Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

PAGI HARI SETELAH PERNIKAHAN

Pagi itu suasana kamar hotel tempat Cello menginap dan mengadakan pesta pernikahan nampak tenang dan sepi. Rasa lelah dan ngantuk masih menguasainya pagi itu.Namun terpaan matahari pagi sudah memaksa tubuhnya untuk segera mengangkat diri. Sesaat Ia menggeliat dan meregangkan otot kakunya. Mulut lebarnya masih menguap mengeluarkan oksigen yeng tersisa.

Tak lama sebuah sosok tegap dengan dada bidang sudah keluar dari bibir pintu kamar mandi setengah telanjang. Suara jerit dan kekagetan sontak keluar dari mulutnya.

“Astaga Tuhanku!” Teriaknya. Menutup mulutnya dan membulatkan pandanganya. Lelaki yang masih tanpa ekspresi itu berlalu dengan santai menuju pintu kamar, membukakan sesorang yang sejak tadi mengetuknya. Ya tuhan sejak kapan lelaki itu masuk ke kamarku terus apa dia melakukan sesuatu padaku semalam,Ah aku harus memeriksa diri. Tapi tubuhku baik baik saja tidak ada yang sakit. Dasar kapten Sinting pagi pagi sudah bikin jantungku olah raga nggak tau apa dia kalau dia seKEREN itu bikin gue napsuan aja batin Cello.

Setelah ritual pernikahan usai, Raga segera melarikan diri dan menghindari kedua orang tuanya. Karena ia tak mau bertemua dengan wanita asing yang sama sekali tidak ia sukai. Handi masih mengawas di sekitar halaman hotel. Lelaki kalem itu segera melaporkan kepada Raga mengenai kedatangan Armegan ke hotel tempat ia menginap, tepatnya ke kamar pengantinnya.

Saat malam beranjak larut, lelaki tegap itu akhirnya menyerah, iapun kembali ke kamar hotelnya. Tak ingin membangunkan gadis itu, ia memilih meminta kunci cadangan pada manager hotel. Untungnya daya ingat sang manager sangat bagus sehingga ia bisa dengan yakin memberikan kunci cadangan kamar Raga.

Setiba di sana, matanya sudah menangkap tubuh Cello yang tertidur pulas masih dengan gaun pengantinnya.

“Hm, kayaknya kamu harus aku kasih pelajaran perempuan” gerutunya mendekat ke arah tubuh Cello.

Lama ia mengamati setiap jengkal tubuh gadis yang terlelap tanpa memakai hijab pengantinnya itu. Matanya Raga bisa leluasa menikmati kecantikan di balik kepolosan wanita yang ada di hadapannya itu. Jemarinya mulai mengusap bibir mungil Cello, namun tak berlangsung lama. Terdengar igauan dari alam bawah sadar Cello yang tertangkap telinga Raga

“Ayah.. tenang saja aku akan membayar semua hutang-hutang kita. Adik harus sembuh. Dia harus sehat. Ayah jangan pikir macam-macam ya,” racau Cello dalam mimpinya.

Bayangan pengkhianatan mega pun tiba-tiba berkelebat. Seketika mata Raga membuka tajam, darah emosi saat itu juga menguasai dirinya. Rasa benci terhadap mahluk beremberio itu pun muncul.

“Dasar perempuan,lihat saja apa yang akan kulakukan padamu malam ini” gerutunya.

Tanpa rasa canggung dan kaku. Raga mulai melucuti semua pakaian yang melekat pada tubuh Cello. Ia sama sekali tidak tergiur dengan tubuh Cello yang menggiurkan tanpa helai benang. Baginya, matanya sudah melepuh melihat tubuh polos kaum wanita itu. semua hanya mengingatkan ia bagaimana Mega dan Ravael bercinta pada malam pergantian tahun.

Raga beringsut pada lemari nakas dan mengambil sebuah gaun malam seksi berwarna hitam berenda. Ia dengan cekatnya mengganti semua pakaian milik Cello.

***

Pagi menjemput, Raga yang sejak tadi berdiri di depan cermin dengan memamerkan dada telanjang dada masih menunggu Handi membawakannya seragam kepolisiannya.

“Ini Tuan seragamnya” Ucap Hendi menuduk hormat.

Matanya Hendi kembali menemukan isyarat pada ekor mata Raga agar ia mengurus wanita masih bertumpu di balik selimut tebalnya itu.

“E maaf Nona Cello, bisakah anda membantu tuan muda mengenakan baju seragamnya” suara Hendi penuh sopan.

