AWAL PAGI YANG BURUK
Raga menggelengkan kepala kemudian berlalu meninggalkan Cello yang masih di tempat semulanya.
“Dasar gadis udik,” gerutunya berlalu.
Menyadari Raga yang sudah berlalu, Cello pun akhirnya bangkit dari duduk dan keluar meninggalkan kamar mandi. Ditemukannya Raga yang sudah mengenakan jubah tidur. Lelaki itu pun segera mengambil posisi rebahan di bibir ranjang sembari menenteng iPad di tangannya. Cello masih mematung. Ia mengamati sekitar kamar. Ia sedang berpikir di mana ia akan tidur. Sedang dari pria sama sekali tidak ada rambu-rambu untuk meminta tidur di ranjang yang sama.
“Kamu lihat apa? Tuh, kamu tidur di sofa sana. jangan kotori ranjang saya di sini.” Akhirnya sudah jelas sudah di mana ia akan melewati malam. Setidaknya malam ini, ia bisa tidur dengan nyaman meskipun hanya di sofa.
Cello beringsut ke sisi Raga. Ia mengambil laptop dan ponselnya kemudian berpindah ke bantalan sofa. Sebuah selimut tebal ia bawwa dari kamar ganti. Baru saja gadis itu mengatur posisi dan selimutnya suara Raga menderu lagi.
“Matikan lampunya!” perintah Raga. Cello kesal, kenapa tidak sekalian saja tadi memberinya perintah. Huh, membuat orang kerepotan saja, gerutu Cello.
Kekesalan Cello belumlah berakhir, pagi ini ia bangun terlambat. Raga sudah siap dengan seragam PDHnya. Cello mengusut matanya dan terperanjat melihat lelaki itu lalu lalang melewatinya. Segera ia bangun dan langsung berlari menuju ruang ganti untuk mengambila seragam Raga. Tapi dia lupa jika lelaki itu sudah mengenakan pakaiannya sendiri.
“Tuan … itu ba-” suara Cello terhenti ketika menemukan lelaki dengan wajah tanpa ekspresinya itu meneta.
Cello segera mendekat dan membantu memasangkan Raga lencananya seperti biasa. Dan seperti biasa pula, Cello takut menatap lelaki itu, terlebih pagi ini dia bangun terlambat.
Sekali lagi, hati Raga bergetar hebat. Tatkala menemukan wanita itu seperti rupa gadis yang baru bangun dari tidur. Dalam situasi seperti itu, pesoana Cello memang masih terlihat cantik. Raga segera tersadar. Dia tidak boleh tertarik atau jatuh hati pada gadis pembayar hutang tersebut. Perempuan sama saja. Sama-sama ganjen dan budak nafsu.
Selepas membantu Raga, Cello pun sudah siap dengan style sehari - harinya yaitu celana jeans dan atasan blouse pendek setengah paha. Dan satu lagi khas jilbab stylisnya. Hari ini warna krem motif bunga-bunga menjadi pilihannya. Ia tampak segar dan energik. Diam-diam Raga mengamati cara dandan istrinya itu yang terbilang unik.
Bagaimana tidak cukup membalut bodylotion, bedak tipis dan lip balm, Cello terlihat sangat cantik.
“Gila, hanya dandanan sesederhana itu, dia terlihat sangat cantik. tapi sayang jilbabnya bikin aku tidak bisa menikmati pancaran kecantikannya.” Monolog Raga dalam batin.
No Foundation, NO eyeshadow dan NO Brouse, membut Cello tak butuh waktu berjam-jam memajang diri di depan cermin riasnya. Bagi wanita lain mungkin akan memakan waktu lama di depan cermin memoles dirinya. Tapi tidak dengan Cello cukup bahan seadanya ia sudah memperlhatkan kecerahan dan putih alami kulitnya.
Mata Cello menoleh ke arah Raga Yang dengan santai menyilang kedua tangannya menyisir tubuh Cello.
“Ada apa lagi si kapten sinting ini menatapku kayak gitu ke aku? huh, memang nggak bisa apa aku hidup dengan tenang dan damai di rumah ini? hanya setahun, please … setahun aja, bisa nggak sih kita jalani aktivitas kita dengan tenang dan damai pak kapten,” gumam Cello dalam batinnya.
“A … ada apa … Tuan, menatap sa … saya seperti itu?” tanya Cello takut-takut.
“Berputar!” perintah Raga. Mata Cello langsung melebar dan membatu.
“Saya bilang berputar! Kamu tuli ya?!” Cello langsung menurut meski hatinya bingung dengan perintah aneh lelaki itu.
“Sudah, sekali saja.” Kata Raga lagi. Cello berdiam lagi.
Lelaki itu menghela napas kemudian mengelus dagunya yang tak gatal dia tas silangan tangan sebelahnya. Tampak sedang mengamati penampilan gadis itu.
“Kamu mau kemana dengan penampilan begini?” Cello semakin terkesiap mendengar pertanyaannya. Ah, lupa. Si Kapten ini kan, tidak tahu kalau ia masih kuliah.
“Ke kampus tuan.”
“Dengan penampilan seperti ini?” alis Cello semakin bertaut. Memangnya ada yang salahkah denan penampilannya? Ini kan, penampilan dia sehari-hari jika pergi ke mana pun. Dan orang tua serta teman-temannya tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. lantas kenapa lelaki asing ini merasa begitu terganggu dengan penampilannya? Asal tidak telanjang saja, bukan? Duh kapten gila.
“Memang saya setiap hari begini saja tuan. Saya selalu berpenampilan seperti ini. dan tidak ada yang pe ….” Raga mengangkat telapak tangannya. Meminta Cello menyudahi penjelasannya.
“Ckckck..sungguh kampungan,”gerutunya memutar tubuh kemudian melangkah hendak meninggalkan kamar dengan raut jijiknya.
Hei sadar nggak sih lo emang gue kampugan, Gue tau diri juga bro, udah jangan menghina lagi sudah cukup Nyonya Ratu rumah ini menghina gue, jangan lagi lo, kepala batu.
Raga tiba-tiba berhenti. Ia tak jadi membuka pintu. Lagi-lagi Cello tersentak oleh sikap lelaki aneh itu. entah kenapa pagi ini sikap lelaki berpangkat beberapa bintang itu menjadi aneh. Tiba-tiba saja ia perduli dengan dandanan Cello. Mengomentari pakaian yang biasa ia kenakan setiap beraktivitas di luar. Dan sekarang, entah apa lagi yang mau dilakukan pria itu.
Raga berjalan balik kea rah Cello yang seperti patung manikan, ia meraih ransel Cello dan mengobrak abrik isi tas gadis itu. Cukup membuat Cello tak nyaman memang tapi ya sudahlah lakukan saja apa maumu tuan sombong.
Cello hanya menatap nanar ke arah ransel kesayangannya, benda kesayangan yang dibeli dari gaji pertamanya saat magang di Perusahan Periklanan. Tapi apa yang bisa ia lakukan laki - laki itu sudah semena-mena kepadanya. Dan dia tak bisa berbuata apa-apa selain menatap kosong pada benda yang mulai menampakkan diri dari dalam tas ransel itu.
“Tuan … Tuan mau apakan tas saya? Ada apa dengan tas itu?” kata Cello akhirnya.
“Kau ke kampus bawa kamera? Mau bikin video porno ya? Awas katahuan aku gerebek kampus kamu” Cello tercengang.
“Ini juga! Laptop, buat apa? Kamu mau beneran bikin video? Kalau ke kampus itu bukannya kamu harus bawa buku dan peralatan menulis lainnya. Bukan bawa begonia.” Omel Raga yang mengacak isi dalam tas Cello.
Cello tak habis pikir. Apa yang terjadi pada lelaki ini. begitu bermasalahnya isi dalam tas itu. dia tidak tahu jika semua yang dikomentarinya itu adalah senjata Cello dalam mengais uang jajan. Memang seperti dia yang sudah terlahir menjadi sultan. Pemilik kekayaan dan kehormatan selangit. Cello meronta-ronta dalam hati, merutuk habis sikap lelaki itu.
“Saya harus bekerja, Tuan. Sepulang dari kampus saya harus bekerja. Kalau saya tidak bekerja, bagaimana saya bisa makan.”
“Kamu kerja apa emangnya?”
“Saya magang di sebuah perusahaan periklanan. Jadi kamera itu adalah alat saya mengambil objek untuk iklan. Dan Laptop itu adalah alat saya untuk mengedit juga menyelesaikan tugas-tugas kampus saya, Tuan.”
Raga terdiam. Ia tidak lagi menggeledah isi tas Cello. Diletakkannya benda itu kemudian menatap dingin lagi pada Cello.
“Oh, jadi begitu. Ya sudahlah, aku hanya memastikan tidak ada barangku yang hilang dari rumah ini,” ucapnya berjalan belalu meninggalkan kamar. Benar-benar meninggalkan kamar itu. Cello mematung sendiri dengan mulut ngangannya mendengar kalimat ‘oh begitu.’ Hanya itu? Raga sama sekali tak merasa bersalah dengan mencurigai Cello
What hei tuan sinting, aku memang miskin tapi aku nggak serendah itu sampai - sampai harus mencuri barangmu.Lagian di kamar ini mana ada barang berharga. Yang ada tumpukan baju aneh berjejer di lemarimu. Juga hanya kertas surat perjanjian bodoh itu. Apa coba yang bisa aku curi. Dasar otak hancur. Cakep cakep error. Malu-maluin aja
