…”

“Aku hanya ingin tahu kenapa rumah ini begitu penting bagi Ibu. Kenapa sejak kecil Ibu melarangku datang ke sini? Kenapa Ibu bahkan tahu apa yang harus kulakukan kalau rumah ini memanggil namaku?”

Suasana kembali hening.

Ketika Evelyn akhirnya berbicara, suaranya jauh lebih pelan. “Karena Ibu pernah berada di sana.”

Vespera membeku. “Apa?”

“Aku pernah tinggal di Morrowveil.”

Jantung Vespera berdegup lebih cepat. “Berapa lama?”

“Tidak lama.”

“Kenapa Ibu tidak pernah menceritakannya?”

Evelyn menghela napas. “Karena aku ingin masa itu tetap terkubur.”

Vespera hendak bertanya lagi, tetapi suara Evelyn tiba-tiba berubah.

“Vespera, dengarkan Ibu. Jangan mencoba mencari tahu semuanya sendirian. Kalau ada sesuatu yang terjadi, segera tinggalkan rumah itu.”

“Kalau memang begitu berbahaya, kenapa Ibu tidak datang menjemputku sekarang?”

Evelyn terdiam cukup lama. “Aku akan datang.”

“Besok?”

“Secepatnya.”

Vespera mengusap wajahnya. “Baik. Tapi sebelum Ibu datang, aku tetap akan berada di sini.”

“Jangan keras kepala.”

Vespera tersenyum kecil. “Aku anak Ibu.”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, Evelyn terdengar sedikit tertawa. “Kamu memang mewarisi bagian paling keras kepala dariku.”

“Berarti aku tidak sepenuhnya salah.”

“Vespera.” Nada suara Evelyn kembali serius. “Apa pun yang kamu dengar malam ini, jangan membalasnya. Bahkan kalau suara itu terdengar seperti suaraku.”

Senyum Vespera perlahan menghilang. “Kenapa?”

Evelyn tidak langsung menjawab. Kemudian ia berkata sangat pelan, “Karena kalau itu benar-benar aku, aku tidak akan pernah memintamu membuka pintu.”

Panggilan berakhir beberapa menit kemudian.

Vespera tetap duduk di tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Satu hal kini jelas. Evelyn tahu sesuatu. Sesuatu tentang Morrowveil. Dan mungkin sesuatu tentang suara yang memanggilnya.

Vespera berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai sedikit. Hutan di luar terlihat tenang di bawah cahaya sore. Namun di antara pepohonan, kabut mulai turun kembali.

Vespera menatapnya cukup lama.

Kemudian ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Evelyn.

( "Jangan percaya apa pun yang memanggilmu dari dalam rumah." )

Vespera membaca pesan itu dua kali, lalu tiga kali. Ia belum sempat membalas ketika terdengar suara dari lantai bawah.

Sebuah benda jatuh.

Brak!

Vespera langsung menoleh.

Rumah kembali sunyi.

Ia menggenggam ponselnya lebih erat. Kemudian terdengar suara langkah kaki dari bawah.

Perlahan. Satu demi satu.

Krek...

Krek...

Krek...

Vespera menahan napas.

Langkah itu berhenti tepat di bawah tangga. Lalu terdengar suara perempuan yang sangat lembut. Suara yang persis seperti Evelyn.

“Vespera, sayang...”

Vespera memejamkan mata. Ibunya baru saja mengatakan bahwa ia akan datang. Tapi belum sekarang. Dan suara itu... berasal dari dalam rumah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel