Bab 4: Bukan Sekadar Keponakan
Jarum jam dinding di ruang makan itu berdetak dengan ritme yang monoton, seolah menghitung setiap detik kecemasan yang merayap di tengkuk Naufal.
Pukul 19:30, namun bagi Naufal, waktu seakan berjalan melambat di bawah temaram lampu gantung kristal yang mewah.
Suasana meja makan itu terasa begitu kontras; fisik bangunan yang megah dan hidangan yang melimpah, namun ada hawa dingin yang menusuk tulang di baliknya.
Denting sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian.
Bagi Naufal, keheningan ini justru jauh lebih menyesakkan daripada kebisingan terminal bus tadi siang.
Aroma masakan rumah yang seharusnya menenangkan kalah telak bersaing dengan wangi parfum milik Amelia yang pekat, seolah-olah aroma itu sengaja mengepung seluruh indra penciumannya tanpa celah.
Naufal duduk dengan posisi tubuh kaku, punggungnya tegak lurus, ia berusaha keras menjaga pandangannya tetap tertuju pada butiran nasi di piringnya, takut jika sedikit saja ia mendongak, ia akan terjebak dalam jaring laba-laba yang sedang ditenun oleh wanita di hadapannya.
Namun, setiap kali ia mengangkat sendok, ia bisa merasakan sepasang mata elang yang tajam dan lapar sedang menguliti setiap gerak-geriknya, menembus lapisan kaos tipis yang ia kenakan.
"Ayo ditambah ikannya, Fal. Jangan malu-malu, anggap saja seperti di rumah sendiri. Kamu butuh banyak energi untuk mulai kuliah besok," ucap Amelia lembut.
Suaranya terdengar seperti desiran sutra yang halus, namun di telinga Naufal, itu terdengar seperti peringatan yang berbahaya.
"I-iya, Tante. Ini sudah cukup, terima kasih," jawab Naufal dengan suara sedikit serak tanpa berani mendongak sedikit pun.
Amelia, yang duduk tepat di hadapan Naufal, sama sekali tidak berniat menyentuh makanannya.
Ia justru sedang menikmati hidangan utama yang berbeda.
Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana otot bisep Naufal menegang setiap kali pemuda itu memegang sendok.
Ia memperhatikan dengan detail bagaimana kaos katun yang dikenakan keponakannya itu seolah kewalahan membendung bidang dadanya yang naik-turun dengan cepat, sebuah bukti nyata bahwa napas pemuda itu sedang tidak teratur karena gugup.
"Sial, dia benar-benar sudah menjadi pria dewasa yang menggugah selera," batin Amelia.
Ia menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan sensasi panas yang menjalar di tubuhnya.
Matanya kini terpaku pada leher Naufal yang kokoh.
Ia melihat jakun Naufal bergerak naik dan turun dengan sangat maskulin saat pemuda itu meneguk air putih dengan terburu-buru.
Gerakan itu terlihat begitu sensual di mata Amelia, membangkitkan gairah liar yang selama bertahun-tahun ia pendam di balik kehidupan rumah tangganya yang mulai terasa hambar dan membosankan.
"Kalau dia segagah ini hanya dengan duduk diam, bagaimana jadinya kalau dia sedang mendesah penuh keringat di bawahku?" Ucap amelia dalam hati.
Pikiran liar itu menyelimuti benaknya tanpa rasa bersalah.
Baginya, Naufal bukan sekadar keponakan yang menumpang tinggal.
Naufal adalah objek pelampiasan yang sangat potensial.
Sebuah rasa lapar yang purba menuntut untuk segera dipuaskan, meskipun ia sangat sadar bahwa ia sedang bermain-main di wilayah terlarang yang bisa menghancurkan segalanya.
Rizaldi, yang duduk di kepala meja, tampak sepenuhnya buta terhadap ketegangan listrik yang menyelimuti atmosfer ruang makan itu.
Ia justru terlihat sangat menikmati momen reuni kecil ini, merasa bangga bisa menampung keponakannya.
"Gimana kabar Mbakyu Ratih dan Mas Anton, Fal? Sehat-sehat saja kan mereka di desa? Pasti mereka bangga sekali kamu bisa tembus UI," tanya Rizal, memecah lamunan erotis istrinya.
Naufal menghela napas panjang, merasa sedikit lega karena ada topik pembicaraan yang normal untuk digapai.
"Mama dan Papa sehat, Om. Titip salam buat Om dan Tante. Mama juga kangen kumpul keluarga. Katanya kalau ada libur panjang, Om disuruh mampir ke sana, biar bisa ngerasain udara segar lagi dan makan masakan kampung," jawab Naufal, suaranya sedikit lebih stabil meski tangannya masih terasa dingin.
"Sudah lama Om gak nengokin mama sama papamu. Kesibukan di kantor benar-benar menyita waktu, Fal. Apalagi sekarang bisnis butik tantemu juga lagi ramai-ramainya, hampir tiap minggu ada pesanan baru," ucap Rizal sambil menyeka mulutnya dengan tisu satin, senyum puas terukir di wajahnya.
Amelia kini menopang dagunya dengan satu tangan, matanya menatap Naufal dengan intensitas yang tidak berkurang sedikit pun, seolah-olah ia sedang memetakan setiap inci wajah pemuda itu.
"Tante juga kangen kok sama suasana desa... tapi sepertinya melihat kamu di sini saja sudah cukup untuk membawa suasana baru di rumah ini," ucap Amelia.
Nada Suaranya rendah yang mengandung makna ganda yang kental.
"Tuh kan, Fal. Tante kamu saja senang kamu di sini. Rumah ini jadi gak sepi lagi. Biasanya cuma ada Om sama Tante yang sibuk masing-masing," ucap Rizaldi tertawa renyah.
Ia sama sekali tidak menangkap sinyal predator dari ucapan istrinya.
Naufal hanya bisa tersenyum kikuk, merasa semburat panas kembali merayap dari leher hingga ke pipinya.
Ia merasa seperti seekor mangsa yang sedang diajak bercanda dan dielus-elus oleh pemangsanya sebelum akhirnya diterkam dalam kegelapan.
"Oh iya, besok jadwalmu sudah mulai padat kan? Ospek itu melelahkan lho," tanya Rizal lagi.
"Iya Om, besok mulai kumpul pagi-pagi sekali di kampus untuk pembukaan," ucap Naufal.
"Wah, semangat ya! Hari pertama jadi mahasiswa UI itu momen yang nggak akan terlupa seumur hidup," puji Rizal dengan nada bangga yang tulus.
"Iya, jangan sampai telat ya, Fal. Kamu besok berangkat bareng sama om kamu saja, jangan naik angkutan dulu karena kamu belum hafal rutenya," sela Amelia dengan senyum nakal yang tersungging di sudut bibirnya.
"Iya benar kata tantemu. Besok berangkat sama Om saja. Om juga mau nganter tante kamu ke butiknya dulu sebelum ke kantor. Jadi kita searah, nanti kamu bisa turun tepat di depan gerbang kampus." Jawab rizaldi dengan mengangguk-anggukan kepalanya setuju.
"Apa tidak merepotkan, Om? Naufal bisa naik ojek online saja, sudah ada aplikasinya kok," jawab Naufal, berusaha menciptakan jarak.
Ia merasa satu mobil dengan Amelia dalam ruang tertutup adalah ide yang sangat buruk bagi kesehatan jantungnya.
"Sama sekali tidak, Fal. Malah Tante senang bisa bareng kamu di mobil. Kita bisa ngobrol banyak, kan?" potong Amelia cepat.
suaranya mengunci argumen Naufal sebelum Rizaldi sempat mengeluarkan suara.
Makan malam pun usai. Naufal yang tidak terbiasa dilayani segera beranjak untuk membantu mengangkat piring kotor ke dapur, sebuah kebiasaan rajin yang ia bawa dari rumahnya di desa.
Namun, saat berada di area pantry, ia kembali harus berhadapan dengan Amelia yang juga membawa beberapa gelas sisa.
Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan ketika hendak meletakkan peralatan makan di wastafel, Naufal merasa seperti tersengat arus listrik ribuan volt.
Ia segera menarik tangannya dengan gerakan refleks yang kentara, sementara Amelia justru tidak menjauh.
Amelia melangkah selangkah lebih dekat, hingga Naufal badannya terpojok di tembok pantry dan ia bisa mencium aroma parfumnya yang memabukkan bercampur dengan aroma kulit wanita dewasa itu.
"Selamat istirahat, Naufal... Semoga mimpiin tante ya... eh salah... maksud tante, semoga mimpi indah," bisik Amelia tepat di telinga Naufal.
Hembusan napasnya yang hangat terasa jelas di kulit leher Naufal, mengirimkan gelombang getaran yang membuat bulu kuduk pemuda itu berdiri.
Amelia kemudian berlalu pergi dengan langkah yang tenang.
Ia sengaja memperlambat goyangan bokongnya saat berjalan.
Meninggalkan Naufal yang masih berdiri mematung di depan wastafel.
Jantungnya berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke telinga.
Dinginnya air wastafel yang menyentuh tangannya tak mampu meredam gejolak panas yang mendadak membakar dadanya.
Malam pertamanya di Jakarta ternyata jauh lebih berbahaya dan penuh teka-teki daripada yang pernah ia bayangkan dalam mimpi buruk sekalipun.