Cello masih tertegun namun ingatan akan perintah sang tuan, ia segera mengangkat tubuhnya dan berdiri menyentuhkan kakinya ke lantai. Sekali lagi ia menjerit, menemukan dirinya sudah mengenakan baju tidur seksi dres hitam berenda, transparan, dan sepaha. Replek kedua tangan Cello menyilang tubuhnya dan berusaha menutupi belahan dadanya lalu menunduk di balik kasur. Raga terkejut dalam hati, mendapati sikap aneh gadis polos itu. Mata Cello melirik ke arah Hendi yang masih berdiri tegap menghadap Raga menunggu perintah meskipun ia tahu bagaimana penampilan Cello pagi itu.

“T-Tuan Hendi, tolong keluarlah sebentar saya mohon.” Suara lemah Cello yang membuat mata Raga bereaksi dan menyorot tajam ke arah ajudannya itu. Raga menghentakkan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun Sial kenapa dia mesti malu sih,itu kan hanya pengawal biasa, abaikan saja kenapa? dasar cewek kampung ,udik batin Raga.

Hendi beranjak patuh dan segera menutup pintu. Namun tahukah kalian apa yang dilakukan dibalik pintu? Tertawa lebar menahan bersuara. Coba aja kalau ia sampai bersuara kapten ice itu langsung meninjunya habis habisan. Tapi melihat reaksi polos Cello sudah cukup menghibur hatinya yang selama ini tertekan di sisi sang tuan Nona Cello Nona Cello, Nona lucu sekali. Saya yakin seribu persen begitu anda mendapatkan hati tuan, bahkan seekor semutpun tidak akan berani menyentuh anda nona. Dan tuan akan merasa mejadi lelaki paling bahagia dari sebelumnya karena saya tau cinta yang akan nona berikan padanya adalah cinta yang tulus tampa pamrih. Lihat saja nanti nona kata kata saya ini seribu persen benar.Batin Hendi.

Didalam kamar, Cello Nampak jengah mendekati Raga yang masih memajang di area pandangannya. Perlahan tangannya meraih seragam yang sedari tadi di pegangnya. Cello masih menunduk menyembunyikan wajah malunya.

Sementara Raga diam diam mengamati fisik wanita itu. Sungguh Nampak jauh berbeda dari sejak pertama ia melihat di foto yang ditinggalkan ayahnya saat meminta lelaki itu menikahi gadis yang di hadapannya itu Hm,, Cantik betul perempuan ini, alami lagi. Jadi kau mencoba menggodaku ya perempuan. Lihat saja akan kubuat hidupmu menderita hingga kau akan menyesal telah mengambil sikap ini. Surat kontrak yang kau tanda tangani semalam adalah tiket kematianmu jalang. Batin Raga.

Sesekali Cello mencuri pandang ke wajah Raga yang sibuk merapikan diri dan mengamati pantulannya di kaca cermin. Sesekali ekor matanya menangkap bayangan wajah Cello yang sibuk merapikan seragamnya di belakang punggungnya. Ah kenapa hatiku berdebar sih sama gadis kampong itu, mendingan aku cepat cepat pergi dari sini.bisa bisa bahaya buatku.

“Lecanaku” titah Raga menunjuk ke arah lencana bergambar bintang yang tergeletak di atas nakas.

Dengan patuh Cello berjalan dan meraih lencana berbintang tiga itu. Ini kan pangkat Jendral kalau Kapten kan cuma gambar tiga balok emas. Aneh.Cello segera membantu Raga mengaitkannya dipundak seragam lelaki itu.

“Bersiap siaplah, Hendi akan membawamu pulang ke rumah, aku akan ke markas sendiri”

“Baik Tuan” suara sopan Cello menundukkan wajahnya memberi hormat pada lelaki yang sudah berjalan melewatinya.

Raga keluar dan mendapati Hendi yang masih terkekeh geli menertawakannya. Sementara mata Raga masih menyorot sinis kea rah ajudan setianya itu.

“ Apa lo ketawa-tawa?!” hentaknya berlalu meninggalkan Hendi yang masih menahan tawanya.

Seperginya Raga dari pandangan Cello, wanita itu menghela napas panjang setelah seperkian detik menahan dalam tekanan hawa kecanggungan. Raga, bagi Cello adalah sosok yang sangat menakutkan, bagaimana tidak, lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan sikap hangat layaknya pria lain. Dari kabar burung penjaga gerbang yang ia temui malam itu, hanya sosok pria ini yang terkenal lebih menakutkan dari Tuan besar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel