Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Morning Silence

Cahaya pagi perlahan menyusup melalui celah tirai kamar Vespera.

Untuk beberapa detik setelah membuka mata, ia hanya menatap langit-langit tanpa bergerak. Tubuhnya terasa kaku, sementara kepalanya masih dipenuhi potongan kejadian semalam.

Tiga ketukan.

Bayangan di balik pintu.

Suara perempuan. Dan kalimat terakhir yang masih terngiang jelas di telinganya.

“Aku tahu kau ada di sana.”

Vespera langsung bangun dari tempat tidur. Ia menatap pintu kamarnya. Masih tertutup.

Tidak ada bekas apa pun. Tidak ada suara. Tidak ada bayangan. Semuanya terlihat normal.

Vespera turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu. Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari gagang pintu.

Ia ragu.

Kemudian ia menarik napas panjang dan membukanya.

Lorong di luar kosong.

Cahaya pagi dari jendela-jendela tinggi membuat ruangan itu terlihat jauh lebih biasa dibandingkan malam tadi. Tidak ada siapa pun di sana.

Vespera keluar.

Ia berdiri di tengah lorong sambil memperhatikan lantai kayu. Tidak ada jejak kaki. Tidak ada sesuatu yang aneh. Bahkan pintu-pintu kamar di sepanjang lorong semuanya tertutup seperti semula.

Vespera mengusap wajahnya. “Mungkin aku benar-benar terlalu lelah.”

Ia berjalan menuju tangga. Setiap langkahnya terdengar biasa. Tidak ada suara lain yang mengikuti.

Begitu sampai di lantai bawah, Vespera berhenti di ruang utama. Semuanya masih sama seperti kemarin. Sofa. Meja. Lukisan tua. Jam besar di sudut ruangan. Tidak ada sesuatu yang berubah. Ia bahkan mendekati pintu utama dan memeriksa gagangnya.

Terkunci.

Vespera mengernyit. Ia yakin semalam pintu itu menutup setelah dirinya masuk, tetapi ia tidak ingat pernah menguncinya.

“Bagaimana aku bisa lupa?”

Ia mencoba membuka pintu. Tidak bisa. Vespera menghela napas lalu mengambil kunci yang tergeletak di meja dekat pintu. Begitu pintu terbuka, udara pagi langsung menerpa wajahnya.

Ia berdiri di teras dan memandang halaman.

Kabut yang semalam menutupi hutan sudah mulai menghilang. Burung-burung terdengar berkicau dari pepohonan.

Untuk pertama kalinya sejak tiba, Morrowveil House terlihat seperti rumah tua biasa.

Vespera bahkan hampir tertawa sendiri. “Lihat? Tidak ada apa-apa.” Ia menatap bangunan tua di belakangnya. “Semalam cuma karena aku terlalu lelah.”

Namun ketika ia hendak kembali masuk, matanya menangkap sesuatu di salah satu jendela lantai atas.

Sebuah tirai bergerak.

Vespera berhenti. Ia menatap jendela itu. Tirai tersebut kembali diam.

“Mungkin terkena angin.” Vespera menggeleng dan masuk kembali ke rumah. Ia berusaha tidak memikirkan kejadian semalam.

Setelah membuat sarapan sederhana, Vespera duduk di meja makan sambil menatap secangkir kopi.

Rumah itu benar-benar sunyi. Aneh. Terlalu sunyi.

Ia kemudian mengambil ponselnya dan melihat layar. Tidak ada pesan baru.

Vespera membuka kontak Evelyn. Jarinya berhenti di atas nama ibunya.

Ia ingin menelepon. Sangat ingin. Namun ia teringat bagaimana Evelyn menatapnya sebelum ia pergi.

Jika rumah itu memanggil namamu, jangan pernah menjawab.

Vespera menghela napas. “Aku tidak mungkin menelepon Ibu hanya karena mendengar suara.”

Ia menyesap kopinya. “Kalau Ibu tahu, pasti aku malah disuruh pulang.”

Vespera tersenyum kecil. Namun senyum itu perlahan menghilang ketika ia teringat suara yang memanggilnya.

Suara itu terdengar begitu nyata. Bukan seperti suara dalam mimpi. Bukan seperti suara yang samar.

Suara itu benar-benar berada di balik pintunya. Dan seseorang benar-benar berdiri di sana. Atau setidaknya... sesuatu.

Vespera meletakkan cangkir. Ia mencoba mengingat semuanya.

Ketukan pertama.

Ketukan kedua.

Ketukan ketiga.

Lalu suara itu. Kemudian bayangan seseorang muncul di bawah pintu.

Vespera merinding.

Ia berdiri dan berjalan kembali menuju tangga. Matanya tertuju ke lantai atas.

“Kalau memang ada seseorang di rumah ini, aku akan menemukannya.”

Ia menaiki tangga.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Tidak ada suara aneh. Tidak ada bisikan. Vespera mencapai lantai atas dan berjalan menuju kamarnya sesaat berhenti di depan pintu.

Tidak ada apa-apa.

Ia memegang gagang pintu dan membukanya. Kamar masih sama. Tempat tidur masih berantakan.

Tirai masih tertutup. Tidak ada sesuatu yang berubah.

Vespera menghela napas lega. Ia kemudian melihat ke lantai di depan pintu. Tidak ada jejak. Namun ketika ia hendak menutup pintu, sesuatu membuatnya berhenti.

Di bagian bawah pintu, tepat di sisi luar, terdapat tiga goresan tipis pada kayu.

Vespera berjongkok. Ia menyentuhnya dengan ujung jari. Goresan itu terlihat baru.

“Ini tidak ada tadi malam.”

Ia menatapnya beberapa saat. Kemudian ia berdiri dan menutup pintu.

Kali ini ia tidak mencoba mencari penjelasan. Ia hanya berdiri di tengah kamar sambil memandang pintu itu.

Mungkin suara semalam hanya kebetulan. Mungkin langkah kaki itu memang berasal dari kayu tua. Mungkin bayangan itu hanya permainan cahaya.

Mungkin.

Namun satu hal tidak bisa ia bantah. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Vespera mengambil ponselnya. Kali ini ia membuka kontak Evelyn lagi. Jarinya menyentuh layar. Ia hampir menekan tombol panggil ketika...

Tok.

Vespera membeku. Suara itu datang dari balik pintu. Ia perlahan menatap pintu kamarnya.

Tok.

Ketukan kedua.

Vespera tidak bergerak. Kemudian...

Tok.

Ketukan ketiga.

Persis seperti semalam. Vespera menahan napas. Rumah itu kembali sunyi. Namun kali ini tidak ada suara yang memanggil namanya. Tidak ada bisikan. Tidak ada langkah kaki. Hanya tiga ketukan.

Vespera menatap pintu cukup lama. Lalu berbisik sangat pelan, “Siapa yang mengetuk?”

Tidak ada jawaban.

Vespera langsung menutup mulutnya sendiri. Ia baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.

Ia kembali menjawab. Dari balik pintu, terdengar suara yang sangat pelan.

Bukan suara Evelyn. Bukan suara perempuan. Hanya sebuah bisikan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Akhirnya...”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel