2. The First Night
“Vespera...”
Suara itu terdengar lagi bahkan lebih jelas.
Vespera berdiri kaku di dekat pintu utama. Tangannya masih berada di gagang pintu, tetapi seluruh tubuhnya seolah menolak bergerak.
Ia menatap tangga yang mengarah ke lantai atas. Gelap. Tidak ada siapa-siapa.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Vespera menelan saliva. Ia teringat pesan Evelyn.
"Jangan pernah menjawab jika rumah itu memanggil namamu."
Terlambat. Ia sudah menjawab. Namun tidak terjadi apa-apa.
Setidaknya, belum.
Vespera menarik tangannya dari gagang pintu dan mundur beberapa langkah. “Ini hanya rumah tua,” gumamnya pelan. “Mungkin itu suara kayu atau angin. Mungkin juga karena aku hanya terlalu lelah.” Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Kemudian ia mengambil tas dan berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya.
Tangga kayu berderit setiap kali diinjak.
Krek...
Vespera berhenti. Ia menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa.
Ia kembali menaiki tangga.
Krek...
Satu langkah.
Krek...
Dua langkah.
Lalu...
Krek.
Suara lain terdengar di belakangnya.
Vespera berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak bergerak. Suara itu juga berhenti.
Vespera perlahan menoleh. Lorong di belakangnya kosong.
“Jangan mulai,” bisiknya kepada dirinya sendiri.
Ia kembali berjalan. Namun kali ini ia tidak lagi mendengar satu suara langkah.
Ia mendengar dua.
Krek...
Langkahnya.
Krek...
Langkah lain.
Vespera mempercepat langkah.
Suara itu ikut mempercepat.
Krek... krek...
Ia menoleh dengan cepat.
Kosong.
Tidak ada siapa pun.
Vespera menarik napas panjang lalu segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Klik.
Ia menyandarkan punggung pada pintu. Dadanya naik turun.
“Tenang.”
Vespera menyalakan lampu kamar. Cahaya memenuhi ruangan. Kamar itu cukup luas. Tempat tidur tua berada di tengah, sebuah lemari besar berdiri di sudut, dan jendela tinggi menghadap hutan yang kini hampir sepenuhnya tertutup kabut.
Vespera berjalan menuju jendela. Di luar hanya terlihat pepohonan. Tidak ada jalan. Tidak ada rumah. Tidak ada lampu.
Akhirnya ia menutup tirai. “Besok aku akan pulang.”
Kalimat itu keluar begitu saja..Vespera sendiri tidak tahu apakah ia serius.
Ia kemudian mandi dan mencoba tidur lebih awal. Namun malam pertama di Morrowveil House ternyata tidak membiarkannya beristirahat.
Pukul dua belas lewat.
Tidak terjadi apa-apa.
Pukul satu.
Masih sunyi.
Pukul dua.
Vespera mulai mengantuk.
Ia hampir tertidur ketika...
Tok.
Matanya terbuka. Vespera menatap langit-langit.
Hening.
Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi.
“Mungkin suara dari luar.”
Ia memejamkan mata. Beberapa detik berlalu.
Tok.
Vespera membuka mata lagi. Kali ini suara itu terdengar dari pintu kamarnya.
Ia menatap pintu.
Diam. Tidak ada suara.
Kemudian...
Tok.
Ketukan ketiga.
Vespera duduk di tempat tidur. Jantungnya mulai berdebar. Ia menatap pintu tanpa berkedip.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Vespera tidak bergerak. Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sangat pelan dari balik pintu.
“Vespera...”
Tubuhnya langsung menegang. Suara itu. Suara perempuan itu. Suara yang sama dengan yang ia dengar di lantai bawah. Namun kali ini terdengar jauh lebih dekat.
Vespera turun dari tempat tidur lalu berjalan perlahan mendekati pintu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tangannya hampir menyentuh gagang pintu ketika ia teringat pesan Evelyn.
Jangan pernah menjawab. Vespera menarik tangannya kembali.
“Siapa kamu?”
Hening.
Kemudian suara itu kembali terdengar.
“Buka pintunya.”
Vespera membeku. Itu bukan suara Evelyn. Atau setidaknya... tidak sepenuhnya.
Ada sesuatu yang salah.
Nada suaranya memang menyerupai Evelyn, tetapi terlalu datar. Terlalu kosong. Seolah seseorang sedang mencoba meniru suara manusia tanpa benar-benar memahami bagaimana manusia berbicara.
Vespera mundur.
“Aku tidak akan membuka pintu.”
Hening.
Lalu terdengar suara tawa kecil.
Sangat pelan.
Heh...
Vespera merinding.
Tawa itu berubah menjadi bisikan.
“Vespera...”
Ia menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Kemudian suara langkah terdengar dari luar.
Krek...
Satu langkah.
Krek...
Langkah kedua.
Berjalan menjauh dari pintunya.
Vespera menunggu.
Langkah itu terus bergerak sepanjang lorong. Kemudian berhenti. Tepat di depan tangga.
Sunyi.
Vespera berdiri membeku selama beberapa menit. Akhirnya ia memberanikan diri mendekati pintu. Ia menempelkan telinga ke permukaannya.
Tidak ada suara.
Ia menunggu. Masih tidak ada apa-apa. Dengan sangat perlahan, ia mengintip melalui celah kecil di bawah pintu.
Lorong gelap.
Kosong.
Vespera menghela napas lega. Namun ketika ia hendak kembali ke tempat tidur... Bayangan seseorang melewati celah bawah pintu.
Vespera langsung menutup mulutnya. Bayangan itu berhenti. Tepat di depan pintunya. Tidak bergerak.
Vespera bahkan tidak berani bernapas.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian...
Tok...
Satu ketukan.
Vespera mundur.
Tok...
Ketukan kedua.
Air matanya hampir jatuh karena ketakutan. Lalu ketukan ketiga terdengar.
Tok...
Hening.
Vespera menunggu.
Tidak ada suara lagi.
Namun beberapa detik kemudian, suara itu berbisik sangat dekat dari balik pintu.
“Aku tahu kau ada di sana.”
Vespera membeku.
Dan malam pertama Vespera di Morrowveil House baru saja dimulai.
