Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. The Upstairs Hallway

Vespera berdiri membeku di tengah kamar. Suara Evelyn yang baru saja terdengar dari lantai bawah masih bergema di kepalanya.

“Vespera, sayang...”

Ia memejamkan mata dan mencoba mengingat percakapan mereka beberapa menit lalu. Evelyn sudah mengatakan dengan jelas bahwa ia masih jauh dari Morrowveil House dan tidak mungkin berada di sana malam ini.

Kalau begitu, siapa yang baru saja memanggilnya?

Vespera perlahan mendekati pintu kamar. Tangannya terangkat, tetapi berhenti sebelum menyentuh gagang. Ia teringat pesan Evelyn yang masih terbuka di layar ponselnya.

"Jangan percaya apa pun yang memanggilmu dari dalam rumah."

Suara dari bawah kembali terdengar. “Vespera... turunlah.”

Kali ini nadanya terdengar lebih jelas. Dan semakin mengerikan karena terdengar seperti Evelyn sedang berbicara kepadanya dengan lembut, seperti ketika ia masih kecil.

Vespera menelan saliva. “Kau bukan ibuku.”

Tidak ada jawaban sampai beberapa detik kemudian terdengar suara langkah.

Krek...

Satu langkah.

Krek...

Langkah berikutnya.

Suara itu perlahan menjauh dari tangga, lalu menghilang ke arah ruang utama.

Vespera tetap berdiri di dalam kamar. Ia tahu seharusnya ia tidak keluar. Namun rasa penasaran mulai mengalahkan rasa takut.

Ia segera mengambil senter dari meja, membuka pintu sedikit, lalu mengintip ke lorong. Tidak ada siapa pun.

Vespera keluar.

Lorong lantai atas terasa lebih dingin daripada sebelumnya. Ia berjalan perlahan menuju tangga sambil mengarahkan senter ke setiap sudut.

Tidak ada apa-apa.

Ketika sampai di ujung tangga, ia kembali mendengar suara dari lantai bawah. Namun kali ini suara itu tidak memanggilnya. Terdengar seperti seseorang sedang berbisik kepada orang lain.

Vespera menahan napas dan mendengarkan.

“Aku sudah menunggunya.”

Suaranya perempuan.

Vespera merasakan bulu kuduknya berdiri. “Siapa?” bisiknya tanpa sadar.

Bisikan itu langsung berhenti.

Vespera membeku. Ia baru menyadari bahwa dirinya kembali menjawab sesuatu yang seharusnya tidak ia jawab. Kemudian terdengar suara langkah dari bawah.

Cepat. Semakin dekat.

Vespera mundur satu langkah, lalu dua. Namun suara itu tiba-tiba berhenti.

Hening.

Vespera menunggu. Tidak ada siapa pun yang muncul dari tangga.

Ia menghela napas lega, lalu tanpa sengaja mengarahkan senter ke dinding di sebelahnya.

Di sana terdapat sebuah pintu.

Vespera mengerutkan kening. Ia tidak ingat pernah melihat pintu itu sebelumnya.

Pintu kayu tua tersebut berada di ujung lorong yang agak tersembunyi di balik tirai panjang. Warnanya lebih gelap dibandingkan pintu-pintu lain, dan gagangnya terlihat kusam.

Vespera mendekatinya.

“Ini apa?” Ia menyentuh gagangnya.

Terkunci. Ia mencoba sekali lagi. Tidak bergerak.

Vespera mengarahkan senter ke bagian bawah pintu. Tidak ada celah besar, tetapi dari sana terasa hembusan udara dingin.

Ia mundur sedikit. Kemudian terdengar suara. Sangat pelan. Seperti seseorang sedang menangis dari balik pintu.

Vespera langsung diam. Tangisan itu semakin terdengar jelas.

Seorang perempuan.

Tangisannya pelan, tertahan, seperti seseorang yang berusaha agar tidak didengar.

Vespera menempelkan telinga ke pintu. “Apakah ada seseorang di dalam?”

Tangisan itu berhenti.

Vespera menahan napas.bKemudian terdengar tiga ketukan dari sisi lain pintu.

Tok...

Tok...

Tok...

Vespera langsung menjauh. “Tidak mungkin.” Ia menatap pintu itu dengan jantung berdebar.

Ketukan tadi persis seperti yang terdengar di pintu kamarnya. Namun sebelum ia sempat berbuat apa-apa, suara perempuan dari balik pintu kembali terdengar.

“Vespera...”

Suara itu jauh lebih lemah kali ini.

“Buka...”

Vespera menggenggam senter erat-erat. Ia tahu apa yang dikatakan Evelyn. "Jangan membuka pintu yang terkunci. Jangan percaya suara yang memanggilnya."

Vespera mundur perlahan. “Aku tidak akan membukanya.”

Tangisan kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Seolah perempuan di balik pintu mulai memohon.

“Tolong...”

Vespera memejamkan mata. Ada sesuatu dalam suara itu yang membuat dadanya terasa sesak. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, terdengar suara lain dari belakangnya.

“Vespera?”

Vespera langsung berbalik. Tidak ada siapa-siapa.

Suara itu terdengar sangat dekat. Tepat di belakang telinganya.

Ia mundur sampai punggungnya hampir menyentuh pintu terkunci. Kemudian suara dari balik pintu kembali berbisik.

“Jangan percaya dia.”

Vespera membeku. Seketika seluruh rumah menjadi sunyi. Tidak ada tangisan. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada bisikan. Hanya suara detak jantungnya sendiri.

Vespera menatap lorong kosong di depannya. Lalu perlahan ia menyadari sesuatu. Suara yang baru saja berbicara dari belakangnya... terdengar persis seperti suaranya sendiri.

Vespera tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya, menutup pintu, lalu menguncinya.

Ia bersandar di sana sambil mencoba mengatur napas. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Evelyn masuk. ( "Vespera, jangan pernah membuka pintu di ujung lorong lantai atas." )

Vespera menatap pesan itu dengan mata melebar. Tangannya mulai gemetar. Ia belum pernah memberi tahu Evelyn tentang pintu itu. Belum pernah. Lalu bagaimana ibunya tahu?

Dari balik pintu kamar, terdengar suara pelan. Bukan ketukan. Bukan langkah. Hanya sebuah bisikan.

“Dia tahu.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel