1. Morrowveil House
Kabut turun semakin tebal ketika mobil yang membawa Vespera Vale meninggalkan jalan utama dan memasuki jalan sempit di tengah hutan.
Pepohonan tinggi berdiri rapat di kedua sisi jalan. Cabang-cabangnya saling bertaut di atas kepala, membuat cahaya sore semakin redup meskipun matahari belum benar-benar tenggelam.
Vespera memandang keluar jendela.
Tidak ada rumah.
Tidak ada kendaraan lain.
Tidak ada suara manusia.
Hanya hutan dan kabut.
Sopir yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Kita sudah dekat.”
Vespera mengalihkan pandangan kepadanya. “Berapa lama lagi?”
“Tidak lama. Setelah tikungan berikutnya.”
Vespera mengangguk, lalu kembali melihat ke luar.
Sejak meninggalkan kota, perasaan aneh itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tidak tahu apakah karena suasana hutan yang terlalu sunyi atau karena nama rumah yang akan ditujunya.
Morrowveil House.
Rumah tua yang selama bertahun-tahun hanya ia dengar melalui cerita keluarganya.
Rumah yang selalu dihindari ibunya.
Rumah yang bahkan tidak pernah disebut Evelyn tanpa perubahan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Vespera masih mengingat percakapan mereka beberapa hari sebelumnya.
“Aku hanya ingin melihat rumah itu, Ibu. Aku tidak meminta Ibu menceritakan semua rahasia keluarga. Aku hanya ingin tahu kenapa selama ini aku dilarang mendekatinya.”
Evelyn terdiam cukup lama sebelum akhirnya menatap putrinya. “Karena ada tempat yang lebih baik tidak pernah kau datangi.”
“Kenapa?”
Tatapan Evelyn berubah serius..“Karena Morrowveil bukan rumah biasa.”
Vespera sempat tersenyum kecil waktu itu. “Ibu benar-benar percaya cerita tentang rumah berhantu?”
“Vespera, dengarkan Ibu baik-baik. Kalau kau pergi ke sana, jangan masuk ke bagian rumah yang tidak kau kenal. Jangan membuka pintu yang terkunci. Dan yang paling penting…”
Evelyn berhenti sejenak.
“Jika rumah itu memanggil namamu, jangan pernah menjawab.”
Vespera tidak pernah mengerti kenapa kalimat terakhir itu terdengar seperti peringatan sungguhan.
Sekarang, ketika mobil semakin jauh masuk ke dalam hutan, ia mulai memahami sedikit alasannya.
Mobil melewati tikungan terakhir. Dan kemudian Morrowveil House muncul di balik kabut.
Vespera terdiam.
Rumah itu jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Bangunan tua tersebut berdiri sendirian di atas tanah yang luas, dikelilingi pepohonan tinggi. Dindingnya terlihat gelap dimakan usia, sementara jendela-jendelanya tinggi dan sempit.
Beberapa bagian bangunan tertutup tanaman merambat. Namun yang paling membuat Vespera tidak nyaman adalah satu hal.
Rumah itu terlihat seperti sedang menatapnya.
“Ini Morrowveil?” tanyanya pelan.
Sopir mengangguk. “Iya.”
Mobil berhenti tepat di depan tangga utama.
Vespera turun sambil membawa tasnya. Angin dingin langsung menyentuh wajahnya. Ia menatap rumah itu sekali lagi.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Hanya kesunyian.
Sopir menurunkan barang-barangnya dari bagasi.
“Apakah Anda ingin saya menunggu?”
Vespera menggeleng. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”
Sopir terlihat ragu. “Kalau begitu, saya pergi.”
Vespera mengangguk.
Mobil itu kemudian perlahan meninggalkan halaman. Suara mesinnya semakin jauh lalu hilang.
Vespera berdiri sendirian. Ia menghela napas panjang.
“Baiklah.”
Matanya kembali tertuju pada pintu utama.
“Jadi ini rumah yang selama ini ditakuti Ibu.”
Ia menaiki beberapa anak tangga. Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika...
Kreeeek...
Pintu terbuka sendiri.
Vespera tertegun. Ia tidak menyentuhnya.
Angin?
Mungkin.
Ia menatap celah pintu yang terbuka perlahan. Bagian dalam rumah jauh lebih gelap daripada yang terlihat dari luar.
“Bagus,” gumamnya. “Baru datang sudah dibuat kaget.”
Vespera mencoba tersenyum pada dirinya sendiri. Ia kemudian masuk.
Pintu di belakangnya tertutup perlahan.
Klik.
Vespera langsung menoleh. Pintu itu kini tertutup rapat.
Ia berjalan menuju ruang utama. Lantai kayu tua mengeluarkan suara kecil di bawah langkahnya.
Krek...
Ia berhenti. Menunggu, tapi tidak ada apa-apa.
Vespera kembali berjalan.
Krek...
Krek...
Suara langkahnya terdengar menggema di rumah yang terlalu besar itu.
Ia meletakkan tas di sofa lalu menyalakan beberapa lampu.
Satu lampu berkedip. Kemudian menyala.
Vespera memandang sekeliling.
Ruangan itu dipenuhi perabotan lama. Sebuah jam besar berdiri di sudut ruangan, sementara beberapa lukisan tua tergantung di dinding.
Ia mendekati salah satunya. Sebuah lukisan keluarga. Namun wajah-wajah di dalamnya sudah terlalu tua dan sulit dikenali.
Vespera memperhatikannya beberapa detik. Lalu terdengar suara dari lantai atas.
Krek...
Vespera menoleh, menatap tangga. Tidak ada siapa-siapa.
“Pasti kayunya.”
Ia kembali menatap lukisan.
Krek...
Kali ini suara itu terdengar lebih jelas. Seperti seseorang sedang berjalan.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Krek...
Krek...
Vespera perlahan menoleh ke arah tangga. Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Vespera berdiri diam.
Langkah itu berhenti.
Kesunyian kembali memenuhi rumah.
Ia menghela napas. “Mungkin tikus.” Vespera berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Namun ketika ia hendak mengambil tasnya... terdengar suara sangat pelan dari lantai atas. Seperti bisikan yang terbawa angin.
Vespera mengangkat kepala. Ia tidak bisa mendengar dengan jelas. Tetapi satu hal membuat seluruh tubuhnya menegang.
Suara itu terdengar seperti seseorang sedang mencoba menyebut sebuah nama.
“Ve...”
Vespera tertegun. Kemudian semuanya kembali sunyi. Ia menatap tangga tanpa berkedip.
“Tidak mungkin.”
Ia lalu mengambil tasnya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Morrowveil House, Vespera merasa ingin keluar.
Namun ketika tangannya menyentuh gagang pintu utama—
Tok...
Satu ketukan terdengar dari lantai atas. Vespera perlahan menoleh.
Tok...
Ketukan kedua.
Kemudian yang ketiga.
Tok...
Vespera berdiri diam.
Tiga ketukan.
Persis seperti suara seseorang yang meminta dibukakan pintu.
Dan entah kenapa, satu kalimat dari Evelyn tiba-tiba kembali terngiang di kepalanya.
“Jika rumah itu memanggil namamu, jangan pernah menjawab.”
Vespera menelan saliva. Lalu, dari lantai atas, terdengar suara perempuan yang sangat pelan. Sangat familiar.
“Vespera...”
