LADANG PEMBANTAIAN
“ Tuan Raga itu lebih keras dan dingin dibanding Tuang Besar, Nona, bahkan seekor semutpun tidak akan bertahan hidup lama kalau sudah berurusan dengan beliau. Kalau saya boleh memilih nona lebih baik saya mengurus harimau dari pada seseorang bernama tuan Raga”
Itulah kalimat terakhir yang menggambarkan sosok lelaki yang menjadi suaminya itu. Satu fakta terungkap, terjadi baru saja. Dingin,sepi dan tanpa ekspresi. Ya, itu pemandangan pertama yang ditemukan dari lelaki yang sebenarnya berpangkat Jendral itu.
Cello segera mengganti pakaiannya. Dan berjalan menelusuri koridor kamar hotelnya. Di depan pintu kamar yang berselang satu kamar dari tempatnya ada Galuh dan Tara yang sudah nampak siap-siap hendak melakukan perjalanan. Cello memberi hormat pada sosok yang terlihat ramah kepadanya itu
“Kamu Cello kan? Isterinya Raga?” tanya lelaki tampan dan stylis itu,
“I-iya tu-tuan” suara pelan Cello.
“Ah jangan pangil Tuan, panggil saja mas Galuh, aku pergi dulu ya Cell, kamu nanti diantar Handi, bentar lagi dia balik tunggu di lobi aja,” ucap Galuh seraya berlalu menggandeng Tara yang hanya diam tanpa ekspresi.
Ya Galuh adalah orang pertama yang masih menatapnya dengan rasa kemanusiaan, setidaknya basa - basinya sudah cukup bagi Cello untuk mencairkan ketakutan dan kecanggungannya di dalam keluarga Samudera
“Hm, kayaknya mas Galuh lebih sopan deh,” lirih Cello melanjutkan langkahnya menuruni tingkatan lantai hotel itu.
Andai masalahnya hanya sebatas kebutuhan biaya sehari-hari, barang kali Hartono tidak akan menggadaikan Cello kepada keluarga Samudera. Tapi Angga, sang adik yang menderita penyakit ginjal, dan harus melakukan operasi, memaksanya menjalani pernikahan hambar ini.
Hari itu untuk pertama kalinya Cello melwati fase keduanya yaitu pemindahan ruang tahanan.dan kali ini tahanan yang sesugguhnya yaitu rumah pembantaian keluarga Samudero.
Sebelum masukpun pandangannya sudah dipenuhi oleh bayangan. Setumpuk pembantai pembantai dingin yang sudah siap dengan tongkat dan cambuk mereka untuk mengoyak habis jiwa dan raganya Cello.
“Bersiap siaplah Cello. Inilah danau pembantaianmu” lirihnya saat menapaki lantai teras depan rumah.
“Saya kembali dulu nona Cello” hormat Hendi setelah melepas tubuh Cello di depan teras depan rumah.
Seorang pelayan sudah membukakan Cello pintu dan mengucapkan selamat datang padanya. Evelin dan Armegan tentu sudah menunggu dirinya di ruang tengah. Gaya khasnya Evelin menyilang kedua tangannya dan mengangkat dagu angkuhnya. Sementara Armegan masih dengan pandangan datarnya kepada gadis itu.
Sepasang wajah dengan ekspresi yang menyeramkan itu sudah membuat sendi-sendi Cello melemas. Tetapi sebisa mungkin ia harus bersusah payah bersikap tenang. Dengan ragu-ragu, gadis dengan kerudung polos pendeknya itu berjalan mendekati sepasang suami-istri dingin tersebut.
“Duduk!” hentak Evelin dengan nada ketusnya.
“Apakah semalam Raga kembali?” suara Armegan menyidik.
“I-iya tu-tuan “
“Apa kalian tidur seranjang?” tanyany lagi menyidik
Wah tentara, aku tau kau pembela kebenaran tapi tolong jangan adili aku masalah yang aku sendiri tidak tau kepastiannya. Aku juga nggak tau apakah kami tidur seranjang apa nggak semalam. Tau tau aku sudah berganti seragam di atas ranjang
“I-iya Tu-tuan”
“Hm, ikut aku ke ruanganku” titah Armegan memencet tombol otomatis di kursi rodanya.
“Kau jangan ikut. Kembalilah ke kamarmu,” perintahnya pada sang istri.
Evelin masih belum mau mengusik gadis itu entah karena dia takut pada suaminya ataukah malas atau mungkin karena belum memiliki sekutu. Yang jelas untuk saat ini ia hanya menunjukkan sikap angkuh dan tidak sukanya pada Cello. Bahkan jijik menatap wajah gadi itu.
Cello masih mengekori Armegan ke ruang kerjanya. Setiba di sana lelaki tua itu langsung menutup bahkan mengunci pintu ruangan itu. Lantas ia beranjak ke sebuah rak buku lebar tapi tidak terlalu tinggi.
Cello masih mengamati gerak gerik laki-laki itu.Ia bahkan sudah menyiapkan layar ponsel Blackberrynya dan mengaktifkan mood video rekam, untuk berjaga-jaga jika lelaki itu berbuat tidak senonoh kepadanya. Terang aja meskipun ia hanya pembayar hutang, gadis miskin, tapi ia juga masih punya harga diri serendah apapun strata kastanya. Masak iya anak dan ayah berjamaah niduri gue. Helo gue juga manusia bukan binatang.
Armegan mengibas tangannya meminta Cello mendekat. Gadis itu segera mendekat meskipun hatinya tak karuan.
“Ambilkan buku warna putih itu” titahnya . Cello menuruti perintah lelaki beruban itu.
“Tekan tombol itu” Titahnya lagi.
Cello berusaha mencari bayangan tombol yang menempel di balik kayu itu. .Cello terkejut, ia tak menyangka mendapati kejadian seperti itu di kehidupan nyata. Ya biasanya ia hanya mendapati di film - film boxoffice televise.
Tak lama sebuah pintu yang berbentuk dinding terbuka seketika, matanya terbelalak dan mengikuti jejak Armegan Wah kayak di film spy aja. Canggih juga rumahmu pak tua, maklum horang kaya, tentara lagi .
Perlahan ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong gelap yang tak terlalu panjang hanya berjarak satu meter. Dan kemudian sebuah taman impian yang sangat indah memahat di area pandangan Cello. Tertatas angat rapi dan indah. Entah sejak kapan lelaki itu menyulap taman impian itu. Ada pepohonan palm mini , Cemara Mini, dan beberap bung ataman yang tumbuh segar. Armegan menggiring kursinya ke area seluas dua Are itu dan menikmati pemandangan alam buatannya dengansangat tenang.
“Tu-tuan kenapa kita kemari? Ini dimana?” Cello memberanikan diri membuka suara.
“Gadis bodoh, kemarilah temani aku menikmati pemandangan ini”
Cello beranjak mendekat dan duduk di bebatuan dengan kolam mini yang beriisi ikan hias nan indah. Lihat saja bahkan ikannya hidup berenang lagi tu ka nada kupu kupu juga .Wah, apakah aku sedanga berada di Disneyland sekarang.
“ Tuan belum menjawabi saya?”
“Cello, tempat ini sangat penting bagiku dan Raga. Kami sering menghabiskan waktu berdua di sini. Hingga ia pernah memintaku membuatkannya di Villa Pulau Impiannya. Dan Ya aku kabulkan bahkan lebih indah dari pada ini.”
“Nampaknya tempat ini sangat berharga bagi tuan,benarkah itu?”
“Ya, kau benar. Sangat berharga karena di sinilah Aku dan ibu Raga bersatu untuk selamanya. Mengikat janji suci.Hinga-“
Wah nampaknya da cerita Romeo dan Juliet di dunia kekerasanmu tuan kapten. Baiklah aku rasa aku terlalu berlebihan menanggapi sikap dinginmu. Tapi ya sudahlah aku juga cukup tau diri tuan.
Armegan tak melanjutkan kalimatnya. Baginya hal itu terlalu dini untuk diperdengarkan kepada Cello yang masih anggota baru dalam keluarganya/
“Kapan kau akan masuk kuliah?” Armegan mengalihkan topik.
“Besok tuan,” jawab Cello yang duduk di sebuah tepian kolam, dekat kursi roda Armegan berdiam.
“Kau mengambil jurusan apa?”
“Desain grapik tuan.”
“Oho. Nampaknya aku sudah memilih menantu seorang arsitek, baiklah tolong gambar aku”
“Tapi tuan saya tidak puya pensil dan alat gambar lainnya”
“Baik kalau begitu mulai besok tugasmu adalah menemaniku di sini dan mengambarku. Lakukan itu di waktu senggangmu .bagaimana?”
“Baik tuan”
Keras,Sangar,Kejam nampakny aharus kuhapus dari tag karakter lelaki tua ini. Karena saat ini aku mersa sudah menemukan sisi lain di balik kekakuannya.
Sore beranjak tiba , Cello sudah mulai berbenah di kamar milik Raga. Ia kembali meletakkan beberapa perlengkapan kerja dan barang favoritenya seperti kamera dan laptopnya. Mata Cello kembali pada sebuah amplop yang sudah ia dan Raga tanda tanganinya. Tak kusangka hubungan dalam hidupku berdiri di atas kertas putih ini. Hm, hanya setahun. Bertahanlah Cello. Menghadapai lelaki dingin dan berhati batu seperti dia jangankan, setahun sedetik aja rasanya mau mati berdiri aku. akan tetapi di sisi amplop coklat itu, sebuah bingkai foto kecil terbalik, memajang.
“Apa ini? Foto siapa ini?” lirih Cello penasaran.
