Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6: Oase di Tengah Bara

Naufal berjalan bersisian dengan Reno menuju lapangan utama, tempat berkumpulnya ribuan mahasiswa baru yang mengenakan atribut kuning ikonik.

Sejenak, bayangan Tante Amelia yang menggoda di dalam mobil tadi mulai memudar.

Pikiran kotor yang sempat menyusup ke kepalanya tergantikan oleh rasa takjub yang luar biasa saat melihat deretan gedung fakultas yang berdiri megah.

"Gila, luas banget ya, Ren? Kalau nggak bareng kamu, mungkin aku sudah nyasar sampai ke Fakultas Hukum atau Psikologi," ucap Naufal sambil menyeka keringat tipis yang mulai muncul di dahi dan lehernya.

Reno tertawa lebar. Pemuda asal Bandung itu memang tipe orang yang sangat mudah bergaul dan seolah memiliki energi yang tak habis-habis.

"Makanya, Fal, kamu harus pasang mata baik-baik. Di sini bukan cuma gedungnya yang luas, tapi pemandangannya juga sangat indah. Liat tuh, rombongan anak Komunikasi sama Sastra di sebelah sana... bening-bening banget kan? Jakarta memang gudangnya bidadari!" Ucap Reno.

Ia menyikut lengan Naufal sambil mengarahkan dagunya ke segerombolan mahasiswi modis yang melintas.

Naufal hanya tersenyum tipis. Di matanya, kecantikan gadis-gadis seumurannya itu terasa lebih aman, Berbeda jauh dengan kecantikan Tante Amelia yang terasa seperti jebakan penuh aura predator yang membuatnya selalu merasa terancam sekaligus penasaran.

"Eh, denger-denger senior Teknik tahun ini galak-galak, Fal. Kamu sudah siap mental belum? Badan kamu sih oke, tinggi dan tegap banget, pasti dikira atlet nasional kalau lagi diam begini," lanjut Reno sambil memperhatikan postur tubuh Naufal yang memang terlihat lebih menonjol dibandingkan mahasiswa baru lainnya.

"Cuma sering bantu orang tua angkut hasil panen, Ren. Bukan atlet, itu murni latihan karena keadaan," jawab Naufal dengan nada rendah hati yang tulus.

Tak lama kemudian, mereka sampai di titik kumpul Departemen Teknik Mesin. Suasana di sini terasa jauh lebih maskulin, riuh dengan suara tawa berat, dan sedikit intimidatif.

Seorang mahasiswi dengan jaket kuning dan pita merah di lengan mendekati mereka dengan langkah tegap.

Namanya Dira Prameswari, mahasiswi tingkat dua yang menjadi mentor kelompok mereka.

Rambutnya dikuncir kuda, menonjolkan wajahnya yang tegas dengan sorot mata yang cerdas.

"Teknik Mesin! Baris di sini! Cepat, jangan ada yang mencar atau sibuk sendiri!" seru Dira dengan suara lantang yang mampu membungkam kegaduhan.

Naufal dan Reno segera bergabung ke dalam barisan.

Di sana, mereka bertemu dengan Bagas, cowok berkacamata tebal yang tampak sangat kutu buku, dan Gerry, putra daerah dari Medan yang bicaranya ceplas-ceplos.

"Kenalin, aku Gerry, dari medan, dan Ini Bagas si calon profesor kita tampaknya." Ucap gerry.

Bagas hanya mengangguk kecil sambil membenarkan letak kacamata.

"Bagas. Salam kenal." Ucap bagas.

Naufal dan gerry Lalu saling memperkenalkan diri masing-masing.

Selama sesi perkenalan dan ice breaking, Naufal mulai merasa memiliki pelindung dari dunia luar.

Ia tertawa lepas saat Reno gagal melakukan yel-yel, dan merasa tertantang saat para senior mulai memberikan instruksi disiplin yang keras.

"Woi, Naufal! Fokus!" bisik Reno saat melihat Naufal sempat melamun sejenak.

"Liat tuh, Kak Dira dari tadi merhatiin kelompok kita terus... ah bukan, kayaknya dia cuma merhatiin muka kalemmu itu. Kamu punya daya tarik anak desa yang bikin cewek kota penasaran, tahu nggak?" Ucap reno.

Naufal menoleh sedikit dan memang mendapati Dira sedang menatap ke arah kelompok mereka.

Saat mata mereka bertemu, Dira tidak memalingkan wajah, melainkan hanya memberikan senyuman tipis yang sangat profesional namun terasa hangat.

"Ah, itu perasaan kamu saja, Ren. Jangan mulai deh," sahut Naufal, meski dalam hati ia merasa ada sebersit rasa bangga yang sehat.

Saat waktu istirahat siang tiba, mereka duduk di bawah pohon yang rindang.

Sambil membuka bekal, mereka mengobrol seru tentang gosip dosen-dosen killer yang konon bisa membuat mahasiswa teknik tidak lulus selama bertahun-tahun.

Tak jauh dari mereka, Dira duduk menyendiri sambil mencatat sesuatu di buku agendanya.

Dira memancarkan aura kepemimpinan yang jujur dan apa adanya.

"Eh, Fal. Tuh, Kak Dira ngeliatin kamu lagi. Samperin sana, tanya soal modul atau apa gitu. Kamu kan anak daerah, butuh bimbingan 'khusus' dari senior cantik?" bisik Reno jahil.

"Betul tuh! Gas pol, Fal! Jangan kasih kendor. Dari tadi matanya nggak lepas dari bahu tegap kamu yang kayak beton itu," timpal Gerry sambil tertawa terbahak-bahak hingga tersedak air minumnya.

Sedangkan bagas hanya menyimak pembicaraan mereka.

Naufal, dengan segala kepolosannya dan rasa tidak enakan, akhirnya memberanikan diri berdiri.

"Ya sudah, aku tanyain dulu ya ke Kak Dira. Buay tugas besok" ucap naufal.

Naufal melangkah mendekat. Dira mendongak, matanya yang tajam menatap Naufal dari balik kacamata yang sedikit turun ke ujung hidung.

"Eh, Naufal? Ada yang masih bingung dengan instruksi tadi?" tanya Dira.

Suaranya terdengar jauh lebih lembut dan feminin saat bicara empat mata dibandingkan saat ia berteriak di lapangan tadi.

"I-iya, Kak. Maaf mengganggu waktunya. Saya mau tanya soal pengumpulan tugas buat besok, sebaiknya dijilid rapi atau cukup pakai klip saja ya?" tanya Naufal, mencoba terdengar profesional meski jantungnya sedikit berdegup kencang karena kikuk.

Dira tersenyum lebar kali ini, sebuah senyuman tulus yang membuat Naufal merasa tenang. Senyum ini berbeda total dengan senyum lapar milik Amelia yang selalu membuatnya merasa seperti mangsa di atas meja makan.

"Pakai klip saja, Fal. Kita di Teknik nggak suka hal-hal yang terlalu dekoratif tapi isinya kosong. Yang penting isinya berbobot... ya, kayak badan kamu yang kelihatannya berbobot," ucap Dira tanpa sadar.

Mendengar ucapan dira, wajah Naufal memerah seketika hingga ke telinga.

"Hah? Maksudnya bagaimana, Kak?" Ucap naufal sambil menggaruk kepala.

"Maksudnya, kamu kelihatannya sangat disiplin menjaga fisik. Jarang ada mahasiswa baru yang postur tubuhnya setegap dan seproporsional kamu. Kamu sering olahraga atau bagaimana?" Ucap dira.

Dira tertawa kecil, sedikit salah tingkah menyadari ucapannya.

"Cuma sering bantuin orang tua angkat berat di kampung saja kok, Kak," jawab Naufal jujur.

Dira menutup bukunya, lalu menatap Naufal dengan saksama, seolah mengagumi kesederhanaan pemuda di depannya.

"Bagus itu, anak yang berbakti biasanya punya tanggung jawab tinggi. Oh iya, kalau ada apa-apa soal kampus atau butuh bantuan adaptasi, jangan sungkan tanya ke saya." Ucap dira.

Naufal merasa ada koneksi yang hangat dan murni.

"Terima kasih banyak, Kak Dira. Maaf kalau saya tadi sempat kelihatan bengong di lapangan." Ucap naufal.

"Nggak apa-apa. Wajar kalau anak baru merasa kewalahan sama lingkungan Jakarta yang bising dan gila ini," ucap Dira.

suaranya sedikit merendah, seolah berbagi rahasia kecil.

"Ya sudah, Kak. Terima kasih atas waktunya. Saya kembali ke kelompok dulu," ucap Naufal sambil membungkuk sopan.

Baru saja Naufal berbalik, Dira masih menatap punggung tegap pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa kagum dan rasa penasaran.

Ia tidak sadar bahwa sejak tadi, dua sahabat karibnya sesama panitia, Siska dan Maya, sudah berdiri di belakangnya sambil menahan tawa geli.

"Ehem! Fokus banget ya, Bu Ketua, melihat punggung si maba idola yang bidang itu," goda Siska sambil menyenggol bahu Dira dengan genit.

Dira tersentak, yerkaget karena kehadiran temannya yang tiba tiba itu.

"Apa sih, Sis? Aku cuma lagi menjelaskan soal teknis tugas ke dia. Dia nanya, ya aku jawab sebagai mentor yang baik." Ucap dira.

wajahnya yang biasanya tenang mendadak berubah merah padam.

"Jelasin tugas apa jelasin rute menuju hati? Aku liat-liat, tadi mata kamu nggak kedip pas dia lagi ngomong. Tapi jujur sih, Ra, itu maba memang cakepnya nggak masuk akal. Bersih, atletis, auranya tuh... gimana ya? Maco tapi polos banget!" ucap Maya sambil tertawa cekikikan.

Dira mencoba kembali membuka bukunya, pura-pura sibuk meski tangannya sedikit gemetar.

"Dia dari desa, makanya auranya masih segar, Gak seperti kalian yang pikirannya sudah terkontaminasi polusi Jakarta" Ucap dira.

Siska duduk di samping Dira, mengamati wajah sahabatnya itu dengan saksama.

"Duh, Ra, nggak usah muna deh. Tadi pas dia senyum sedikit, aku liat kamu sempat salting kan? Jarang-jarang loh seorang Dira yang dikenal 'gunung es' bisa sesabar itu menjelaskan hal sepele ke mahasiswa baru." Ucap Siska sambil Jemarinya menoel-noel pipi Dira.

"Apaan sih, jangan bicara yang aneh-aneh deh" bisik Dira mencoba membela diri.

"Tapi beneran, Ra. Kalau kamu nggak gerak cepat, anak itu bakal langsung jadi incaran mahasiswi se-UI. Lihat tuh, anak-anak rumpun sebelah saja sudah mulai bisik-bisik nanyain namanya," timpal Maya sambil menunjuk sekelompok mahasiswi yang memang sesekali melirik ke arah Naufal.

Dira menghela napas panjang, menutup agendanya dengan suara cukup keras untuk menutupi rasa malunya.

"Kalian ini berisik Banget. Sudah, mending kita urus jadwal simulasi buat besok pagi." Ucap dira.

Meskipun mulutnya berkata demikian, Dira tidak bisa membohongi dirinya sendiri.

Ada sesuatu yang berbeda pada diri Naufal, sesuatu yang membuat hatinya yang biasanya beku mulai sedikit mencair.

Sementara itu di tempat lain, Reno sudah menunggu dengan cengiran lebar yang menyebalkan.

"Gila kamu, Fal! Kak Dira diketawain sama teman-temannya gara-gara kaku. Kamu beneran jadi superstar di hari pertama nih!" Ucap Reno.

"Jangan dilebih-lebihkan, Ren. Aku cuma tanya soal tugas, nggak lebih," jawab Naufal sambil membereskan tasnya, mencoba tetap rendah hati meski hatinya terasa jauh lebih ringan.

"Halah, nanya tugas tapi muka Kak Dira merah begitu? Aku jamin, kamu sudah masuk radar incaran. Kamu beruntung banget, Fal. Kak Dira itu bidadarinya Teknik; pinter, tegas, dan nggak gampang dekat sama cowok. Eh, kamu malah dapet lampu hijau di hari pertama!" Timpal gerry dengan semangat yang meluap-luap.

Naufal hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah teman barunya itu.

"Sudah jangan nyerocos terus, ayo baris. Yang lain sudah pada kumpul, nanti kita malah kena hukum." Ucap naufal.

Mereka kembali ke barisan, mengikuti instruksi panitia dengan penuh semangat.

Namun, di tengah teriknya matahari Jakarta, Naufal sedikit lupa bahwa ada sebuah "badai" yang sedang menunggunya saat keluar dari gerbang kampus sore nanti.

sebuah badai dari Tante Amelia yang pasti tidak akan sehangat senyuman Kak Dira.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel