Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Hasrat Dalam Diam.

Keesokan harinya, Sinar matahari pagi mulai menembus celah gorden kamar Naufal, membawa hawa panas yang seakan membakar sisa-sisa kantuknya.

Pemuda itu sebenarnya sudah terbangun sejak sebelum azan subuh berkumandang.

Matanya terjaga bukan hanya karena semangat membara menyambut hari pertama ospek di Universitas Indonesia, melainkan karena tidurnya yang tidak nyenyak, sebuah pertempuran batin yang melelahkan di balik selimut.

Bayang-bayang Tante Amelia yang menggoda dengan aroma parfumnya yang menyesakkan terus menghantui mimpinya.

Dalam tidurnya yang gelisah, Naufal melihat kilasan-kilasan terlarang yang membuatnya terbangun dengan peluh dingin di dahi.

Ia merasa berdosa, merasa mengkhianati kepercayaan Om Rizaldi yang begitu baik, namun di saat yang sama, ia bingung dengan reaksi tubuhnya sendiri yang tidak bisa berdusta setiap kali wanita itu berada di dekatnya.

Naufal turun ke lantai bawah dengan seragam ospek yang sangat rapi.

Kemeja putih bersih yang disetrika licin dan celana bahan hitam membungkus kaki panjang serta tubuh atletisnya.

Kesan polos khas anak desa masih melekat kuat pada raut wajahnya, namun tidak bisa memungkiri daya tarik alaminya sebagai pria dewasa yang baru mekar.

Di ruang makan, Rizaldi sudah siap dengan kemeja kerjanya, tampak gagah sebagai kepala keluarga yang mapan.

Namun, pemandangan di sampingnya membuat jantung Naufal seolah berhenti berdetak sesaat.

Amelia tampak sangat memukau dengan blouse sutra lengan pendek berwarna krem yang ketat, dipadukan dengan rok pensil hitam yang membalut ketat lekuk pinggulnya hingga ke lutut.

"Pagi, Naufal. Wah, gagah sekali keponakan Om ini pakai baju kuliah. Benar-benar mirip Mas Anton waktu muda dulu," puji Rizaldi sambil menyesap kopinya dengan santai, tak menyadari gejolak di depan matanya.

Amelia tidak segera menyahut. Ia hanya menatap Naufal dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Ya Tuhan... Betapa jantannya dia dengan seragam itu. Aku ingin sekali merobek kancing-kancing kemejanya satu per satu, Wajahnya boleh saja terlihat polos seperti anak desa yang tidak tahu apa-apa, tapi tubuhnya... tubuhnya adalah undangan murni untukku agar segera mengotorinya, Aku akan menjadi orang pertama yang mengajarinya apa artinya menjadi pria dewasa di kota ini, Dia adalah mangsa yang terlalu indah untuk dilepaskan begitu saja." ucap Amel dalam hati dengan napas yang sedikit tertahan.

Tatapannya bukan sekadar tatapan bangga seorang tante, melainkan tatapan lapar yang disamarkan dengan sangat rapi oleh senyuman manis nan manipulatif.

Ia seolah sedang melakukan inspeksi visual pada "mangsa" yang kini berada di bawah atapnya, menghitung waktu sampai ia bisa melancarkan serangan pertamanya.

"Ayo cepat sarapan, Naufal. Nanti telat, hari pertama tidak boleh memberi kesan buruk," ucap Amelia lembut.

Suaranya sedikit serak dan terdengar begitu provokatif di telinga Naufal yang sensitif.

Mereka bertiga sarapan dalam kesunyian yang mencekam bagi Naufal. Hanya suara denting sendok dan gemericik tuangan air teh yang terdengar mengisi kekosongan.

Setelah selesai, mereka bergegas masuk ke dalam mobil milik Rizaldi.

Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat berbeda.

Rizaldi duduk di kursi pengemudi, Amelia di sampingnya, dan Naufal terpaksa duduk di kursi belakang, tepat di posisi tengah.

Posisi ini justru menjadi bumerang, dari sini, ia bisa melihat dengan jelas spion tengah yang secara konstan memantulkan mata Amelia yang terus-menerus melirik tajam ke arahnya.

"Sudah bawa semua perlengkapan ospeknya, Fal? Jangan sampai ada yang ketinggalan, nanti dihukum senior loh. Katanya senior teknik itu galak-galak," ucap Rizal sambil mulai menjalankan mobil keluar dari garasi.

"Sudah, Om. Semua sudah saya cek dua kali di tas," jawab Naufal sesopan mungkin, meski ia merasa tidak nyaman di kursinya yang empuk namun terasa panas.

"Jangan terlalu tegang, Fal. Nikmati saja. Kuliah itu masa paling indah dalam hidup, asal kamu bisa jaga diri dan tetap fokus pada tujuan awalmu ke sini," tambah Rizal memberi nasihat layaknya seorang ayah yang bijak.

Tiba-tiba, Amelia memutar tubuhnya sedikit ke belakang. Tangannya sengaja diletakkan di atas sandaran kursi tengah, membuat kain blouse-nya tertarik dan secara tidak sengaja menonjolkan bagian dadanya tepat di hadapan mata Naufal.

Dari jarak sedekat itu, Naufal bisa melihat garis dada tantenya yang seharusnya tidak ia lihat di pagi hari yang suci ini.

"Benar kata Om-mu, Fal. Jadi nikmati saja momen kuliah kamu. Fokus belajar, jangan dulu mikirin pacaran... atau tergoda cewek-cewek genit di kampus," ucap Amelia dengan nada bicara yang rendah dan penuh penekanan pada kata tergoda.

Naufal merasa tenggorokannya mendadak kering kerontang, Seolah seluruh pasokan oksigen di mobil itu telah disedot habis oleh aura dominan Amelia.

"I-iya, Tante," jawab Naufal singkat.

Ia segera membuang muka ke arah jendela, pura-pura tertarik pada kemacetan Jakarta yang semrawut, berusaha sekuat tenaga menghindari kontak mata yang mematikan itu.

Selama perjalanan, Amelia seolah tidak berhenti melancarkan serangannya.

Ia berpura-pura memperbaiki riasannya melalui kaca di sun visor, memiringkan wajahnya sedemikian rupa, namun sesekali matanya menangkap bayangan Naufal yang meliriknya di spion dan ia dengan berani mengedipkan satu matanya.

Naufal tersentak, seluruh otot tubuhnya menegang, namun ia hanya bisa terdiam membeku sembari meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Mobil akhirnya sampai di depan gerbang megah kampus UI.

Suasana sangat riuh, Ribuan mahasiswa baru dengan atribut warna-warni mereka memenuhi jalanan.

Klakson kendaraan dan teriakan panitia yang mengarahkan barisan mulai terdengar bersahut-sautan di tengah hiruk-pikuk pagi.

"Nah, sudah sampai. Belajar yang rajin ya, Fal. Nanti sore kalau Om sempat, Om jemput. Kalau tidak, nanti Tante yang jemput pakai mobil satu lagi, sekalian Tante pulang dari butik," ucap Rizal sambil menepuk lengan Naufal dengan hangat.

"Terima kasih banyak, Om, Tante. Naufal turun dulu," ucap Naufal cepat-cepat.

Ia merasa sangat lega saat membuka pintu mobil dan keluar dari ruang sempit yang penuh tekanan sensorik itu.

Begitu turun dan menggendong tasnya, Naufal menarik napas dalam-dalam.

Udara luar yang sedikit berpolusi sekalipun terasa jauh lebih segar daripada atmosfer penuh gairah di dalam mobil tadi.

Ia mulai melangkah masuk, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih berpacu liar.

Di tengah kerumunan yang membingungkan, tiba-tiba bahunya ditepuk cukup keras oleh seseorang.

"Woi Bro! Teknik juga ya?" tanya seorang pemuda dengan rambut cepak dan gaya bicara yang santai dan meledak-ledak.

"Eh, iya. Teknik Mesin. Kamu?" Ucap Naufal menoleh, sedikit terkejut namun terbantu oleh distraksi itu.

"Sama dong! Kenalin, Reno. dari Bandung. kelihatannya bingung banget, baru pertama kali ke Jakarta ya?" tanya Reno sambil mengulurkan tangan dengan keramahan khas Sunda.

"Naufal. Iya, aku dari kebumen, baru sampai kemarin sore." Ucap Naufal sambil menjabat tangan itu, merasa sedikit aman mendapatkan kawan pertama.

"Santai, Fal! Lu bareng aku aja. Aku udah riset lokasi fakultas kita biar nggak nyasar dan dihukum senior... tapi aku lihat kamu tadi turun dari mobil... itu orang tua kamu?" tanya Reno penuh selidik namun terasa akrab.

"Bukan, itu Om dan tante aku. Aku numpang di rumahnya selama kuliah di sini." Ucap Naufal tersenyum tipis, mencoba menghapus bayangan Amelia yang masih menempel di retinanya.

"Wah, asik tuh. Rumah orang kaya biasanya fasilitasnya lengkap... Eh, tapi aku perhatiin tante kamu tadi yang di kursi depan... buset, bening banget buat ukuran tante-tante! Gayanya classy abis Fal. Auranya beda!" celetuk Reno.

Wajah Naufal seketika kembali memerah padam. Komentar Reno yang jujur namun tanpa dosa itu terasa seperti hantaman godam bagi mentalnya.

Ia hanya bisa tertawa hambar yang dipaksakan, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil berjalan beriringan menuju lapangan utama.

Kehadiran Reno setidaknya memberikan sedikit ruang napas bagi Naufal dari jeratan Amelia.

Obrolan seru tentang dunia kampus dan persaingan ketat di jurusan teknik membuat pikirannya sedikit teralihkan.

Namun, di sudut terjauh batinnya, Naufal tahu bahwa tantangan terberat yang ia hadapi bukan hanya ospek yang melelahkan atau tugas kuliah yang menumpuk.

Tantangan terbesarnya adalah saat ketika ia harus kembali ke rumah megah yang kini terasa seperti sangkar berlapis emas bagi pemangsanya yang cantik.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel