Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

MALAM PERTAMA DI RUMAH SAMUDERO

Sejak perpisahan tadi pagi dengan Raga, sampai malam menjelang, ia belum juga menemukan lelaki dingin itu. Ent ah ke mana perginya bergentayangan pada jam segini. Cello merasa bosan sendiri. Ia pun teringat pada benda yang ia temukan dalam laci bupet milik Raga yang ia temukan saat melihat amplop surat perjanjian pernikahannya itu.

Hati Cello tergerak untuk melihat sosok pemilik wajah dalam bingkai foto itu. Berat, takut, kepo, semuanya bercampur aduk dalam perasaan Cello saat ini.

Diraihnya bingkai itu. Jantungnya semakin berdebar hebat, seakan ia akan melihat satu fakta menyakitkan dari sisi lain lelaki itu. aneh, padahal hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan.

Sebingkai wajah cantik yang menampilkan ekspresi jahilnya menempel dengan wajah Raga yang tersenyum bahagia. seketika hati Cello berdenyut tak karuan. Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras di pipi putih itu.

Ada apa dengannya? Bukankah tidak ada perasaan apapun terhadap pria itu? lantas kenapa air mata itu mesti ada?

Cello meletakkan kembali bingkai foto itu. Ia menyeka air matanya kemudian duduk di pinggir ranjang. Ditatapnya benda empuk berukuran besar itu. sungguh, seharusnya di sinilah ia dan Raga akan berbagi ranjang.

Makan malam pertama Cello di keluarga Samudera. Semua berjalan damai dan tentram. Maklum yang makan cuma tiga orang Armegan dan istrinya juga Cello. Kemana dua pejantan tangguh itu?

Cello mengamati posisi duduk kedua penghuni rumah besar itu. keduanya tampak tenang menikmati menu makan malam tanpa dua putra mereka. Ia baru ingat jika Galuh dan Tara masih sibuk dengan bulan madu mereka ke Bali. Sementara Raga, entah kapan pria itu akan kembali ke sarangnya.

.

Menikmati kesendirian di dalam kamar yang luas dan indah itu, Cello mengutak - atik laptopnya dan memeriksa beberapa lensa kameranya. Tak lama sebuah deringan ponselnya mengalun menandakan sebuah pesan di terima

Naumi : Lo besok masuk ya? banyak projek nih

Me : Ok, kebetulan gue bosen.

Naumi : Kenapa?

Me : Dah besok gue cerita. Read.

Cello tersenyum bahagia. rupanya di saat Tuhan sedang menguji baktinya pada sang orang tua melalui sebuah pengorbanan yang sulit, Tuhan juga mengirimkannya sahabat yang datang tepat di saat ia butuhkan. Naomi, sahabat sekaligus rekan kerja Cello di tempat ia magang kerja.

Bersama Naomi, Cello tak merasa terbebani dengan kehidupannya yang sulit. Impitan ekonomi dan penyakit sang adik id tengah keterbatasan keuangan.

Cello juga sedikit lega karena pekerjaannya tak meninggalkannya . Setidaknya ada hal positif yang bisa mengalihkan pikiran ruetnya beberapa hari ini dan melupakan tingkah Raga beserta keluarganya. Baru selang beberapa menit ia meletakkan ponselnya di atas kasur, Ponsel itu kembali menyala

Moly : Kamu ke mana saja? Udah dua hari tidak masuk latihan. Besok masuk ya?

Me : Ok, maaf kak Moly. Akhir-akhir ini aku sibuk sama masalah keluarga.

Moly : Besok harus masuk. Turnamen sebentar lagi. hadiahnya gede loh.

Me : Ya, Kak. Thanks. Aku akan masuk habis kelas kuliah, aku langsung ke secretariat.

Kehidupan ekonomi yang sulit membuat Cello melakoni banyak peran dalam kehidupan. Selain menyelesaikan kuliahnya, ia harus magang demi membiayai kuliah dan membantu sedikit keuangan keluarga. Angga yang sakit-sakitan, menguras pendapatan ibu dan ayahnya dari hail kerja. Beruntung dengan keuletan dan kesempatan lapangan kerja, Cello akhirnya bisa sedikit meringankan beban keluarganya.

BRAKK.

Cello terperanjat ketika pintu kamarnya terbuka kasar.sontak matanya melotot tajam ke arah bayangan tubuh lelaki itu yang sudah memajang di ambang pintu kamar dengan wajah heran dan beringasnya.

“Siapa kamu!” suara keras Raga. Alis dan mata Cello semakin bertaut heran mendengar kalimat pertanyaan dari lelaki itu.

What? Hei pak kapten kepala lo kejedok dimana, lo lupa ya? Gue bini lo, astaga tuhan kau buat dari apa sih ni orang.

Raga mengerjapkan matanya dan mulai mengingat kalau ia sudah menikah dan wanita yang di atas ranjangnya itu adalah istrinya.

“Oh astaga! Aku lupa “ lirihnya menangkup wajahnya dan mengusap kasar dengan tangannya.

Ia segera beranjak ke kamar mandi dan sudah mendapati air yang siap dengan aroma terapy. Ya itu sudah berada diurutan no sebelas surat perjanjian kontraknya.

“Úntung gue udah baca suratnya, kalau nggak bisa ngamuk ni badak jawa” gerutu Cello mencuri pandang ke arah kamar mandi.

Cello masih hanyut dengan laptopnya, sementara Raga acuh saja mengerjakan rutinitasnya seperti biasa.

Namun ketenangan Cello tampaknya terusik saat suara lelaki itu melengking dari dalam kamar mandi.

“Apa kamu akan diam di situ, hah?! Ke sini! Bantu saya menggosok punggung!”

Mata Cello membuka sangat sempurna! Sesuatu yang mesum sudah bertahta dalam pikirannya. Yang benar saja, ia akan meliha DEDE lelaki itu. Agh, Tuhan, mata indahku akan ternoda, pikirnya.

“Hei gadis udik! Cepetan! Kamu tuli ya?!” pekik Raga tak sabaran.

“I … iya, Tu … Tuan.” Jawabnya berjalan menuju kamar mandi.

Jantung Cello berpacu kencang. Seperti habis menyelesaikan lari jarak jauh. Sebisa mungkin Cello bersikap tenang di depan lelaki itu. Untungnya, Raga sudah mendudukkan tubuhnya di dalam bathtub. Setidaknya dia tidak akan melihat benda pusaka lelaki itu.

“Ini ambil,” katanya memberikan spon lembut. Cepat-cepat Cello menerima benada itu ia pun mulai menggosok punggung pria itu. Kulit putih dan berotot milik Raga memang menggiurkan. Air liur Cello hampir menetes karena terpesona. Tapi secepat mungkin ia kembali ke alam nyata.

Tersadar jika lelaki yang ada di hadapannya itu bukanlah miliknya. Rupanya ada wanita yang sudah terlebih dahulu singgah di hati lelaki perkasa dalam wujud nyata itu.

“Kamu bisa gosok nggak sih? Kalau begini terus, bagaimana daki saya bisa hilang,” protes Raga yang merasa kana gerakan gosok Cello yang lambat.

“Eh, maafkan saya Tuan. Saya … akan lebih baik lagi,” ucap Cello yang mempercepat gerakan gosoknya. Sekali lagi, Raga mendesah sebal. tidak ada sedikitpu dirasa nyaman dari pelayanan Cello. Tanpa sadar lelaki itu berdiri dan menyalakann shower yang ada di atasnya. Mata dan mulut Cello langsung menganga lebar melihat titik fokus pada benda yang aneh itu.

“Tu … Tuan, itu … anunya,” lirih Cello menutup mata dengan pelipis yang sedikit terbuka mengintip.

“Kenapa? Memangnya kamu nggak pernah lihat lelaki telanjang ya? Dasar kampungan.”

“Bukannya saya kampungan, Tuan. Tapi ….”

“Tapi apa? kepengen?” Raga acuh saja dengan keberadaan gadis itu. ia membersihkan diri dan kemudian mengintip sesaat pada Cello yang masih menutup matanya. Rupanya gadis polos itu merasa malu untuk melihat dia telanjang bulat di depan. Bagi Mega, mungkin dia akan langsung mengajaknya bercinta. Sekali lagi rasa benci itu berdatangan pada hati Raga tatkala bayangan Mega menjelma.

“Agh!” geramnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel