Bab 3: Godaan Nakal Amelia.
Dari arah dapur, Langkah kaki amelia yang anggun berjalan kembali ke ruang tamu.
setiap Langkah kakinya menciptakan irama yang mendebarkan, Seolah sudah siap untuk meruntuhkan pertahanan diri Naufal.
Saat Amelia sampai di depan meja kopi rendah yang berada tepat di hadapan Naufal, ia tidak langsung menyodorkan gelas itu.
Dengan gerakan yang diatur sedemikian presisi, ia sengaja membungkuk cukup rendah untuk meletakkan gelas tersebut.
Amelia membiarkan kerah dress rendahnya terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan belahan payudaranya yang putih, padat, dan berisi tepat di depan mata Naufal yang sedang duduk tegak.
Aroma tubuh Amelia yang harum, menyeruak memenuhi indra penciuman pemuda itu.
Harumnya begitu intim, seolah merayap masuk ke dalam pori-pori kulit Naufal dan membius logikanya.
Wajah Naufal memerah padam melihat belahan payudara tantebiparnyabutu.
Sebuah rona panas yang menyakitkan, seolah darah di seluruh tubuhnya mendidih dan naik ke kepala dalam satu hentakan.
Jantungnya berdegup tak keruan, memukul-mukul dinding rongga dadanya dengan keras hingga telinganya berdenging.
Ia segera membuang muka, mengalihkan pandangan ke lantai di bawahnya, berusaha mencari sesuatu untuk dilihat agar pikirannya tidak melantur.
Tangannya meremas kuat kain celana jinsnya sendiri di atas paha, kuku-kukunya memutih karena tekanan yang ekstrem, mencoba mencari sandaran fisik agar pertahanannya tidak runtuh saat itu juga di hadapan wanita yang seharusnya ia panggil Tante.
Amelia melirik reaksi tersebut dari sudut matanya yang tajam.
Ada binar kemenangan yang berkilat di sana, ia tahu mangsanya sudah mulai terjerat dalam jaring-jaring halus yang ia tebar dengan penuh perhitungan.
"Diminum, Fal. Jangan Sungkan," ucap Amelia dengan suara yang sengaja dibuat lembut, sedikit serak dan sarat akan nada menggoda yang provokatif.
Amelia kemudian mengambil posisi duduk di sofa tepat di seberang Naufal.
Tidak sekadar duduk, ia menata posisinya dengan sangat luwes.
Dengan gerakan perlahan yang seolah-olah tanpa sengaja, ia menyilangkan kakinya yang jenjang dan ramping.
Akibat gerakan itu, rok ketatnya secara otomatis terangkat naik hingga jauh di atas lutut, memamerkan paha mulusnya yang putih bersih.
Kulit pahanya tampak begitu kencang dan lembut, Sebuah godaan yang mustahil diabaikan oleh lelaki mana pun.
"I-iya, Tante. Terima kasih," sahut Naufal kikuk, suaranya terdengar pecah di ujung kalimat.
Tangannya gemetar hebat saat meraih gelas itu.
Ia berusaha keras menjaga agar tangannya tetap stabil, namun air di dalam gelas itu tetap bergoyang hebat, menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan bayangan wajahnya yang cemas dan penuh dosa.
"Lucu sekali... tangannya sampai gemetar begitu. Benar-benar pria yang menggemaskan," Amelia tertawa penuh kemenangan dalam hati.
Ia merasakan sebuah sensasi power yang luar biasa, ia sangat menikmati kekuasaan absolut yang ia miliki atas reaksi biologis tubuh Naufal yang begitu jujur.
"Jadi, kamu keterima di kampus mana, Fal?" tanya Amelia.
Ia mencoba mencairkan suasana namun tatapan matanya tetap tajam, intens, dan seolah memiliki sinar X yang ingin menelanjangi setiap jengkal tubuh atletis Naufal di balik pakaian sederhananya.
"Ke-keterima di Universitas Indonesia, Tante, ja-jalur beasiswa. Jurusan Teknik," jawab Naufal dengan suara yang masih sedikit parau.
Ia masih tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap mata Amelia, lebih memilih menatap butiran embun yang mulai menetes di luar gelas dinginnya.
"Wah, hebat ya. Teknik itu berat, lho. Butuh stamina yang kuat dan fokus yang tinggi. Ingat, kamu di sini tugas utamanya belajar. Harus fokus kuliah, apalagi kamu jalur beasiswa, jangan sampai terganggu dengan pacar-pacaran dengan gadis-gadis kota yang nakal dan penuh tipu daya.," ucap Amelia.
Ia memberikan penekanan yang sangat dalam dan bergetar, diiringi dengan sebuah senyum misterius yang sarat akan rencana terlarang.
Naufal hanya bisa mengangguk pelan, kerongkongannya terasa sangat kering meski ia baru saja minum.
Atmosfer di ruangan itu terasa semakin panas, seolah AC di rumah itu tidak lagi berfungsi bagi dirinya.
Amelia kemudian mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala, Ia mengikat rambutnya ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang indah dan ketiaknya yang mulus.
Gerakan itu secara otomatis membuat ia membusungkan dadanya ke depan dengan ekstrem, membuat bentuk payudaranya yang besar dan penuh semakin menonjol dan menantang secara provokatif di balik kain dress-nya yang ketat.
Secara refleks, sebagai seorang pemuda normal yang baru saja memasuki masa keemasan hormonnya, mata Naufal melirik ke arah dada tantenya yang membusung itu.
Dalam sekejap, hormon mudanya meledak, Sebuah sensasi panas yang amat sangat menjalar cepat dari perut bagian bawah ke organ intimnya.
Penisnya tiba-tiba menegang hebat, terasa begitu sesak, keras, dan mendesak di balik celana jinsnya yang tebal.
Panik luar biasa merayapi pikirannya saat ia menyadari perubahan fisik yang sangat menonjol dan memalukan itu.
Dengan gerakan panik yang sangat kikuk, Naufal segera menyambar bantal sofa di sampingnya.
Ia meletakkannya di atas pangkuan untuk menutupi ereksi yang sudah mencuat jelas dan keras itu.
Ia mendekap bantal itu seolah-olah itu adalah satu-satunya pelindung harga dirinya dari kehancuran.
Wajahnya menunduk dalam-dalam, rona merahnya kini tidak lagi hanya di pipi, tapi menjalar hingga ke telinga dan tengkuknya yang berkeringat.
Amelia tersenyum penuh kemenangan, Ia melihat pergerakan panik itu dan tahu persis gejolak apa yang sedang terjadi di balik bantal yang didekap erat oleh keponakannya itu.
"Baru digoda sedikit saja sudah ereksi sehebat itu... Dasar hormon muda, ternyata sangat responsif dan mudah sekali disulut. Aku jadi tak sabar untuk segera merusaknya," batin Amelia dengan perasaan kegirangan yang meluap-luap.
"Fal, nanti kamu ke kamar sendiri ya kalau sudah selesai minumnya. Kamarmu ada di lantai atas, paling pojok. Tante juga mau mandi dulu sekarang, badan Tante juga sudah lengket dan gerah," ucap Amelia sambil berdiri perlahan dengan gerakan yang sengaja diperlambat.
Sebelum benar-benar berbalik menuju tangga, Amelia memberikan kedipan tipis, sebuah isyarat seksual yang sangat berani dan terang-terangan yang hampir tidak terlihat jika saja Naufal tidak sedang memerhatikannya secara sembunyi-sembunyi dari balik poninya.
"I-iya, Tante," jawab Naufal dengan suara parau yang hampir tenggelam.
Begitu sosok Amelia yang menggoda itu menghilang dengan gemulai di balik tangga.
Naufal mengembuskan napas panjang yang sedari tadi seolah tersangkut di kerongkongan.
Ia merasa seperti baru saja lolos dari maut, namun di saat yang sama, ia merasa terjebak dalam sesuatu yang lebih berbahaya.
Tubuhnya bergetar halus. Ia segera bangkit, sambil menutupi bagian depannya yang masih ereksi dengan bantal sejenak untuk memastikan situasinya aman, lalu berlari pelan menuju kamarnya di lantai atas.
Begitu sampai di dalam kamar, ia menutup pintu dengan rapat, memutar kunci, dan menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu itu.
Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat.
Ia memegangi jantungnya yang masih berdegup kencang, berusaha keras menetralkan gejolak di bawah sana yang baru saja meledak untuk pertama kalinya dengan intensitas yang mengerikan hanya karena provokasi seorang wanita.
Naufal memejamkan mata, merasa sangat berdosa kepada Om Rizal, namun di saat yang sama, bayangan belahan dada dan paha mulus Amelia terus menari-nari di balik kelopak matanya, memicu rasa penasaran yang mulai meracuni setiap sudut akal sehatnya.
